RINGKASAN  FALSAFAH INDIA

by Prof. Dr. Abdul Hadi WM

I. SEJARAH

Persoalan penting yang dihadapi para pengkaji falsafahIndia, khususnya perkembangan falsafah Hindu, ialah bagaimana menjelaskan periode-periode perkembangannya. Sejarah falsafah Hindu berbeda dari sejarah falsafah Yunani atau Cina, yang babakan sejarahnya dapat dijelaskan lebih mudah disebabkan tersedianya sumber-sumber mengenai kronologi perkembangannya, termasuk riwayat hidup tokoh-tokohnya, secara rinci. Salah Satu sebabnya ialah banyaknya dokumen yang hilang, termasuk catatan tentang kehidupan tokoh-tokohnya. Kita hanya dapat membuat garis besar perkembangannya sebagai berikut:

  1. Babakan Veda, berlangsung pada tahun 1500 – 600 SM. Meskipun

kabur , namun dapat dikatakan bahwa babakan ini bermula semenjak orang-orang Arya tinggal di Indiadan mengembangkan kebudayaan dan tradisi keagamaannya dengan mantapnya. Babakan ini agak sukar disebut babakan pemikiran falsafah dalam arti yang sebenarnya. Alasannya karena agama, falsafah, sastra, legenda dan masalah-masalah lain seperti mitos dan adat istiadat bercampur baur dan saling dikaitkan satu dengan yang lain.  Pada babakan ini 4 Veda (Rg Veda, Yajur Veda, Sama Veda dan Atharva Veda), kitab Brahmana, Aranyaka dan Upanishad telah tersusun secara lengkap. Rg Veda merupakan sumber paling awal falsafah India, berisi nyanyian pujaan kepada dewa-dewa orang Arya yang kelihatannya merupakan penjelmaan dari kekuatan-kekuatan alam. Corak ketuhananya bersifat polytheistis. Ini berbeda dengan kandungan Upanishad yang mengajarkan faham monisme pantheistis (advaita).

Kitab Brahmana lebih merupakan dokumen keagamaan, khususnya tafsir

tentang upacara keagamaan dan makna dari upacara-upacara yang diselenggarakan, terutama upacara korban. Tetapi sekalipun tidak bercorak filosofis seperti Upanishad, uraian-uraian dalam kitab Brahmana merangsang bagi timbulnya renungan filosofis. Aranyaka mengajarkan praktek meditasi dan tapabarata, ditulis oleh ahli-ahli yoga. Sedangkan nyanyian-nyanyian dalam kitab itu ditulis oleh para penyair. Jika kitab Brahmana merupakan karya para pendeta dan merupakan pedoman bagi pemimpin upacara keagamaan, Upanishad ditulis oleh para spiritualis yang memiliki kecenderungan filosofis. Pada masa akhir periode in muncul aliran-aliran pemikiran yang menolak otoritas Veda sebagai sumber kearifan (darsana), yaitu Carvaka (materialisme), Jainisme dan Buddhisme. Kecuali Carvaka, Jainisme dan Buddhisme kemudian tumbuh menjadi agama tersendiri yang berbeda dari agama Hindu.

  1. Babakan Viracarita atau Epos, berlangsung sekitar tahun 500 hingga

200 SM.  Pada kurun ini perkembangan falsafah Indiaditandai dengan penyajian gagasan secara tidak langsung melalui karya sastra seperti fable dan viracarita (cerita kepahlawanan). Viracarita paling masyhur yang syarat dengan ajaran falsafah dan moral ialah Mahabharata karangan Rsi Vyasa dan Ramayana karangan Rsi Valmiki. Suburnya viracarita menandakan kian besarnya peranan golongan Ksatrya dalam masyarakat mendampingi peranan golongan Brahmana. Pada masa inilah Bhagavad Gita (Nyanyian Ketuhanan) muncul. Pada mulanya ia merupakan bagian dari kitab Mahabharata, namun kemudian dikembangkan menjadi renungan filosofis tersendiri dan dianggap sebagai salah satu kitab suci orang Hindu.  Aliran-aliran falsafah yang menolak otoritas Veda mencapai perumusan yang kitan mantap.

Aliran-aliran falsafah ortodoks India yang jumlahnya enam (Sad Darsana

Samgraha) seperti Nyaya, Vaishesika, Samkhya, Yoga, Purva Mimamsa dan Vedantara dirumuskan pada abad ke-4 dan 3 SM, disusul dengan penyusunan Bhagavad Gita sebagai kitab yang benar-benar terpisah dari Mahabharata. Pada babakan kedua ini falsafah berkembang dengan suburnya di India sebagaimana di Yunani, Cina dan Persia. Pada kurun ini mulai muncul aliran-aliran seperti materialisme, skeptisisme, naturalisme. Aliran-aliran ini berkembang bersama berkembangnya sistem-sistem heteredoks dari Buddhisme dan Jainisme.  Pada masa ini pula banyak sekali muncul kitab-kitab yang menguraikan masalah etika dan kemasyarakatan yang disebut Dharmasastra.

3. Babakan Sutra, berlangsung abad ke-2 – 12 M. Uraian mengenai berbagai mazab falsafah mulai disusun secara lebih sistematik dan giat diperdebatkan sehingga dari masing-masing mazab tumbuh aliran-aliran pemikiran yang lebh kecil yang merupakan cabang-cabang dari mazab besar. Tidak jarang terjadi sinthesa antara aliran yang satu dengan yang lain, mazab yang satu dengan nmazab yang lain. Pada umumnya uraian-uraian falsafah  ortodoks seperti Nyaya (realisme logis), Vaishesika (pluralisme ralistis), Samkhya (dualisme evolusioner), Yoya (disiplin meditasi), Purva Mimamsa (penelitian terhadap Veda secara interpretatif, khususnya berkenaan dengan amal perbuiatan) dan Vedanta (penelitian lebih mendalam tentang ajaran dalam kitab Veda) disajikan dalam bentuk sutra atau ungkapan-ungkapan ringkas (aforisme). Tidak jarang sutra juga berperan untuk mengingatkan pembaca pada rincian falsafah yang menjadi induk sebuah aliran. Karena dinyatakan dalam bentuk sutra, maka kitab-kitab falsafah itu perlu ditafsirkan secara hermeneutik. Masing-masing sistem falsafah ortodoks memiliki sutra yang berbeda. Pada abad ke-12 M falsafahIndia mengalami kemunduran.

