Oleh: Dr. Haidar Bagir

Istilah maqâm (jamak: maqâmât), sebagaimana juga hâl (jamak: ahwâl), dipahami secara berbeda-beda oleh para sufi sendiri. Meskipun demikian, kesemuanya sepakat me­mahami maqâmât bermakna kedudukan seorang pe­jalan spiritual di hadapan Allah dan kedekatan dengan-Nya, yang diperoleh melalui laku tasawuf (suluk) dalam bentuk kerja keras dalam beribadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu (mujâhadah), dan latihan-latihan keruhani­an (riyâdhah), sedemikian sehingga ia mencapai kelu­huran budi-pekerti (âdâb) yang memampukannya untuk memiliki persyaratan-persyaratan mencapai kesempurnaan setinggi-tingginya.

Sedangkan hâl (jamak: ahwâl ) adalah suasana atau keadaan yang menyelimuti (baca : menguasai) kalbu, yang diciptakan (sebagai “hak prerogatif ”) Allah dalam hati manusia, tanpa sang sufi mampu menolak keadaan itu apabila datang, atau mem­pertahankannya apabila pergi. Dengan kata lain, maqam bersifat tetap dan stabil, sedangkan hâl bersifat temporer.

 Maqâmât adalah stasiun-stasiun yang (harus) dilewati oleh para pejalan spiritual sebelum bisa mencapai ujung per­ja­lan­­­an, baik itu disebut ma‘rifahridhâ, maupun mahab­bah (ke­cin­ta­an) kepada Allah Swt. Sedangkan hâl ada­lah ke­adaan-ke­adaan spiritual-sesaat yang dialami oleh para pejalan ini di tengah-tengah perjalanan ini. Umumnya Sufi melihat hâl- hâl tertentu sebagai dampak dari perolehan maqam-maqam tertentu yang berhubungan dengan itu. Dengan kata lain, suatu hâl yang dikaruniakan oleh Allah kepada seorang pejalan sufi adalah selaras dengan ketinggian maqâm yang dicapainya.

Namun, Ibn ‘Arabi memiliki pandangan yang berbeda. Pertama, menurut Syaikh Akbar ini, jumlah maqâm jauh lebih banyak dari yang biasa diungkapkan para Sufi pada umumnya. Dia menyebut bahwa maqâm berjumlah tak kurang dari 60. Lebih dari itu, Ibn ‘Arabi terkesan tak terlalu mementingkan sistematika maqmât, sebagaimana para Sufi pada umumnya. Demikian pula halnya dengan hâl. Menurut Ibn ‘Arabi, hâl adalah semacam tindakan (terpaan) dari Allah – sebagai bagian tajalliy-nya secara terus-menerus ke dalam ciptaan-ciptaannya. Maka, dalam konteks ini, hal adalah manifestasi (tanda, pengejawantahan) tajalliy Allah dalam diri seseorang.

Dalam pemahaman yang berbeda, masih menurut Ibn ‘Arabi, hal adalah suatu keadaan yang dapat dioperasikan oleh seseorang yang telah mencapai persyaratan tertentu untuk membawa terpaan itu “turun” ke dunia orang kebanyakan. Dalamhal ini, Ibn ‘Arabi masih merasa perlu mewanti-wanti bahwa kondisi hâl membawa risiko-risiko tersendiri. Yakni,  bahwa orang yang mendapatkan terpaan  (warid) seperti ini, tidak cukup kuat menanggungnya sehingga dampaknya bisa berupa ketidaksadaran (yang dapat mencetuskan syathâhat); atau malah dapat menimbulkan perasaan kesombongan jika ia dimanfaatkan untuk menunjukkan kemampuan-kemampuan supranatural (karamah) yang biasa mengikutinya. Orang-orang yang mendapatkan hâl seperti ini memang mengalami apa yang disebut sebagai semacam  fath atau mukâsyafah yang memungkinkannya membuka akses kepada alam malakut atau alam mitsal sehingga memampukannya melihat kejadian-kejadian yang terjadi di tempat yang jauh dari keberadaannya – dengan kata lain tak (pernah) dilihatnya – atau kejadian-kejadian yang belum terjadi, atau pun masalah-masalah lain yang gaib bagi orang kebanyakan. Bahkan Ibn ‘Arabi tak selalu melihat hal sebagai sesuatu yang positif. Menurutnya,karamah – yakni kemampuan untuk menembus hukum alam (khariq lil-‘adah) bisa saja dilakukan oleh orang-orang yang tak beriman, seperti tukang sihir dan sebagainya.Terkadang, pengalaman hal adalah pengelabuan (makar, makr) dari Allah untuk menguji seseorang. Adalah ketaatan kepada syari’ah, dan keberadaan seorang Syaik sebagai pembimbing, yang dapat menghindarkan seorang sufi dari mendapatkan risiko yang mungkin terjadi.

