KULIAH RAMADHAN XIX Prof. Mulyadhi Kartanegara...
Mulyadhi Kartanegara 10:42am Aug 4
KULIAH RAMADHAN XIX
Prof. Mulyadhi Kartanegara

Bab II: Fasal 9: TUHANNYA PARA SUFI
(Bagian Pertama)

Seperti halnya konsep wujud, konsep Tuhan para sufi khususnya yang hidup paska Ibn ‘Arabi (w. 1240)–juga akan terasa asing bagi telinga kita. Meskipun begitu, konsep Tuhan mereka mungkin bermanfaat untuk meluaskan cakrawala pemahaman kita, dan bahkan bisa menjadi pemersatu bagi konsep Tuhan para teolog (Mutakallimun) dan filosof Muslim (falasifah), yang kelihatan begitu bertolak belakang, seperti yang tercermin dalam kitab al-Ghazali (w. 1111), Tahafut al-Falasifah.

Para sufi falsafi melihat Tuhan dalam dua wajah. Tuhan sebagai zat atau esensi yang transenden dan Tuhan yang diekspresikan dalam sifat-sifat atau nama-nama-Nya. Tuhan sebagai zat amatlah tingginya. Ia tidak bisa dilukiskan bagaimana dan tidak ada pengetahuan positif apapun tentangnya, kecuali keberadaan-Nya. Apa yang dapat kita ketahui tenang-Nya adalah bahwa Ia tidak sama dengan apapun selain-Nya (laysa kamitslihi syai’) dan bahkan tiada yang setara dengan-Nya suatu apapun (walam yakun lahu kufuwwan ahad). Inilah yang oleh para filosof disebut teologi negatif, di mana manusia hanya mengetahui Tuhan secara negatif bahwa Ia berbeda dengan apapun yang dapat kita bayangkan.

Ini terjadi seperti itu, menurut para sufi–khususnya Ibn ‘Arabai dan para pengikutnya–karena dalam level ini Tuhan belum lagi menjadi entitas (ghayr muta’ayyan). Pada tingkat ini Tuhan bahkan belum lagi bersifat personal dan belum pula memiliki nama termasuk Allah sekalipun. Tuhan pada level ini belum mempunyai kaitan apapun dengan alam. Inilah yang dimaksud dengan ayat al-Qur’an yang mengatakan “inna Allaha ghaniyy ‘an al-‘alamin” yang artinya, “sesungguhnya Allah independen dari segala alam.” Pada tahap ini, maka Allah tidak memikirkan yang lain kecuali dirin-Nya sendiri.

Inilah wajah Tuhan pada tingkat esensi atau zat. Dalam hal ini, para sufi berbagi konsep dengan para filosof, tetapi para sufi juga meiliki konsep Tuhan pada level berikutnya, yaitu kevel sifat atau tahap “ta’ayyun” (proses menjadi entitas). Pada tahap ini, Tuhan tidak lagi sebagi zat yang tidak dapat didekati, tetapi sudah bersifat personal dan bisa dikenal secara lebih positif. Dia telah menyebut diri-Nya Allah dan nama-nama lainnya yang dikenal dengan sebutan al-asma’ al-husna atau “nama-nama yang indah.” Dengan kata lain, Ia telah memiliki identitas. Konsep Tuhan pada tahap inilah yang pada umumnya kita kenal, yaitu Tuhan yang memiliki sifat-sifat tertentu. Konsep Tuhan seperti inilah yang biasanya dipahami dalam wacana teologis, tetapi bukan Tuhannya pada filosof.