  1. Babakan Kaum Terpelajar, berlangsung pada akhir abad ke-13 – 19 M.

Pada kurun ini kita temui kaum terpelajar yang giat menulis tafsir terhadap kitab sutra. Muncul para flosof besar seperti Sridharta, Ramanuja, Madhva, Sankara, Vacaspati, Udayana, Bhaskara, Jayanta, Kumarila Batta, Vijnanabhiksu, Taghunata dan lain-lain. Tiga aliran utama dari Vedanta dirumuskan oleh filosof besar seperti Samkara, Ramanuja dan Madhva. Pada masa ini Islam telah berkembang di India dan mengembangkan tradisi pemikiran tersendiri.

Pada abad ke-19 Inggris menguasai India dan menyebabkan tertanamnya pengaruh pemikiran Barat di kalangan sarjana dan kaum intelektual India. Pada akhir abad ke-19 muncul gerakan pembaruan pemikiran Hindu yang dianjurkan Brahma Samoj dan Arya Samoj, dua gerakan pembaru yang penting dan berpengaruh hingga abad ke-20. Dari gerakan iini lahir para filosof terkemuka abad ke-20 seperti Tagore, Sri Aurobindo, Svami Vivekananda, Radhakrishnan, A. K. Komaraswamy dan lain-lain. Pemikiran Islam juga mengalami pembaruan pada masa ini. Pemikiran pembaruan dalam Islam itu tampak dalam karya para filosof dan pemikir pembaru seperti Mir Damad, Sayyid Ahmad Khan, Muhammad Iqbal dan lain-lain.

II. SEMANGAT DAN KECENDERUNGAN

Pemikiran falsafah di India berkembang mengikuti arah perkembangan agama, Tidak seperti falsafah Yunani yang berkembang disebabkan pemikiran rasional dan adu argumentasi yang sengit, para filosof India mengembangkan tradisi falsafahnya dengan menafsirkan kitab suci. Tentu saja mereka mengenal bentuk-bentuk pemikiran rasional dan kegiatan adu argumentasi, sebagaimana diperlihatkan oleh falsafah Nyaya dan Vaishesika. Tetapi intuisi memainkan peranan penting dalam pencarian kebenaran.

Di India falsafah disebut darsana, artinya lebih kurang sama dengan sophia dalam bahasa Yunani atau al-hikmah dalam bahasa Islam, yang artinya lebih kurang adalah kearifan hidup.  Dilandasi kearifan bahwa kebenaran merupakan pancaran dari alam ketuhanan yang bersifat transendental, upaya akal budi dipandang tidak cukup untuk membangun sistem kearifan. Walaupun cenderung memusatkan perhatian pada kehidupan spiritual, tidak berarti bahwa falsafah merupakan sesuatu yang asing dari kehidupan praktis. Sebaliknya orang India yakin bahwa terdapat hubungan yang erat antara falsafah dan kehidupan praktis.  Menurut filosof-filosof India India, orang yang mengenal kebenaran dan mencapai kearifan akan membuat seseorang bahagia, tidak merasa asing dalam kehidupan, memiliki kebebasan dalam arti yang sebenarnya dan tidak mengalami kesukaran dalam menghadapi persoalan-persoalan. Jelas di sini bahwa falsafah dipandang bukan semata-mata sebagai kegiatan akademis, tetapi lebih sebagai kegiatan sehari-hari yang melibatkan semua kalangan dalam masyarakat.

Ciri lain yang membedakan falsafah India dari Yunani ialah metodenya. Dalam upayanya mencapai kebenaran para filosof India juga mengggunakan metode penyelidikan diri (instrospektif). Dengan cara pemeriksaan diri mereka berusaha menjawab persoalan apa hakikat kehidupan, apa hakikat ilmu pengetahuan dan apa arti keberadaan manusia dalam hidupnya yang singkat di dunia. Falsafah India mencoba dengan metode introspeksi merumuskan sistem kearifaan menyangkut  Tuhan, hubungan Tuhan dengan dunia, dan juga hubungan manusia dengan Tuhan serta sesamanya.

Karena menggunakan pendekatan yang berbeda, falsafah India mempunyai kecenderungan yang kuat terhadap idealisme. Ini nampak terutama pada faham advaita (monisme idealistis) seperti diajarkan Sankara. Di samping itu ada kecenderungan umum di kalangan filosof India, yaitu memadukan penalaran akliah dan intuitif. Tetapi di atas segala-galanya karena berpegang pada kitab yang diwahyukan (sruti) mencakup Veda, Kama-kanda, yaitu Samhita dan Bahmana (Tafsir atas Veda), dan Jnana-kanda yaitu Upanishad, maka falsafah selalu berkaitan erat dengan agama seperti halnya di Eropa pada Abad Pertengahan dan dalam tradisi Islam sejak abad ke-8 M hingga sekarang.

Dengan perkataan lain malahan dapat dikatakan bahwa falsafah berkembang sebagai tafsir yang beranekara ragam terhada Veda-sruti, Upanishad dan kitab suci lainnya. Dalam upaya menafsirkan kitab sruti dengan metode, pendekatan dan penekanan yang berbeda-beda itu, maka muncullah kecenderungan pemikiran yang berbeda-beda pula.

 

Dalam kenyataan semua sistem falsafah India sendiri selalu dimulai dengan mengemukakan persoalan berkenaan dengan segi-segi praktis dan tragis dari kehidupan manusia. Pemecahan problem diutamakan, sehingga falsafah dapat dijadikan pedoman untuk menjawab persoalan-persoalan kehidupan. Lagi pula tidaklah cukup mengetahui kebenaran apabila tidak bisa dihayati dan tidak dihidupkan.

Berdasarkan anggapan dan sikap ini, pemurnian moral merupakan tujuan utama falsafah India. Pemurnian moral dapat dicapai antara lain melalui pengendalian diri, renunsiasi, kedamaian jiwa, peningkatan iman dan moksa, yaitu pembebasan jiwa dari kungkungan kehidupan serba jasmani dan kebendaan.

