“Speed Reading vs Membaca “Ngemil”: Ihwal Membaca, Menafsirkan, dan Menakwilkan (2)
Oleh Hernowo
 Gara-gara gemar mengajarkan dan melatihkan kegiatan membaca “ngemil” atau membaca untuk merasakan, saya sering dianggap—khususnya oleh sebagian mahasiswa saya—sebagai orang yang anti-“speed reading”. Saya memang anti-“speed reading” apabila teknik membaca cepat tersebut kemudian diubah oleh sebagian penggunanya menjadi teknik membaca secara tergesa-gesa. Itulah yang kadang saya lihat dan rasakan ketika membaca dan memeriksa tugas-tugas para mahasiswa. Akhirnya teknik membaca cepat tersebut bukan mendatangkan manfaat dan malah, sebaliknya, mendatangkan mudarat.
Dalam buku Quantum Reading, saya menyajikan juga teknik membaca cepat. Saya menyajikannya dengan merujuk dan mengutip dari buku Quantum Learning. Saya tunjukkan dalam buku saya,Quantum Reading, itu bahwa membaca cepat (speed reading) adalah satu dari sekian teknik membaca yang layak dipelajari dan dilatih secara kontinu dan konsisten. Saya tekankan benar soal “dilatih” itu karena membaca cepat adalah teknik—bukan sekadar diketahui (dipahami) cara-caranya lantas tiba-tiba seseorang akan memiliki keterampilan dalam menerapkannya.
Salah satu bagian penting dari teknik membaca cepat adalah terkait fiksasi mata. Betapa pergerakan mata begitu penting dalam membaca secara cepat. Saya bahkan pernah belajar secara intensif lewat buku Pak Soedarso, Speed Reading. Saya pelajari dan latih teknik skimming dan scanning misalnya. Jadi, belajar dan—ini yang saya tekankan—berlatih teknik membaca cepat sungguh penting. Saya menjadi tidak setuju dengan teknik ini kalau kemudian si penerap teknik membaca cepat mengubahnya menjadi teknik membaca secara tergesa-gesa alias sekadar cepat selesai tanpa memahami materi yang dibaca.
Teknik membaca “ngemil” saya perkenalkan kepada para mahasiswa saya untuk melawan kecenderungan membaca secara tergesa-gesa. Teknik ini bisa disebut sebagai teknik membaca secara perlahan-lahan. Membaca “ngemil” memang membaca sembari merasakan deretan teks yang dibaca. Teknik ini saya persepsi sebagai teknik membaca ala memakan kacang goreng yang gurih. Ketika kita ingin menikmati kegurihan kacang goreng—yang ada di sebuah mangkok kecil—kita tidak memasukkan semua butiran kacang itu ke mulut kita, tetapi kita memakannnya butir demi butir (“ngemil”) sembari merasakan gurihnya. Demikianlah yang saya maksud dengan membaca secara perlahan-lahan atau membaca “ngemil”.
Saya mengajarkan dan melatihkan teknik membaca ”ngemil” karena tak semua teks (tulisan) dapat dibaca secara cepat. Ada teks yang perlu dicerna secara mendalam dan, bahkan, harus disertai pembacaan yang berulang-ulang. Ketika membaca berulang-ulang itu, bahkan, kadang saya menganjurkan untuk membaca secara keras (bersuara) sehingga kedua telinga lahir ikut menyimak. Apabila teks yang memerlukan pencernaan dan pengulangan itu dibaca secara cepat, efeknya akan sangat buruk. Si pembaca cepat bisa tidak mendapatkan apa-apa alias tidak dapat memahami secara mendekati sempurna akan apa yang dibacanya.
Yang lebih buruk lagi, bisa jadi, pemahamannya keliru. Pemahaman yang keliru akan menyesatkan pikiran. Apabila pikiran sudah tersesat, akan timbullah kekacauan dalam berpikir. Kekacauan berpikir adalah akan mempengaruhi kualitas sebuah tulisan—apabila seorang pembaca cepat kemudian melanjutkan kegiatannya dengan menulis. Nah, apa pengaruh membaca yang buruk (pikiran yang tersesat) terhadap sebuah kegiatan menulis? Pertama, kecermatan dan keakuratan menjadi tidak lagi terkendalikan secara prima. Padahal, salah satu manfaat menulis adalah melatih diri kita untuk cermat dan akurat—baik dalam menggunakan kata, merangkai kalimat, maupun dalam membuat penalaran.Kedua, kualitas tulisan menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan—tulisan menjadi hambar atau tak bermakna (hampa) meski ditulis dengan bahasa yang rapi dan sesuai dengan kaidah berbahasa. Danketiga, sesat-pikir akan membuat struktur tulisan menjadi tidak berbentuk alias kacau balau (berantakan).[]