PUASA SEBAGAI SUMBER KEBAHAGIAAN

Oleh Haidar Bagir

Sumber: http://mizan.com/kolom-haidar-bagir/puasa-sebagai-sumber-kebahagiaan.html

 Pada penutup kolom minggu lalu, saya cuplik ajaran dari Al-Quran (QS Al-Baqarah: 5), yang di dalamnya Allah menjanjikan kebahagiaan hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Pada saat yang sama, Allah memfirmankan:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kami. Agar (puasa itu menjadikan) kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Jika kita jajarkan ayat-ayat tersebut di atas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa puasa dapat menjadi wahana kehidupan bahagia bagi kita. Hal ini diperkuat oleh beberapa hadis. Rasulullah Saw bersabda:

“Lakukanlah puasa karena dapat menimbulkan kerehatan dan menghilangkan kesulitan.”

Diriwayatkan juga melalui Imam Baqir, sebuah hadis yang menyatakan: “Puasa dan haji memberikan ketenangan hati.”

Sementara itu, Imam Ali kwh meriwayatkan:

“…dan karena itu, Allah memberikan penjagaan bagi kaum mukmin dengan shalat, zakat dan puasa di hari-hari yang difardhukan untuk itu, demi memberikan ketenangan pada penglihatan mereka, kekhusyukan hati mereka, dan kerendahan hati pada jiwa mereka …”

Kembali kepada “takwa”, kita dapati bahwa (berbeda dengan kata khasy-y atau khauf yang secara langsung berarti “takut”) kata ini bermakna kesadaran akan Allah Swt. Yakni, bahwa di mana pun kita berada, dan kapan pun, kita sadar bahwa Allah ada, bersama kita, dan mengerahui apa saja yang kita lakukan. Dengan demikian, orang yang bertakwa akan selalu berupaya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang dapat mendatangkan ridha-Nya dan, sebaliknya, menghindar dari berbuat buruk yang bisa mendatangkan ketidaksukaan-Nya.

Dengan kata lain, orang yang bertakwa adalah orang yang selalu “eling”, selalu ingat, selalu berada dalam zikir kepada Allah, ingatan tentang Allah.

Nah, orang-orang seperti inilah yang dirujuk oleh Allah ketika berfirman:

“Sesungguhnya hanya dengan zikir hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra’d: 28)

Makna ini akan muncul secara lebih tegas lagi jika kita pelajari firman Allah berikut ini:

“Dan mintalah pertolongan dengan shabr dan shalat … (QS Al-Baqarah: 153)

Sebagian ahli tafsir menerjemahkan kata shabr dalam ayat di atas bukan dengan “sabar”, melainkan dengan “berpuasa”. Selain lebih logis, melihat kaitan langsungnya dengan ibadah shalat, kata shabrmemang memiliki arti yang sama persis dengan kata shawm, yakni mengendalikan (diri). Dengan demikian, ayat di atas harus dipahami sebagai berikut:

“Dan mintalah pertolongan dengan puasa dan shalat …”

Berdasar firman Allah ini, kita segera dapat memahami makna hadis-hadis yang kita kutip di atas, yang di dalamnya Rasul Saw. menyebutkan puasa sebagai wahana kita untuk dapat terhindar dari kesulitan-kesulitan dan mendapatkan ketenangan hati. Memang, apalagi makna kebahagiaan hidup kecuali keterbebasan dari kesulitan dan kesengsaraan serta ketenangan hati?

Tinggal selanjutnya kita isi ibadah puasa dengan amal-amal yang memang untuknya ibadah puasa diadakan. Yakni amal-amal baik yang dapat mengaktualkan kasih sayang dan kelembutan hati, dalam bentuk akhlak-akhlak yang mulia, seperti kesabaran, kerendahhatian, empati kepada kesulitan orang, serta kedekatan kepada Tuhan sebagai sumber kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

Hanya dengan cara ini kita dapat benar-benar mengembangkan aspek keruhaniahan yang merupakan esensi kemanusiaan kita, dan mengendalikan nafsu badani yang dapat memasung aspek keruhaniahan kita itu. Inilah kiranya yang dimaksudkan dengan pemahaman bahwa puasa adalah wahana perjalanan spiritual kita kepada Allah. Yakni bahwa puasa mencakup tahap takhalliy (mengosongkan hati dari keburukan), tahalliy (menghias diri dengan kebaikan-kebaikan), menuju tajalliy (bersemayamnya Allah di dalam diri)—suatu keadaan di mana kita tak pernah berpisah dari Allah Swt. dan, sebagai gantinya, kita selalu ingat dan senantiasa bertakwa kepada-Nya. Sehingga, pada akhirnya, puasa kita benar-benar akan dapat memberikan kebahagiaan kepada kita, di dunia ini, lebih-lebih di kehidupan yang akan datang.

Mudah-mudahan Allah Swt. selalu memberikan pertolongan kepada kita untuk menjalani ibadah puasa tahun ini dengan “penuh keimanan dan kepasrahan (ihtisab) kepadanya agar, dengan demikian, kita dapat kembali menjadi manusia Rabbani berkat terhapusnya dosa-dosa kita. Dan semoga puasa kita akan dapat mengantar kita ke gerbang Al-Rayyan, pintu surga yang dijanjikannya hanya kepada orang-orang yang berpuasa. Taqbbal, Ya Karim.[]