Telah pula dikatakan bahwa dalam memahami realitas dan hakikat kehidupan, filosof India menggunakan metode penyelidikan diri. Di sini falsafah digambarkan sebagai atmavidya, pengetahuan tentang diri atau hakikat diri. Pemikiran falsafah memang bisa dimulai dari dunia luar, obyek-obyek di luar diri manusia, tetapi juga bisa dimulai dari dalam diri manusia, dari kehidupan subyektif batinnya. Tetapi ujung-ungnya kebenaran akan dapat disaksikan dalam diri. Karena itu tujuan falsafah bukan untuk mencari kebenaran obyektif semata-mata, tetapi terlebih-lebih kearifan dalam melihat hakikat diri serta pemahaman mendalam tentang kedudukan manusia di alam semesta, hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya.

Walaupun terdapat kecenderungan yang berbeda-beda dalam melihat hakikat kebenaran tertinggi, namun semua aliran falsafah India memiliki kecenderungan yang kuat terhadap monisme idealistik, yaitu faham bahwa hakikat segala sesuatu itu bermuara pada wujud tunggal yang meresapi alam dan kehidupan, namun sekaligus mengatasi segala sesuatu.  Doktrin falsafah yang berbeda-beda tidak dipertentengkan karena dianggap sebagai kepelbagaian ungkapan dari kebenaran yang sama, hanya saja penafsiran dan penyampaiannya yang beranekaragam.

Kaa-kata yang digunakan untuk falsafah di India ialah darsana. Kata-kata ini berasal dari akar kata drs, yang artinya melihat atau menyaksikan secara langsung melalui mata kalbu.  Penalaran akal dipandang tidak cukup karena pengetahuan yang diperoleh melaluinya bukan merupakan penyaksian langsung, melainkan melalui perantaraan logika yang dapat saja menjadi tirai penghalang bagi penyaksian terhadap kebenaran hakiki dan sejati.. Karena itu falsafah india memeri jalan bagi berkembangnya metode intuitif yang dapat dilakukan dengan meditasi dan samadi.

 

Kecenderungan

Pertama, ritualisme. Aliran ini berusaha memperdalam dan mempertajam ajaran Veda tentang upacara keagamaan. Ajaran ritualisme diambil terutama dari Kalpa Sutra dan sangat keras berpegang pada Veda. Tokoh-tokoh aliran falsafah ini banyak membicarakan aturan membaca sendiri kitab Veda (svadhyaaya). Mengaji kitab suci dipandang sebagai bentuk pengurbanan dan wujudnya yang tertinggi ialah tapas (disiplin diri). Untuk keperluan pelaksanaan tapas mereka mendirikan lembaga asramas, yang terdiri dari empat kelas atau jenjang pendidikan. Di lembaga ini kitab Veda dipelajari secara mendalam. Pemikiran ritualis tampak dalam sistem falsafah Purva Mimamsa, yang merupakan salah satu dari enam sistem falsafah ortodoks/klasik tepenting dalam falsafah India. Salah satu ajaran ritualis yang penting ialah ahimsa (anti kekerasan) dan sakalo-dharmah (kebajikan spiritual).

Kedua, absolutisme atau monisme. Perkembangan aliran pemikiran ini didasarkan faham monisme (advaita) Upanishad. Brahman, Dewa Tertnggi,  digambarkan sebagai satu-satunya realitas yang ada sebelum penciptaan alam semesta.  Brahman tanpa awal, tanpa akhir, tak dilahirkan dan kekal, tak pernah binasa, tak terpikirkan dan mustahil diketahui. Dalam proses penciptaan yang mula-mula muncul ialah mahat (intuisi intelektual, kecerdasan) dan manas (pikiran rasional). Setelah itu muncul unsur-unsur lain, halus dan kasar, tak tampak dan tampak.

Beberapa topik penting dalam aliran falsafah ini antara lain ialah : (1) Maya. Dunia benda adalah maya (bersifat khayali)  dan tidak punya tempat dalam penciptaan ; (2) Evolusi menempuh dua tahapan : mula-mula mengalir dari Brahman (Jiwa Tertinggi), dan ini melahirkan faktor-faktor alam, unsur-unsur fisik dan kejiwaan yang saling bercampur baur. Kedua, bergerak dari Prajapati, sang Pencipta, melahirkan benda-benda dan makhluq-makkhluq individual yang aneka ragam dan berbeda-beda ; (3) Penciptaan terjadi secara periodik.

Ketiga, theisme. Aliran ini mentransformasikan Brahman yang tanpa pribadi (impersonal) dan mutlak, menjadi Tuhan yang berpribadi, mendekati faham monotheistik. Brahman digambarkan sebagai Parama-devah (Tuhan Tertinggi). Dia mengawasi seluruh peristiwa di dunia penciptaan, pengatur dan pembinasa. Peranan Brahman dalam tradisi keagamaan India yang kemudian dipertukarkan pula dengan Syiwa dan Visynu. Nama Syiva  bersama Rudra, petapa di hutan yang menakutkan dan pemburu binatang, muncul mula-mula dalam Rig Veda. Di bagian lain di India diganti dengan pemujaan terhadap Visynu.

Keempat, heretisme. Faham ini menolak kewenangan Veda, Brahmana Purana dan Upanishad sebagai sumber asas dalam mencari kebenaran atau kearifan. Carvaka (materialisme), Jaina dan Buddhisme adalah faham-faham heretik India yang menonjol dan tetap berkembang hingga masa yang akhir ini.

Walau pun terdapat kecenderungan yang berbeda-beda dalam menafsirkan sumber otoritatif pemikiran falsafah, namun secara umum pemikiran falsafah ini menujukan pembahasan pada gagasan-gagasan atau konsep-konsep yang secara umum dikemukakan dalam kiab Veda, Brahamana dan Aranyaka Upanishad. Di antara persoalan-persoalan asas yang dibahas dalam hampir semua sstem falsafah India ialah:

  1. Masalah kekekalan jiwa (atman). Dalam beberapa aliran falsafah India,

atman sebagai jiwa individual dibedakan dari paramatman, yaitu Jiwa sejagat. Beberapa aliran lagi menolak kepercayaan terhadap jivatman (jiwa indvidual) dan melihatnya hanya sebagai bagian dari Paramatman.

