Pengajian Tasawuf 1: Kenapa Tasawuf?

Oleh: Haidar Bagir

 Sebagaimana filsafat, tasawuf memiliki dua aspek: as­pek teoretis (nazharî) dan aspek praktis (‘amalî). Aspek praktis tasawuf meliputi tata cara hubungan manusia terhadap dirinya sendiri, dunia, dan Tuhan. Dalam as­pek ini tasawuf memiliki berbagai persamaan—di sam­­­ping juga beberapa perbedaan—dengan akhlak (etika). Aspek praktis tasawuf ini disebut juga sair wa sulûk (per­­jalanan dan perlintasan) atau sulûksaja. Ia meliputi berbagai tahap (maqâm) dan keadaan kejiwaan (hâl).

Lalu, apa perbedaannya dengan etika? Tasawuf prak­tis—sebagai tasawuf—tidak pernah melepaskan perhatian pada hubungan manusia dengan Tuhan. Pem­bahasan tentang hubungan manusia dengan manusia lain dan dengan alam tak pernah lepas dari konsentrasi tasawuf dalam menyuburkan hubungan si manusia de­­ngan Tuhan. Selain itu, dan menurut saya ini adalah per­bedaan yang lebih esensial, berbeda dengan akhlak, tasawuf praktis bersifat dinamis. Ini terkait dengan ber­bagai tahap dan keadaan kejiwaan yang harus dilakoni dalam tahap demi tahap dan tingkat demi tingkat oleh setiap salik (penempuh sulûk). Dengan kata lain, tidak seperti akhlak, tasawuf praktis meliputi juga suatu disiplin yang ber­sifat dinamis, bukan saja disiplin dalam makna ketaat­an terhadap suatu aturan yang baku, tapi juga ketaatan terhadap suatu metode khas untuk men­ca­pai­nya.

Ke­simpulannya, akhlak berbeda sedikitnya dalam dua hal jika dibandingkan dengan tasawuf praktis. Per­tama, akhlak “hanya” praktis dan tidak mencakup teori atau ilmu ketuhanan dan, di sisi lain, ia bersifat statis. Mung­kin, jika dipandang dari segi tasawuf praktis, akhlak ada­lah hasil dari suatu proses—jalan atau disiplin—tasawuf.

Sedangkan tasawuf teoretis berkaitan dengan pe­ma­haman tentang wujud, yakni tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta. Di sini, sebagaimana dalam filsafat (ontologis) wujud dipahami qua wujud (sebagai wu­jud itu sendiri). Yakni wujud sebagaimana adanya dan bukan sekadar sebagai atribut bagi keberadaan segala sesuatu, Tuhan, manusia, dan alam semesta selebihnya.  Hanya, bedanya, filsafat mendasarkan argumentasinya pada prinsip-prinsip rasional, sedangkan tasawuf meng­-an­dalkan pada pencerahan intuitif (isyrâq, kasyf ) atau penga­laman (perasaan) spiritual (dzauq). Jika dikaitkan de­ngan penemuan mutakhir dalam riset mengenai otak, maka tasawuf bukan saja mengandalkan pada proses otak kanan, melainkan—melampaui proses yang ber­sifat serebral itu—ia mengandalkan pada hati (qalb atau fu’âd).

Adanya disiplin tertentu dalam tasawuf praktis dan pengandalan pada intuisi atau hati dalam epistemologi tasawuf teoretis tak lantas menjadikan tasawuf identik dengan hal-hal yang aneh-aneh. Disiplin dalam tasa­wuf praktis sebenarnya dapat disejajarkan dengan di­siplin yang diperlukan dalam ilmu apa pun. Dalam be­lajar matematika, misalnya, ada dalil-dalil dan aksio­ma-aksioma yang harus dipelajari secara bertahap dan sistematis sebelum seseorang bisa memecahkan prob­lem yang lebih rumit. Menamsilkannya dengan disiplin seorang atlet hebat, sebagaimana pernah dilakukan oleh pakar tasawuf dari Jerman, Annemarie Schimmel, kiranya lebih pas lagi. Karena kita tahu bahwa untuk menjadi peloncat tinggi atau pelari hebat, amat banyak dan keras langkah yang harus ditempuh oleh seorang atlet. Tak ada atlet yang langsung menjadi peloncat atau pelari hebat tanpa latihan yang keras dan rumit se­cara bertahun-tahun. Persis seperti itulah latihan-la­tihan spiritual yang diperlukan oleh orang-orang yang ber­ke­hen­dak meraih tataran yang tinggi dalam hal spi­ritualitas, dan akhlak.

Jika dirumuskan dengan lebih teliti, tasawuf per­caya bahwa untuk mencapai akhlak mulia sebagaimana dipromosikan oleh Islam, ketiga ranah pendidikan harus dilampaui—ranah kognitif (intelektual), afektif (emosi­onal), dan praktik. Karena besarnya gangguan nafsu—al-nafs al-ammârah bi al-sû’ (nafsu yang mendorong-dorong ke arah keburukan)—yang terus menggoda ma­­nusia, tak cukup sekadar kesadaran akan pentingnya berakhlak baik. Sentuhan emosional—sebagaimana, con­­tohnya, dilakukan dengan amat baik dan mengesankan oleh tokoh fenomenal Aa Gym—amat diperlukan.

Tapi, di atas semua itu, diperlukan juga suatu disiplin atau latihan (riyâdhah) yang keras agar kesadaran kognitif dan kegairahan emosional itu benar-benar bisa mela­hir­kan tingkah laku berkelanjutan yang sesuai dengan akhlak Islam. Apakah dengan cara-cara meniti maqâmât (ja­mak dari maqâm) dan ahwâl (jamak dari hâl) seperti diajarkan oleh kaum sufi, atau dengan cara yang lain; dan apa­kah kesemuanya ini harus dilakukan dalam ke­bersama­an atau sendiri-sendiri, semua ini kiranya me­rupa­kan suatu persoalan terpisah (yang akan dising­gung dalam bab lain di buku ini). Betapapun juga, inilah alasan bagi keperluan orang kepada tasawuf.[Islam-Indonesia]

Sumber : http://islam-indonesia.com/2012-05-03-08-07-53/2012-05-03-08-08-43/tasawwuf/423-pengajian-tasawuf-1-kenapa-tasawuf