My Story

Armahedi Mahzar (c)2010

Inilah riwayat pemikiran saya. Di masa SMA saya menemukan buku terjemahan Indonesia Tao Te Ching karangan Lao Tse di rumah kakek saya dan hati saya tergetar ketika membacanya. Padahal hati saya tak pernah tergetar ketika membaca terjemah ayat-ayat Quran. Saya pun gelisah, lalu saya tanyakan pada paman saya yang seorang sufi pelukis. Jawaban beliau cukup menenangkan saya. Kata beliau mungkin saja Lao Tse adalah salah seorang nabi untuk bangsanya. Belakangan ketika saya selesai kuliah di Bandung baru saya merasakan getaran hati yang sama pada terjemahan Quran dalam bahasa Inggris oleh Yusuf Ali yang kebetulan saya temukan di rumah paman saya tempat saya tinggal menjaganya selama beliau sekeluarga tugas belajar ke luar negeri.

Sementara itu selama kuliah sebelas tahun itu di jurusan Fisika ITB  , saya menganut pandangan positivisme di bidang sains, pandangan romantisisme di bidang seni dan fundamentalisme di bidang agama. Maka saya memandang kitab-kitab agama lain sebagai puisi-puisi yang indah dan memandang Islam sebagai dasar kehidupan manusia berlandaskan Quran dan Hadits lepas dari segala tradisi para ulama dan hukama Islam. Sedangkan sains adalah pencari kebenaran obyektif yang kemudian bisa dimaanfaatkan oleh teknologi. Bagi saya, pada waktu itu, seni sains dan agama adalah tiga urusan yang terpisah satu sama lain yang hanya bersatu secara kebetulan dalam satu pribadi manusia.

Belajar di AS: Ketemu Batunya

Nah, di tahun 1974, saya dapat kesempatan untuk belajar di University of Arizona  di Tucson Amerika Serikat. Sayangnya saya dimasukkan di jurusan Geologi di sana dan saya pun ketemu “batu”nya. Di tiga mata kuliah tentang batu: mineralogi (ilmu bagian batu), lithologi (ilmu batu) dan geologi struktural (ilmu formasi batu) saya hancur berantakan karena tidak mempunyai kemampuan diskrimasi visual yang cukup tajam untuk membedakan batu-batu tersebut. Maka saya pun pulang tanpa ijazah Master. Tapi bukan batu-batu di luar yang bikin saya gagal itu. Ada juga batu di dalam diri saya. Beginilah ceritanya.

Ketika saya ke Amerika itu, saya ingin belajar geofisika supaya saya bisa kerja dapat proyek di Pertamina dan bisa terus kaya. Sebenarnya jadi kaya itu bukan keinginan nurani saya. Keinginan terdalam saya adalah mencari kebenaran fundamental. Itulah sebabnya saya ambil jurusan fisika dan mengambil spesialisasi fisika teoritik. Namun, karena saya terbentur pada kenyataan bahwa jadi pegawai negeri itu sama saja jadi orang miskin, maka saya kepingin jadi kaya. Namun ketika saya berada di Amerika saya mendapat berita sedih dari Indonesia: Pertamina bangkrut sementara negara-negara penghasil lain diuntungkan karena Oil Boom di tahun 70-an. Maka semangat saya pun hancur berkeping-keping. Inilah yang jadi batu dalam diri saya.

Sementara gundah-gulana, saya masuk ke dalam perpusatakaan Oriental Studies, untuk mencari buku Iqbal “Reconstruction of Religious Thought in Islam”  yang asli, saya justru menemukan sebuah buku yang mencengangkan saya. Sebuah buku karangan Isutzu yang menerangkan kesejajaran filsafat mistik Islam Ibnu Arabi dan ajaran Tao Te Ching (Dao De King kalau pakai transliterasi kontemporer) saya jumpai di sana. Ini menjadi lebih mengejutkan karena, ketika sampai di Indonesia, saya melihat sebuah buku baru di toko Gramedia berjudul The Tao of Physics  karangan Fritjof Capra. Semua itu mengejutkan karena secara religius saya fundamentalis yang melarang mistisisme, sedangkan secara ilmiah saya seorang positivisme yang menganggap mistisisme sebagai nonsense. Ternyata Taoisme yang nonsense itulah yang menyatukan seni, agama dan sains, sekurang-kurangnya itulah yang terjadi di bawah kesadaran saya.

Kembali ke Indonesia: Mengajar dan Menulis

Dorongan bawah sadar itulah yang mendorong saya, sepulang di Indonesia, untuk mulai menulis bagi majalah Pustaka terbitan perpustakaan Masjid Salman ITB. Beberapa di antaranya adalah serangkaian tulisan yang saya sebut perjalanan strukturalis di mana saya menggunakan metoda analisis struktural, yang sebenarnya digunakan oleh antropolog Perancis Claude Levi-Strauss  untuk membedah mitologi suku-suku Indian Amerika Selatan primitif, untuk membedah pemikiran Barat modern. Saya tertarik pada metoda itu karena sang antropolog menemukan banyak segitiga yang tersusun sebagai prisma dalam mitos-mitos Indian tersebut. Padahal dalam fisika partikel ditemukan bahwa partikel terkecil bagian dari inti atom juga membentuk sebuah segitiga.