  1. Faham materialisme  mengemukakan tentang  kekekalan materi atau

substansi asali. Aliran-aliran yang menolak faham materialisme juga membahas persoalan ini, masing-masing menggunakan metode dan cara penafsiran yang berbeda-beda. Aliran-aliran ini sepakat bahwa alam semesta dicipta oleh Brahman dari materi yang kacau tak beraturan. Walau pun segala sesuatu yang dibentuk dari materi bisa hancur dan rusak, namun materi itu sendiri sebagai substansi asali tetap kekal. Sekalipun demikian alam materi dianggap maya (khayali).

  1. Hampir semua sistem falsafah India meyakini bahwa jiwa hanya

mampu mengekspresikan kesadaran melalui pikiran atau sarana rohani lain. Apabila perbuatan atau keinginan atau     hasrat itu diwujudkan secara jasmani maka disebut manas. Jadi yang disebut manas ialah pikiran atau kesadaran yang terwujud dalam kehidupan nyata.

  1. Pada umumnya faham-faham falsafah India berpendapat bahwa

kehidupan merupakan lingkaran samsara.  Samsara timpul disebab bergabungnya roh dengan badan. Untuk mencapai kebahagiaan sejati harus dilakukan pembebasan (moksha). Sehingga roh terselamatkan dari cengkraman hasrat jasmani atau hawa nafsu, dan dengan demikian akan memperoleh kebahagian.

  1. Masalah sorga dan neraka.  Penempatan manusia dalam sorga atau

pun neraka  ditentukan  oleh karma atau amal perbuatannya.

  1. Di balik sorga dan neraka terdapat tahapan kehidupan yang disebut

Salokya. Salokya merupakan tempat Brahman. Adapun kedudukan seseorang di dalam tahapan Salokya ada beberapa macam: (a) Samipya, berada di dekat Brahman; (b) Surupya, menyerupai Brahman; (c) Sayyujya, persatuan penuh dengan Brahman. Yang terakhir ini kadang disebut nirvana atau nirguna. Orang yang mencapai tahapan ini akan hanyut dalam ketiadaan mutlak.

 

 

 

Monisme dan Theisme

Sebagaimana telah dijelaskan penafsiran yang berbeda terhadap Upanishad melahirkan pemikiran ketuhanan yang berbeda-beda, khususnya monisme dan theisme. Timbulnya penafsiran ke arah itu didasarkan keterangan Upadanishad yang mengatakan bahwa, ”Brahman-Atman tidak hanya keseluruhan yang tidak binasa, tetapi juga sebagai Tuhan dan raja atas segala hal, yang mengawasi segala sesuatu secara batin, bersemayam di dalam alam semesta, namun berbeda dari alam semesta.

Perkembangan ke arah theisme tampak pada munculnya pemakaian istilah ’deva’ sebagai Tuhan yang mengatur alam semesta dan Yang Maha Kuasa. Kecenderungan tersebut mencapai puncak dalam Svetasvatara Upanishad. Di situ ditampilkan nama-nama tuhan seperti Rudra  Siva, akhirnya Siva saja. Sankara, seorang pengasas falsafah monisme (advaita) yang terkemuka, menampilkan nama Isvara, yang kemudian ditukar menjadi Wishnu. Sedangkan nama Brahman dipakai olehnya untuk menyebut Paramatman yang belum turun ke tempat penciptaan.

Sebetulnya nama Siva berasal dari kepercayaan bangsa Dravida, penduduk yang mendahului bangsa Arya mendiami India. Dalam istiadat Dravida mula-mula pemujaan terhadap Siva terkait dengan pemujaan terhadap lingga (lambang phallus). Pemujaan lingga ini berlaku pada zaman Mohenjo Daro dan Harappa, lebih kurang 6000 tahun sebelum Masehi. Kemudian pemujaan serupa mengalami transformasi dan muncul dalam bentuk dongeng Veda. Dewa Siva dilukiskan sebagai seorang pemanah sakti yang menakutkan, tinggal di hutan dan gemar makan orang.

Yang paling akhir tokoh Siva muncul dalam viracarita (epos) orang Dravida, yang menggambarkan bahwa Siva adalah petapa agung, sekaligus dewa yang menyukai pemujaan terhadap phallus. Selamanya Siva tenang, menyendiri dan khusuk dalam tafakkur. Kekuatan lingganya yang luar biasa melahirkan banyak wujud.  Dalam dirinya pribadi lelaki dan wanita bersatu padu dalam dirinya. Sebagai  wanita ia adalah sakti, maya dan prakrti, yaitu daya cipta yang terdapat dalam alam benda. Sebagai lelaki ia adalahPurusha, jiwa semesta yang kekal dan abadi. Tetapi dalam Mahabharata, tidak jelas apakah Siva atau Wishnu yang dipandang sebagai Tuhan tertinggi. Wishnu atau Isvara dilukiskan menjelma sebagai Krishna. Apabila Siva tampil, maka kedudukan Wishnu merosot. Ketegangan dan persaingan antara dua dewa itu terus terjadi. Tetapi kemudian kedua pribadi dewa itu disatukan dalam figur Hari Hara. Hari adalah nama Wishnu dan Hara adalah nama Siva.

Siva juga dikenal sebagai Raja Penari dengan sebutan Siva Nataraja.  Keinginan untuk memadukan dewa bangsa Arya dan Dravida itu memunculkan gagasan Trimurti, yaitu gagasan Satu Tuhan dalam tiga rupa: Brahma, Wishnu dan Siva. Tetapi ternyata dalam perkembangannya tidak berhasil mendamaikan aliran yang berbeda-beda. Karena aliran yang memuja ketiga dewa ini mengembangkan sistem pemujaan yang berbeda-beda. Pada aliran Samkhya Yoga, Siva dilukiskan sebagai Tuhan yang senang memburu cintya dengan kecintaan dan jiwa harus memberi jawaban dengan menyerahkan diri sepenuhnya ke tangan Siva. Caranya ialah dengan melakukan Yoga. Ajaran tentang Yoga mencapai puncak di tangan Patanjali. Siva sebagai Tuhan tertinggi juga ditekankan dalam aliran Bhakti.

