Talkshow Buku: “Puncak Makrifat Jawa”

Abdullah Imam (WONG), alumni ICAS angkatan pertama, pegang MIke, sedang menjadi Pembicara dalam Talkshow Puncak Makrifat Jawa.

 Tasawuf bukanlah barang baru yang pernah dipelajari ataupun dikaji oleh para ulama Islam dari seluruh dunia. Buya Hamka misalnya, pernah menjelaskan bahwa tasawuf adalah sebuah tempat pulang, penguat, dan juga tempat berpijak bagi manusia, yang akan membawanya pada kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat.

Sejalan dengan pemikiran Buya Hamka, seorang ulama di tanah Jawa yang bernama Ki Ageng Suryomentaram pun pernah memperkenalkan ajaran yang serupa, yang dinamakannya sebagai “Kawruh Jiwo” ataupun “Kawruh Begja”.

Itulah sekelumit pembahasan buku “Puncak Makrifat Jawa” yang dilakukan semalam (5/12) di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta. Muhaji Fikriono, penulis buku ini, mencoba untuk menjelaskan secara panjang lebar kehidupan putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang juga merupakan murid dari Ahmad Dahlan ini.

Muhaji menjelaskan bahwa sebagai murid dari Kiai Haji Ahmad Dahlan, Ki Ageng Suryomentaram adalah seorang yang sangat rasional dan tidak terjebak dalam mistisme. Beliau bahkan termasuk dalam orang-orang yang memerangi TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Churofat).

“Pembicaran tentang tasawuf tak akan pernah berhenti, karena kita memiliki kegelisahan yang sama. Ketika kita mulai berpikir tentang jati diri kita, tentang siapa aku yang sesungguhnya, dari mana aku berasal, atau untuk apa aku di dunia,” tutur Candra Malik, tokoh sufi yang turut menjadi pembicara dalam Talk Show kali ini.

Candra Malik menjelaskan bahwa banyak orang yang menganggap bahwa asal kata mripat atau mata dalam bahasa Jawa, adalah makrifat. Dengan demikian, maka ajaran makrifat sesungguhnya berhubungan erat dengan peristiwa melihat. Ia memberikan contoh sederhana pada tubuh manusia sendiri. Meskipun manusia menganggap dirinya sebagai makhluk zahir, atau terlihat secara nyata, tapi sesungguhnya banyak hal dari tubuh kita yang tidak bisa dilihat secara nyata.

“Sebenarnya apa yang ada di tubuh kita, sebagian besar justru belum pernah kita llihat. Apa pernah kita melihat jantung kita sendiri? Atau paru-paru? Semuanya hanya bisa kita imani, karena sesungguhnya kita tidak pernah melhatnya secara langsung dengan mata kita sendiri.

Sementara itu, Fahd Jibran, seorang sastrawan Muhammadiyah mengajak para hadirin untuk berpikir kritis dan mempertanyakan kembali sejarah yang selama ini kita ketahui. Menurutnya, bisa jadi kita telah keliru memahami relasi antara Islam dan Jawa, apalagi Jawa yang begitu erat dengan kejawen, Hindu, ataupun animisme. Mungkinkah kita semua telah tergiring oleh apa yang diungkapkan oleh para sejarawan Barat, karena menurutnya, peran penjajah Belanda sangat erat dalam membentuk cara berpikir seperti itu.

Misalnya saja, Fahd yang pernah meneliti kebudayaan Jawa melalui persebaran candi pernah menemukan sesuatu yang menarik di makam yang dianggap sebagai makam Patih Gajahmada di Trowulan. Fahd berhasil membujuk untuk bisa masuk ke dalam area makam yang terutup dan tak boleh dimasuki oleh orang-orang itu. Di dalam makam itu, Fahd menemukan sesuatu yang menarik, yaitu ukiran huruf Arab yang membentuk lafaz Allah dan Muhammad dalam nisan itu.

“Poin saya, kalau kita melihat dari apa yang kita ketahui sekarang, maka kita akan menganggap bahwa sejarah Jawa begitu berantakan. Namun, jika kita menggugat para sejarawan sebelum ini, maka kita akan menemukan sesuatu yang menarik dari sana,” tuturnya.

Tertarik untuk mengetahui seperti apa kehidupan Ki Ageng Suryomentaram? Segera jadikan buku yang mengulik tokoh Islam nusantara ini sebagai koleksi Anda. [Tika/Mizan.com]

Sumber:http://www.mizan.com/news_det/talkshow-buku-puncak-makrifat-jawa.html