Satu hal yang membingungkan saya pada mulanya adalah mengapa ada Fakultas Seni Rupa di Instituk Teknologi Bandung yang mengajarkan sains dan teknologi. Dengan analisis struktural itu saya menyadari bahwa ketiga cabang ilmu itu dapat dipandang sebagai sebuah segitiga sains-teknologi-seni yang sejajar dengan segitiga filsafat logika-etika-estetika. Yang mengherankan saya adalah kenyataan bahwa ketiga segitiga itu sejajar pula dengan segitiga keilmuan Islam ilmu-ilmu kalam-fiqih-tasauf yang sejajar dengan segitiga fundamental Islam aqidah-syari’ah-thariqah. Dari sana saya berkesimpulan bahwa ilmu, filsafat dan agama merupakan sebuah kesatuan yang utuh tak terpisahkan. Kemudian saya menemukan prisma-prisma lain dimana selalu dapat disempurnakan menjadi sebuah keutuhan yang sempurna.

Ketika penerbit Pustaka menyarankan pada saya untuk mengumpulkan tulisan-tulisan itu menjadi sebuah buku, saya pun melakukan eksplorasi intelektual lebih lanjut. Sebagau akibatnya, saya pun menemukan bahwa prisma-prisma itu tersusun menjadi sebuah superprisma yang mempunyai substruktur matriks eksistensialisme 2X5 yang kemudian melalui logika penyempurnaan mendapatkan sebuah matriks integralitas 5×5 yang meliputi semua yang ada di alam semesta dan di luarnya. Struktur integralitas itulah yang kemudian menjadi penutup buku pertama saya dengan judulIntegralisme: sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam yang terbit pada tahun 1983. Judul itu, sebenarnya, dihadiahkan oleh kawan saya, almarhum Aldy Anwar, karena ketika memaparkan penemuan intelektual itu di hadapannya dia sering mendengarkan kata-kata “terpadu”, “integrasi” dan “integral.”

Satu hal yang belum saya tuliskan di buku itu adalah penemuan saya yang lain, melalui buku psikologi transpersonal karangan Ken Wilber, yaitu The Atman Project, bahwa secara esensial semua agama mempunyai struktur yang sama jika kita memasukkan dimensi esoterik kedalam agama-agama tersebut. Yang mengherankan, Ken Wilber tidak memasukkan sufisme Islam dalam matriks kejajarannya. Padahal saya melihat adanya kejajaran pandangan sufisme Islam dengan esoterisme agama-agama Timur itu. Pandangan ini, sebenarnya, adalah pandangan filsafat perenialisme yang dianut Ken Wilber. Pandangan ini juga lah yang saya sampaikan pada sejumlah kecil mahasiswa di masjid Salman.

Di luar Fisika: Mengajar Filsafat Ilmu

Buku saya itu merupakan kartu nama saya yang menyebabkan saya diundang ke berbagai seminar atau diskusi di berbagai pelosok di Jawa dan Sumatra. Hasil pertemuan-pertemuan itu akhirnya saya kumpulkan dalam dua buah buku yang jarak penerbitannya sangat lama. Sepuluh tahun setelah buku pertama saya, baru diterbitkan buku kedua saya: Islam Masa Depan. Buku yang ketiga terbit sebelas tahun setelah buku kedua, judulnya Revolusi Integralisme Islam . Dalam buku-buku itu saya mengajukan sebuah pandangan bahwa peradaban manusia sekarang bisa diselamatkan jika secara kolektif manusia mengikuti jalur perjalanan kaum mistikus dari berbagai penjuru dunia yang mencari kesatuan dengan realitas seutuhnya: realitas integral atau integralitas.

Setelah buku pertama saya terbit, saya mendapat tugas untuk mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu di ITB yang merupakan mata kuliah pilihan untuk mahasiswa tugas akhir. Karena mereka adalah calon-calon ilmuwan dan insinyur. Maka, saya ajukan fakta bahwa sains itu sekarang mengalami krisis internal/eksternal dan menghadapi kritik-kritik intelektual dari kalangan non-ilmuwan. Saya ajukan juga bahwa sekarang ada minoritas ilmuwan, misalnya Fritjof Capra, yang mengajukan paradigma holisme ekologistik menggantikan paradigma materialisme mekanistik. Dalam padangan ini sains/teknologi dan agama/budaya adalah sesuatu yang komplementer karena realitas adalah satu kesatuan material/immaterial yang tercermin dalam struktur ilmu eksperimen/teori. Ini mirip dengan kesatuan Yin dan Yang  dalam Taoisme.