Gambaran tentang Wishnu  lebih rumit lagi, apalagi ia digambarkan sebagai dewa yang sering menjelma dalam diri manusia. Tujuannya ialah untuk melindungi orang-orang baik yang berperang melawan kejahatan. Di antara penjelmaannya ialah Krishna, Rama dan Buddha Gautama.

Sad Darsana Samgraha

Kitab Veda terakhir dan khususnya lagi Upanishad memberi ruang luas bagi timbulnya aneka aliran pemikiran. Seorang penulis Buddhis mengatakan bahwa tidak kurang 62 aliran falsafah yang berbeda-beda muncul dari penafsiran terhadap Upanishad. Pertentangan juga telah muncul sejak awal, khususnya antara faham ortodoks dan heterodoks. Tetapi perbedaan dan pertentangan tersebut tidaklah didasarkan atas permasalahan teologis, yaitu tentang keberadaan dan ketakberadaan Tuhan. Beberapa faham ortodoks ada yang monistik, ada yang pantheistik dan ada pula yang dualistik dan non-theistik. Pada awalnya 4 dari faham ortodoks itu non-thetistik, tetapi kemudian tinggal satu saja yang demikian.

Aliran ortodoks dalam falsafah India ada enam, lazim disebut Sad Darsana Samgraha, artinya  enam sistem kebijakan falsafah. Kata-kata darsana  diartikan sebagai kebijakan atau kearifan jiwa dalam memecahkan masalah atau hakikat segala sesuatu, khususnya  berkenaan denganTuhan, manusia dan alam semesta. Keenam sistem itu ialah: Nyaya, Vaishesika, Samkhya, Yoga, Purva Mimamsa dan Uttara Mimamsa. Falsafah Nyaya berpasangan dengan Vasihesika disebut Nyaya-Vaishesika; Samkhya berpasangan dengan Yoga, disebut Samkhya-Yoga; Uttara Mimamsa dan Uttara Mimamsa berpasangan dan disebut Vedanta (ajaran Veda yang terakhir).

Samkhya dikatakan merupakan sistem yang lahir paling awal. Mula faham teologinya dualis, tetapi kemudian dalam perkembangannya menempuh arah lain. Setelah berpasangan dengan aliran Yoga, ia cenderung menjadi monis. Sementara itu faham Nyaya dan Vaishesika bercorak dualis, sedang Vedanta bercorak non-dualis (advaita), alias monisme pantheistik. Darsana merupakan sistem atau ajaran falsafah spiritual berjenjang. Dalam mencapai kebenaran jenjang-jenjang itu dilukiskan sebagai berikut: (1) Dvaita (dualis); (2) Dvaita-dvaita (dualisme bersyarat); (3) Advaita (monisme idealistis). Ketiga jenjang itu dicapai sejalan dengan kematangan dan pencapaian pencari kebenaran dalam melaksanakan sadhana.

Dvaita memandang Paramatman dan Jivatman sebagai terpisah dan berbeda. Kedudukan jivatman  ialah sebagai hamba dan Paramatman  sebagai Gustinya. Pembebasan jiwa manusia (moksha) dilakukan melalui jalan bhakti (amal ibadah).

Dvaita-dvaita memandang bahwa antara seorang bhakta (pemuja) berbeda dengan Brahman atau Siva yang dipuja atau disembah. Tetapi apabila sang bhakta telah melaksanakan disiplin keruhanian yang ketat, pandangan hatinya akan berubah dan menyaksikan bahwa dirinya pada hakikatnya adalah Brahman atau Siva.

Advaita  menganggap Atman atau Jivatman  identik dengan Brahman. Ajaran ini sesuai bagi mereka yang dalam kehidupannya terdahulu  mencapai kehidupan spiritual yang tinggi. Jalan pembebasan advaitaialah jnana atau pengetahuan (makrifat).

 

Tiga Jalan Besar

Seluruh darsana itu menggariskan adanya tiga jalan besar yang dapat ditempuh seseorang dalam mencapai kebenaran tertinggi. Tiga jalan tersebut sekaligus menjadi persoalan falsafah dari aliran yang berbeda-beda. Jalan pertama dalam mencapai kebenaran, yaitu pembebasan dan kebahagiaan, ialah jalan karma. Yaitu memperbanyak perbuatan baik dan amal saleh. Jalan kedua ialah jalan yoga, dilakukan melalui amalan sadhana dan samadhi, yaitu meditasi, disiplin diri dan lain-lain berkenaan dengan aliran yoga. Jalan ketiga ialah jalan bhakti, sebagaimana telah diuraikan.

Karma arti harfiahnya ialah upacara kurban dan segala bentuk perbuatan berkenaan dengan hal tersebut. Mula-mula hal ini diuraikan dalam kitab Brahmana dan kemudian dikemukakan secara sistematis alam Kalpa Sutra. Dalam kitab yang terakhir ini karma diangkat menjadi semacam kewajiban dan amalan utama kehidupan. Dalam pengertian ini karma terdiri dari tiga hal: (1) Kawya, perbuatan yang diperbolehkan; (2) Pratisiddha, perbuatan yang dilarang dan apabila dilakukan akan mendatangkan dosa dan berakibat buruk bagi yang melakukan; (3) Nitya, perbuatan yang wajib dilakukan oleh setiap kasta menurut tatacaranya masing-masing. Dari karma-karma tersebut ada yang menghasilkan dharma (kebenaran) dan adharma (ketidakbenaran).

KITAB VEDA

 

Sumber utama falsafah India ialah kitab Veda, Brahmana, Upanishad dan Saivagama. Ketiga kitab ini mempunyai sejarah dan cirri tersendiri, serta dianggap sebagai kitab suci penganut agama Hindu.

Veda atau Samhita

Kitab Veda merupakan kitab suci orang Hindu dan sering pula disebut Samhita, artinya tembang atau nyanyian, karena isinya sebagian besar adalah sajak-sajak atau pujian kepada dewa-dewa yang dinyanyikan dalam berbagai upacara keagamaan. Veda berasal dari kata vid, mengetahui, maksudnya diturunkan sebagai pengetahuan. Pengetahuan yang dipaparkan ialah rahasia kehidupan dan cara mencapai kebenaran tertinggi. Kitab ini mulai disusun oleh para resi sekitar tahun 1500 SM, lebih seribu tahun setelah orang Arya mendiami negeri-negeri di sekitar lembah Indus atau Hindustan. Secara bertahap kitab Veda disempurnakan susunan dan bahasanya antara tahun 1000 s/d 600 SM.