Meski keberadaan maqâmât dan ahwâl ini umumnya merupakan suatu kesepakatan di kalangan para sufi, ia tentu saja adalah hasil ijtihad mereka dan bukan merupakan suatu bagian dari kepastian-kepasti­an aturan Islam (qath‘iyyât ). Karena itu, bukan saja pe­ngertian ini tak dijumpai di kalangan di luar tasawuf, bahkan – seperti sudah disinggung di atas — para sufi sendiri berbeda-beda dalam perin­cian­nya, seperti akan disinggung di bawah.

Yang pasti, pengertian-pengertian ini diperkenalkan sebagai bagian penting dari disiplin tasawuf, yang de­ngannya tujuan perjalanan spiritual—baik itu pe­ma­haman tentang Allah, Keridhaan, maupun Cinta-Nya bisa dicapai secara lebih sistematis—dan dengan demi­kian, se­cara lebih “praktis” dan pasti. Ia merupakan ke­sim­­pulan yang ditarik oleh para sufi berdasarkan pema­haman mereka tentang konsep-konsep yang menyusun urut-urutan dan macam-macam maqâmât dan ahwâl dan atau berdasarkan pengalaman yang mereka jalani sendiri ketika menempuh jalan spiritual. Dengan demi­kian, boleh jadi tak semua pejalan spiritual harus meng­ikuti, menjalani, atau mengalami maqâmât dan ahwâl persis sebagaimana yang disebutkan oleh para sufi itu untuk dapat mencapai tujuan perjalanan spiritual. Yang pasti, dibutuhkan kualifikasi-kualifikasi spiritual yang terkait dengan keadaan hati dan ketinggian maqam untuk me­raih hâl itu. Dan semuanya itu diyakini menun­tut upaya keras dan bersungguh-sungguh dalam mela­wan hawa nafsu (mujâhadah), dan latihan-latihan ke­ru­­hanian (ri­yâdhah).

Al-Kalabadzi menyebutkan adanya 10 maqâm (sta­siun) yang (harus) dilalui oleh para pejalan spiritual sebagai berikut: al-taubah (taubat), al-zuhd (zuhud), al-shabr (sabar), al-faqr (kemiskinan), al-tawâdhu‘ (ke­rendahhatian), al-taqwâ (takwa), al-tawakkul (tawakal), al-ridhâ (rela), al-mahabbah (cinta)dan al-ma‘rifah (pengetahuan tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu).

Al-Ghazali, menyebutkan lebih sedikit stasiun sebagai berikut: al-taubah, al-shabr, al-faqr, al-tawakkul, al-mahabbah, al-ma‘rifah, dan al-ridhâ.

Ahli yang lain, terkadang menambahkan stasiun yang lain dalam urutan maqâmât, seperti al-wara‘ (kehati-hatian, untuk tak melanggar perintah Allah), dan seba­gainyaMeski demikian, apa yang disebutkan Al-Kalabadzi dan Al-Ghazali di atas kiranya cukup mewa­kili pemahaman umum para sufi tentang maqâmât ini.

Perbedaan jumlah dan urutan ini dapat terjadi karena perbedaan cara pemahaman sehubungan dengan istilah-istilah tertentu dalam rangkaian maqamat yang dirumuskan para sufi tersebut, atau perbedaan kondisi yang menyebabkan diperlukannya perbedaan program latihan yang berbeda.

Berkenaan dengan hâl, Abu Nashir Al-Thusi menye­butkan sembilan macam, sebagai berikut: al-murâ­qabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah), al-qurb (perasaan kedekatan kepada Tuhan), al-mahabbah’ (cinta kepada Tuhan), al-khauf wa al-rajâ’(pe­rasa­an harap-harap-cemas terhadap Allah), al-syauq (perasaan rindu), al-uns (perasaan bersahabat dengan Allah), al-thuma’nînah (perasaan tenteram), al-musyâ­hadah (perasaan menyaksikan Tuhan—dengan mata hati), dan al-yaqîn (perasaan yakin kepada-Nya).

Seperti dapat dilihat sebuah hal—dalam hal ini almahabbah—terkadang disebut oleh sebagian ahli sebagai termasukmaqâmât, tapi oleh yang lain dikelompokkan ke dalam ahwâl. Dan se­ba­liknya.  Tampaknya, lagi-lagi, ada persoalan dalam perbedaan pemahaman atas istilah-istilah yang dipakai yang berakibat pada perbedaan penempatan suatu keadaan ke dalam maqam atau hal.[Islam-Indonesia]