Namun saya kritik epistemologi holistik itu, karena meninggalkan transendensi dan hirarki. Kritik itu pulalah yang disampaikan oleh Ken Wilber yang kemudian pada tahun 2000, ketika mengajukan neo-perenialisme yang disebutnya sebagai integralisme universal. Pada akhir kuliah saya sampaikan pandangan integralisme yang menyempurnakan pandangan holistik tersebut. Menurut kenyataannya sebuah teori meliputi pencarian hukum-hukum alam dan prinsip-prinsip alam yang mendasari hukum-hukum tersebut. Sementara itu eksperimen itu adalah kegiatan pencarian fakta ilmiah yang menggunakan instrumen-instrumen material. Maka struktur ilmu yang lebih halus adalah instrumen-eksperimentasi-hukum-prinsip yang bersesuaian dengan hirarki materi-energi-informasi-nilai. Dalam integralisme ada sumber dari nilai-nilai sebagai puncak hirarki. Maka di atas prinsip-prinsip alam ada sumber dari prinsip-prinsip itu yaitu Yang Maha Pencipta alam semesta.

Pasca pensiun: Mengajar Lagi

Nasib saya memang aneh. Pada suatu waktu, setelah pensiun, saya diundang oleh seorang dosen di  Universitas Pendidikan Indonesia Bandung untuk memberi mata kuliah psikologi transpersonal. Saya bilang aneh, karena ketika psikolog transpersonal Ken wilber justru meninggalkan komitmen sempit psikologi transpersonal menuju filsafat yang disebutnya Integralisme Universal, saya justru harus menajamkan filsafat integralisme ke disiplin sempit psikologi transpersonal. Namun ternyata tugas baru itu mengukuhkan integralisme bukan hanya sekedar paradigma sains yang islami, tapi juga merupakan paradigma peradaban yang universal.

Soalnya, dalam penyiapan kuliah psikologi transpersonal itu saya menemukan bahwa perkembangan psikologi modern di abad ke-20 mengikuti tangga kategori integralitas. Pada mulanya ada behaviorisme yang bersesuaian dengan materi, lalu ada psikodinamisme yang bersesuan dengan energi. Kemudian ada psikologi kognitif yang berkaitan dengan informasi. Selanjutnya ada psikologi humanistik yang berkaitan dengan nilai-nilai. Akhirnya muncul psikologi transpersonal yang berkaitan dengan kategori sumber yang dalam hal manusia, itu tak lain tak bukan dari pada ruh atau spirit atau sukma. Tampaknya kesejararan integralis antara psikologi sebagai raja ilmu-ilmu sosial dan fisika sebagai raja ilmu-ilmu kealaman.

Yang lebih mengherankan, saya menemukan bahwa kesejajaran alam psikhis dan alam fisik itu ternyata merupakan keyakinan semua agama-agama tradisional dalam dimensi esoterisnya. Esoterisme Islam dalah sufisme, dalam Kristen ada mistisisme dan dalam Yudaisme ada Kabalisme . Di India ada Yoga yang merupakan dimensi esoteris Hinduisme dan Budhisme dimana yang esoterik melebur dengan yang eksoterik. Di Cina esoterisme Taoisme melengkapi eksoterisme Konfusianisme. Di Jepang esoterisme Zen melengkapi eksoterisme agama Shinto. Tampaknya integralisme menemukan esensi struktural agama-agama besar dunia seperti yang ditemukan oleh filsuf-filsuf perenialisme.

Kesimpulan: Reintegralisasi Peradaban

Jadi, kalau saya simpulkan sekarang, tampaknya dalam rangka penanggulangan krisis global dewasa ini, baik yang ekologis maupun yang ekonomis, yang dihadapi dunia, tampaknya berbagai bangsa Asia, yang sedang bangkit melalui impor sains dan budaya Barat modern yang sekularistik itu, harus mengintegrasikan sains dan budaya itu kedalam tradisi peradaban mereka sendiri dengan cara meletakkannya kembali di atas fondasi spiritual peradaban tradisional mereka: agama. Hanya dengan demikian mereka dapat menghindari atau mengurangi dampak negatif global dari kemajuan dimensi material peradaban mereka, bukan memperparahnya. Benarkah demikian? Marilah kita lakukan hal itu dan biarlah sejarah yang membuktikan benar salahnya keputusan itu.

Itulah kisah hidup pemikiran saya yang intisarinya saya sampaikan dalam bahasa Inggris pada kuliah terakhir saya Philosophy of Science di Islamic College for Advanced Studies  di Jakarta sabtu lalu. Yang mengherankan saya kenapa setelah saya menyampaikan hal itu, para mahasiswa sama-sama bertepuk tangan. Mungkin mereka bergembira karena telah berakhirnya kuliah yang penuh dengan abstraksi ideal yang menyengsarakan mereka. Namun karena mereka adalah dari jurusan-jurusan Mysticism dan Philosophy, mudah-mudahan tepuk-tangan itu karena apa yang saya sampaikan ada mengena di hati mereka. Mudah-mudahan memang begitu dan mereka bisa mengembangkan integralisme ke dimensi-dimensi yang belum pernah saya sentuh. Insya Allah.