Kitab ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing menjadi kitab tersendiri, walaupun satu dengan yang lain tidak terpisahkan:

  1. Rig Veda, berisi sajak-saak pujian kepada dewa-dewa Arya yang awal, seperti Varuna, Indra, Agni dan lain-lain.
  2. Yajur Veda, kumpulan doa-doa.
  3. Sama Veda, himpunan sajak-sajak yang dinyanyikan dalam berbagai upacara keagamaan.
  4. Atharva Veda, kumpulan mantra-mantra untuk keperluan umum dan keagamaan.

 

Yajur Veda disadur dari Rig Veda, berupa kumpulan doa yang dinyanyikan dalam

berbagai upacara kurban. Kitab ini terdiri dari dua bagian: Yajur Veda Hitam dan Yajur Veda Putih. Yang pertama lebih tua dan kurang sistematis, yang kedua lebih sistematis.

Atharva Veda berhubungan dengan keluarga mithis, yaitu Atharva yang mengemban kewajiban melaksanakan upacara pemujaan api suci, dan Angira, yang bertugas sebagai tukang sihir dan ahli jampi-jampi.

Rig Veda terdiri dari 1028 sukta (hymne) dan disusun dalam sepuluh kitab (mandala). Kitab ini ditulis oleh para resi terkemuka, di antaranya Ghosa, seorang resi perempuan. Komentar tambahan diberikan oleh Sayana pada abad ke-14 M. Rig Veda dianggap sebagai asal-usul teologi Veda.

Setiap mandala ditulis oleh maha resi dan resi yang berbeda-beda, sesuai bidangnya.

Cabang-cabang Veda

            Di bawah keempat Veda, ada empat kitab disebut Upaveda. Upa artinya bawah. Keempat Upaveda itu ialah: Ayur Veda, menguraikan obat-obatan dan pengobatan, beserta mantra-mantranya; Gandharva Veda, menguraikan musik, nyanyian dan tari-tarian; Dhanur Veda, menguraikan ilmu perang; Sthapatya Veda atau Syilpa Veda, menguraikan seni bangunan atau arsitektur.

Di bawah Upa Veda ada empat Vedangas, masing-masing: Syiksha, menguraikan fonetik atau tata bunyi kata; Chhanda, ilmu persajakan; Vyakarana, menguraikan tata bahasa, puncaknya ialah karya Panini; Nirukta, menguraikan perbendaharaan kata dan etimologi. Contoh terkenal ialah karya Yasha; Yyotisha, menguraikan astronomi, hari dan waktu mengadakan upara kurban; kalpa, menguraikan seluk-beluk penyelenggaraan upacara keagamaan, khususnya upacara kurban.

Kitab-kitab tersebut (Vda, Upa Veda dan Vedangas) disebut syruti (sastra suci), Syru artinya mendengar, artinya didengar  melalui proses pewahyuan atau pengilhaman oleh seorang Maharesi atau Resi yang melakukan samadhi atau meditasi. Pasangannya ialah smriti (sastra tradisional), mencakup buku-buku berisi tafsir terhadap Veda. Tafsir Veda atau smriti Veda dibedakan dalam dua kelompok: (1) Brahmana dan (2) Upanishad. Kitab Brahmana berisi uraian atau tafsir tentang upacara keagamaan; Upanishad berisi uraian falsafah ketuhanan dan agama. Jenis yang lain disebut Aranyaka, kitab yang dibaca di hutan sewaktu menyendiri.

Veda sebagai kitab banyak menguraikan masalah upacara kurban, dasar falsafah dan penyelenggaraannya. Dalam upacara kurban ada empat petugas: Brahmana, pendeta yang bertugas membacakan doa-doa; Hotri, orang yang melaksanakan upacara kurban; Richas, pendeta yang bertugas menyanyikan lagu-kagu pujaan kepada dewa yang diambil dari Sama Veda; Adhvaryu, pendeta yang membuat rumusan upacara kurban.

Setiap Veda memiliki Brahmana atau tafsir. Tafsir Rig Veda adalah Aitareya Brahmana dan Kaushitaki; Sama Veda, memiliki 8 tafsir, paling terkenal Chandogya; Yajur Veda, kitab tafsirnya untuk Yajur Veda hitam ialah Taittireya dan Yajur Veda Putih ialah Syatapatha. Atharva Veda memiliki 1 tafsir, yaitu Gopatha.

Kitab Brahmana sebagai tafsir terhadap Veda berisi penjelasan lebih rinci mengenai pokok-pokok ajaran Veda. Contoh terbaik ialah kitab tafsir yang disebut Syatapatha Brahmana (Tafsir Seratus Jalan Agama). Kitab ini menguraikan secara rinci seluk beluk penyelenggaraan atau tatacara kurban. Melalui kitab ini pembaca mengetahui dewa tertinggi yang dipuja dan merupakan tujuan upacara kurban ialah Prajapati, dewa pencipta. Sebagai pencipta Prajapati memiliki energi kreatif, yang ditunjukkan oleh-Nya dalam tindakan penciptaan. Dalam upacara energi kreatifnya ini harus diambil dengan memberikan sebelas kurban. Adapun kurban yang wajib disajikan ialah manusia, kuda, sapi, kelinci dan kambing jantan. Kurban manusia sudah lama ditinggalkan.

Dalam uraian mengenai Prajapati tampak jelas teologi yang dikembangkan bercorak monistis (serba esa). Misalnya diuraikan dalam Syatapatha Brahmana  3, IX:1 – 5.

Kini Prajapati, tuhan pencipta, telah mencipta mahluk hidup, merasa dirinya tercampak keluar. Mahluk-mahluk berpaling bersamanya; mahluk-mahluk tidak tinggal bersamanya untuk mencari kegembiraan dan makanan.

            Dia berpikir di dalam dirinya: Aku telah mengeluarkan diriku, dan obyek-obyek yang telah kucipta tidak menyertaiku; ciptaanku berpaling jauh dariku, mahluk-mahluk tidak tinggal bersamaku demi kegembiraan dan makananku.

