KULIAH RAMADHAN XVII
Prof. Mulyadhi Kartanegara

Bab II: Fasal 8: KESATUAN WUJUD
(Bagian Pertama)

Bagi yang terbiasa dengan hanya penafsiran teologis, penafsiran sufistik tentang tauhid mungkin akan terasa aneh. Dalam bagian ini saya ingin mencoba sedikit menerangkan konsep yang tidak biasa ini. Konsep kesatuan wujud (Wahdat al-wujud) barangkali dapat memberi penjelasan yang lebih rinci tentang tauhid ala sufi ini.

Konsep kesatuan wujud ini sangat kompleks dan sulit ditangkap. Untunglah al-Syaikh al-akbar, Ibn ‘Arabi, penggagas konsep ini memberikan ilustrasi yang cukup jelas tentang hubungan antara Tuhan dan alam semesta dalam konsep kesatuan wujudnya. “Wajah itu satu, tapi kalau engkau perbanyak cermin, maka ia menjadi banyak.” “Wajah” di sini merujuk kepada Tuhan, sedangkan “cermin” merujuk pada alam. Jadi dalam khayal Ibn ‘Arabi hubunganTuhan dan alam adalah seperti hubungan wajah dengan cermin. Sedangkan berbagai makhluk yang ada di dalamnya tidak lain daripada bayang-bayang wajah yang sama dan satu tetapi terefleksi dalam banyak cermin sehingga mengesankan keanekaan.

Secara lebih teknis para pendukung wahdat al-wujud menyebut segala macam benda dan makhluk yang terdapat dalam alam semesta sebagai manifestasi (tajalliyat) Tuhan. Tuhan di sini bukan dalam arti esensi atau zat-Nya yang transenden, tetapi dalam arti sifat-sifat atau nama-nama-Nya yang indah. Hubungan antara nama-nama (sifat-sifat) Tuhan tersebut dengan makhluk-makhluk yang ada di jagad raya ini adalah seperti hubungan antara prototipe dengan penjelmaannya, atau ide-ide dengan realisasinya dalam bentuk-bentuk nyata. Nama-nama itu disebut “entitas-entitas yang mapan” (al-a’yan al-tsabitah) yang menemukan aktualisasinya dalam bentuk-bentuk yang beraneka dari makhluk-makhluk ciptaan-Nya, baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Jadi apapun yang kita temukan di alam ini tidak lain daripada manisfestasi sifat-sifat atau butir-butir ide dalam “pikiran” dan pengetahuan Tuhan, semacam ekspresi lahiriah sifat-sifat Tuhan, sehingga alam bisa disebut aspek lahiriah-Nya. Sedangkan sifat-sifat Tuhan sendiri merupakan aspek tersembunyi atau batiniah dari realitas yang sama. Itulah sebabnya al-Qur’an menyebut Tuhan sebagai yang Lahir (al-Zhahir) dan yang Batin (al-Bathin). Jadi yang Lahir dan yang Batin adalah Tuhan yang sama dan satu. Rumi menyebut alam sebagai penyamaran Tuhan dalam bentuk-bentuk lahiriyyah.

KULIAH RAMADHAN XVI
Prof. Mulyadhi Kartanegara

Bab II: Fasal 7: TAUHID SUFISTIK
(Bagian Kedua)

Tanpa mengetahui maksud dan latarbelakang munculnya pernyataan al-Hallaj di atas, salah paham terhadapnya sudah bisa dibayangkan. Dalam kenyataan sejarah, al-Hallaj telah membayar pernyataannya itu dengan nyawanya. Orang menuduhnya telah kafir karena pernyataannya itu, sedangkan ucapannya itu ditafsirk

an sebagai kesombongan yang tak terampunkan, karena ia telah mengadakan klaim ketuhanan. Ia telah mengaku dirinya sebagai Tuhan.

Tapi orang-orang yang mengerti apa arti kata yang sesungguhnya dari ungkapan tersebut, justeru akan melihat di dalamnya, sebuah ungkapan kerendahan hati (tawadhdhu’). Jalal al-Din Rumi (w. 1273), misalnya, menafsirkan pernyataan al-Hallaj tersebut dengan mengatakan: “Pernyataan aku Tuhan adalah pernyataan yang paling rendah hati, karena dalam hal ini al-Hallaj menafikan wujud dirinya yang nisbi di hadapan wujud Tuhan yang hakiki dan mutlak. Dalam pandangannya, hanya dia yang benar-benar wujud, dalam arti wujud yang hakiki, yang betul-betul ada, sedangkan wujud alam semesta ini adalah nisbi dan hanya merupakan bayang-bayang dari-Nya. Sebaliknya pernyataan “aku hamba” dan “Engkau tuan,” dipandang oleh Rumi sebagai ungkapan yanag justeru menyombongkan diri, karena dalam hal ini sang sufi telah mengafirmasi wujudnya yang nisbi sebagai yang berhadap-hadapan dengan wujud yang mutlak, padahal keberadaannya tidak berarti apa-apa di hadapan Wujud yang Mutlak tersebut.

Pendangan tauhid para sufi yang seperti ini telah melahirkan konsep-konsep wujud yang berbeda-beda, sekalipun jauh di lubuknya yang terdalam terdapat kesatuan pengertian, kalau saja kita bisa melepaskan diri kita dari perbedaan-perbedaan formalistik doktrin-doktrin tersebut. Dengan demikian maka doktrin sufi yang kita kenal sebagai “ittihad” (kesatuan mistik), di mana seorang manusia telah berhasil melalui perjalanannya yang panjang bersatu dengan Tuhannya, atau doktrin “al-hulul” di mana Tuhan digambarkan mengambil tempat dalam diri manusia, ataupun “wahdat al-wujud” di mana diyakini adanya identitas ontologis antara manusia dan Tuhan, pada dasarnya adalah sama.[]