ICAS-Paramadina

Hadir Karena Potensi Calon Pemikir Islam di Indonesia Tak Terbatas

SENIN, 05 NOVEMBER 2012 17:27 WIB

LENSAINDONESIA.COM: Islam memiliki khazanah yang sangat tidak terbatas dalam bidang filsafat dan tasawuf. Karena itu dibutuhkan pendidikan yang dapat menjadikan dirinya sebagai pusat penelitian dan pengembangan filsafat Islam dan tasawuf. Indonesia memiliki potensi untuk itu, mengingat kekayaan khazanah tradisional lokal yang ada, serta potensi calon-calon pemikir Islam yang tidak terbatas.

Berangkat dari kesadaran itu, Islamic College for Advanced Studies (ICAS) yang  berdiri sejak tahun 1999 di London, Inggris, berupaya menyediakan pendidikan terpadu mengenai Islam dengan mempertajam pemikiran dan peradaban Islam berbasis filsafat Islam dan tasawuf, yang diperkuat komparasi pemikiran kontemporer.

Di Indonesia, sejak tahun 2002, ICAS menggandeng Universitas Paramadina membuka  dua program magister, yaitu Filsafat Islam dan Tasawuf. Pembukaan kedua program itu, berangkat dari realitas belum adanya lembaga di Indonesia yang spesifik pada bidang ilmu filsafat Islam dan tasawuf, yang merupakan pilar dasar keilmuan  peradaban dan tradisi Islam.

Guna memberi nilai tambah dalam membangun sebuah dialog seimbang antara peradaban Islam dan peradaban lainnya di dunia, ICAS berupaya membina dialog antara filsafat dan agama, filsafat dan sains, agama dan sains, filsafat dan tasawuf, atau tasawuf dan fiqh/syari’ah.

Dengan potensi yang ada, institusi ini akan menjadi salah satu institusi Pendidikan Islam yang dapat memberikan kontribusi terhadap peradaban dunia Islam secara internasional dalam masa sepuluh tahun ke depan. Visi ini diperkuat dukungan pemerintah (BAN-PT Depdiknas) dalam bentuk pemberian Akreditasi B pada tahun 2011 untuk kedua program studi tersebut.

Untuk mewujudkan visinya, ICAS memfasilitasi mahasiswa dengan program penelitian dan pengembeangan filsafat islam dan tasawuf yang komprehensif dengan di dukung teknologi informasi mutakhir. Juga kegiatan seminar dan konferensi dalam berbagai aspek berkaitan keagamaan, filsafat dan sains, serta pengembangan perpustakaan dengan digital library dan penerbitan yang berkaitan dengan bidang kajian filsafat dan tasawuf.

Di Indonesia, ICAS didukung oleh sejumlah pengajar dan guru besar yang cukup dikenal kapasitas dan pemikirannya. Antara lain, Profesor Komaruddin Hidayat, Haidar Baqir, Khalid al Walid, J Sudarminta, Abdul WM dan masih banyak lagi. Secara rutin,  ICAS-Paramadina juga menghadirkan dosen-dosen tamu dari luar negeri.

 12 0 0 12     Editor: khairul fahmi

http://www.lensaindonesia.com/2012/11/05/hadir-karena-potensi-calon-pemikir-islam-di-indonesia-tak-terbatas.html