            Prajapati berpikir di dalam dirinya: Bagaimana aku harus memperkuat diriku lagi; bagaimana mahluk-mahluk bisa kembali kepadaku; bisa tinggal bersamaku demi kegembiraan dan makananku.

            Dia berdoa dan berharap, menghasratkan mahluk-mahluk. Dia menyaksikan di depannya sesajian sebelas kurban tersedia.  Dengan sesajian itulah Prajapatui memperkuat dirinya; mahluk-mahluk kembali kepadanya, ciptaannya tinggal demi kegembiraan dan makanannya. Dengan sesajian dia menjadi benar-benar lebih baik.

 

Dalam Syatapatha Brahmana  2, I:3-16 dijelaskan bahwa baik dewa-dewa maupun asura (roh jahat) berasal dari Prajapati. Kedua kekuatan ini bertarung sama dengan lain untuk dapat menguasai langit. Asura membangun altar api yang disebut rauhina, artinya tempat untuk naik. Dengan membangun altar tinggi dia berpikir apat mencapai langit dan menguasai kerajaan langit. Salah seorang dewa, Indra, yang merupakan saingan asura, mengetahui bahwa altar tersebut sangat bagus dan dapat didaki dengan baik meuju langit. Dia berpikir, kalau tidak dihambat pasti para dewa kalah dalam pertarungan dengan para asura.  Kemudian Indra mengambil sebuah kepingan batu dari altar tersebut dan memindahkan ke tempat lain. Sesudah itu dia menjelma menjadi seorang Brahman. Ketika para asura hendak mendaki ke langit melalui altar api, Indra mendorong batu besar itu sehingga altar runtuh.  Sesudah itu dia merubah batu menjadi petir dan menjerat leher para asura.

Dalam Syatapatha Brahmana 1, II:1-8, dimunculkan Visnu sebagai dewa utama karena beberapa pertimbangan. Pertama, karena dia dianggap sebagai avatara (inkarnasi) dari Prajapati yang paling utama. Kedua, karena dalam lomba lari melawan para asura yang larinya kencang,, dia menjelma menjadi kijang sehingga dapat mengalahkan larinya para asura. Kecepatan Visnu dalam berlari dilukiskan seperti kecepatan api kurban, yang sanggup membesarkan diri dengan cepat. Dengan kecepatannya itu Visnu membuat rombongan dewa menjadi penguasa dunia.

Api kurban dalam kitab ini disamakan dengan ‘jiwa terdalam’; yang memiliki kekuatan mencapai keabadian dalam waktu cepat seperti dewa-dewa. Selanjutnya pemujaan api disamakan dengan tindakan menurunkan obyek-obyek langit ke bumi, sehingga menemukan tempat berdiam di tengah masyarakat manusia.

Spekulasi metafisika dan linguistik Hindu yang awal dapat dijumpai dalam kitab ini. Begitu doktrin samsara, muncul pertama dalam kitab ini. Doktrin ini kemungkinan besar diambil dari budaya local. Namun pengembangannya lebih lanjut dijumpai dalam Upanishad.

 

Upanishad

Sumber utama falsafah India kedua setelah Veda ialah Upanishad. Kitab ini mulai disusun sekitar tahun 800 SM dan mungkin selesai pada tahun 400 SM. Tidak kurang 112 naskah kitab ini djumpai dalam bahasa aslinya Sanskerta. Beberapa di antaranya digubah pada abad ke-15 M. Sesuai tekanan pembahasannya kitab ini dibagi ke dalam beberapa buku. Di antara upanishad-upanishad yang terkenal ialah Brhadanyaka Upanishad, Chandogya Upanishad, Mundaka Upanishad, Kalpa Upanishad, Prasna Upanishad, Isa Upanishad dan Svetasvatara Upanishad. Uraian paling panjang tentang spekulasi falsafah Veda terdapat dalam Brhadanyaka  dan Chandogya.

Apabila kitab Brahmana banyak menguraikan masalah upacara keagamaan, khususnya penyelenggaraan upacara kurban, Upanishad sepenuhnya berbicara masalah-masalah yang termasuk bidang falsafah spekulatif. Kitab Brahmana bersifat legalistis, seperti uraian dalam ilmu fiqih dan syariah; sedangkan Upanishad sebagaimana kitab-kitab tasawuf, bersifat filosofis puitik.

Secara etimologis kata Upanishad dibentuk dari kata ’upa’ (di bawah), ’ni’ (dekat) dan ‘shad’ (duduk). Dari bentukan kata-kata ini dapat diartikan sebagai duduk dekat guru untuk mendengarkan ajaran esoteric tentang kebenaran tertinggi. Ini dijelaskan misalnya dalam Prasna Upanishad: Awal mulanya ada enam orang murid menghadap guru mereka untuk menuntut pelajaran kerohanian. Lalu sang guru membeberkan rahasia terdalam ajaran Veda, sedangkan keenam muridnya duduk di dekatnya serta mendengarkan dengan khidmat pelajaran dari gurunya.

Karena lazim dibaca atau direnungi di hutan pada saat seseorang melakukan tapabrata atau menyendiri di hutan (vanaprastha), kitab ini juga disebut Aranyaka, artinya kitab renungan di hutan.  Sebagai sumber pemikiran falsafah, kitab ini menunjukkan beberapa perubahan dalam pemikiran falsafah di India, khususnya menyangkut masalah keagamaan dan ketuhanan, serta masalah eksistensi manusia. Sikap baru dalam ajaran ketuhanan tampak misalnya dalam Aitarya Upanishad II: 6. Apabila dalam Rig Veda yang awal digambarkan dewa-dewa yang banyak, maka dalam Aitarya dimunculkan gagasan tentang Hakikat yang tunggal dari alam semesta dan kehidupan. Dalam Aiterya II:6 dinyatakan:

“Siapakah dia yang kita renungi (samadhi) sebagai diri?  (Diri) yang dengannya seseorang melihat, yang dengannya seseorang mendengar, yang dengannya seseorang mencium (bebauan), yang dengannya seseorang mencetuskan perkataan, yang dengannya seseorang membedakan manis dan kecut, yang merupakan hati, dan pikiran, pencerapan indera, injuksi, pemahaman, pengetahuan, hikmah, penglihatan batin, pemikiran, penjelasannya, pertolongan, ingatan, ketetapan, keinginan, nafas, cinta dan kehendak yang kuat? Semua ini hanya nama-nama dari pengetahuan. Diri itu adalah Brahman, Indra, Prajapati, semua dewa, lima unsur kasar: bumi, udara  angkasa, air, cahaya; semua ini dan itu yang bercampur dengan yang kecil sebagaimana adanya, benih berbagai jenis makhluq,  yang lahir melalui indung telur, rahim ibu, yang muncul dari panas, dari germs, kuda, lembu, manusia, gajah dan semua yang bernafas, apa ia berjalan atau terbang dan juga yang kekal.”

Penulis Upanishad tidak diketahui dan mungkin para brahman, yaitu para pemimpin upacara keagamaan dan kurban, pendeta atau ulama yang menguasai ilmu tafsir. Masing-masing kitab dalam Upanishad merupakan tafsir terhadap masalah keagamaan dan ketuhanan yang berbeda-beda, yang muncul pada masa yang berbeda-beda pula. Di antara yang penting ialah:

Doktrin monisme pantheistis dalam Upanishad melahirkan pandangan monisme idealistis. Ajaran ini disebut Vedanta (Veda yang terakhir) karena dikembangkan dari Veda yang ditulis pada periode akhir, merupakan bagian terakhir dari Veda. Monisme pantheistis Upanishad mengajarkan bahwa hakikat segala sesuatu itu tunggal dan meliputi segala sesuatu (immanent, tasybih). Sekali pun demikian hakikat yang tunggal ini mengatasi segala sesuatu (transenden, tanzih). Sedangkan monisme idealistik diuraikan dalam Upanishad:

”Hanya Satu yang maujud tanpa yang kedua dan alam benda hanyalah maya (ilusi). Yang Tunggal itu ialah Brahman (Pencipta), sedangkan yang lain tidak nyata (neti-neti). Brahman adalah atman (diri, nafs, jiwa), Diri Tertinggi dan sekaligus ’diri khayali’, diri individual”.

GARIS BESAR AJARAN VEDA

DAN UPANISHAD

Garis umum ajaran Vedanta yang dalam Upanishad kurang lebih adalah  sebagai berikut:

Pertama, dalam Veda periode akhir pluralitas dewa semakin kurang mendapat perhatian. Dewa yang satu dengan yang lain tidak begitu dibeda-bedakan, karena hal tersebut dirasakan begitu membingungkan. Perkembangan baru muncul: dicari asas penyatu dan pemersatu alam semesta. Pribadi-pribadi dewa yang begitu banyak itu dianggap sebagai nama-nama untuk menyebut satu hakikat yang sama. Nama-nama diberikan untuk menyebut fungsi-fungsi kreatif yang dijalankan oleh masing-masing dewa.

Misalnya nama dewa Visvakarman, yang artinya Tuhan segala sesuatu; Prajapati, Tuhan segala ciptaan; Brahmanaspati atau Brahaspati, Tuhan Brahman atau Kekuatan Suci; Purusha, pribadi lelaki yang mati melalui upacara kurban untuk melahirkan jagat raya yang aneka ragam.

Kedua, setelah itu muncul persoalan mengenai dualisme Keberadaan dan ketidak-beradaan. Yang disebut ketidakberadaan ialah materi yang penuh kegelapan, serba kacau dan tak berbentuk. Keberadaan adalah sebaliknya, alam rohani yang terang benderang, teratur dan mempunyai bentuk.

Ketiga, dalam Rig Veda yang ditambahkan pada periode kemudian, terdapat tiga nyanyian (samhita) dalam fasal ke-10, yang memberi petunjuk adanya gambaran awal tentang monisme pantheistik, yang kelak dibahas panjang lebar dalam Upanishad.

Penulis fasal ini bertanya, “Siapa Tuhan yang harus kupuja dalam nyanyianku?” Dijawab, ”Pada awal mulanya adalah Benih Emas. Sesudah dilahirkan ia segera menjadi Tuhan yang satu, pencipta segala sesuatu.”

Tuhan dilukiskan lahir dari ketidakberadaan atau kegelapan. “Luapan air dahsyat muncul, mengandung dan melahirkan segala sesuatu sebagai Benih dan Api. Kemudian daripadanya muncul daya kehidupan Yang Satu, Benih Emas.” Benih Emas itu ialah Prajapati, Tuhan segala makhluq.

Prajapati sebagai Tuhan adalah transenden (tanzih). Dia memerintah berdasarkan hukum. Dia adalah roh imanen (tasybih), meliputi segala sesuatu dan merupakan inti kehidupan segala sesuatu. Ini dilukiskan dalam Rig Veda 10:129:

”Ketika itu belum ada Keberadaan atau pun Ketidakberadaan, belum ada langit atau pun cakrawala, atau segala sesuatu di atas keduanya. Apakah yang diliputi? Di mana? Dalam naungan siapa? Apakah air, yang dalam, yang tak terselami itu?

Sebermula adalah kegelapan yang terbungkus dalam kegelapan; semuanya ini tidak lain adalah air yang tak kelihatan. Apa pun itu, Yang Esa ini, yang mengada, yang tersembunyi, dalam kekosongan ini, diadakan oleh daya dari panas (tapas).

Sebermula adalah keinginan yang merupakan benih pertama dari budi menyelimutinya. Para bijak, yang mencari-cari dalam hati mereka, mendapatkan pertalian Keberadaan dalam Ketidakberadaan.

Tali mereka direntang kian kemari. Adakah sesuatu di atas atau di bawah?? Para pemberi benih ada di sana, ada juga daya-daya; di bawah ada svadha (energi) dan di atasnya kehendak hati.

Siapa yang benar-benar tahu? Siapa yang dapat menyatakan saat kelahiran ini, ketika penurunan (visrshthi) dimulai. Dengan penurunan ini para dewa kemudian memperoleh wujudnya. Siapa tahu kapan saat itu terjadi?

Kapan penurunan ini muncul, entahlah (apa Tuhan) menciptakannya atau tidak, hanya dia sang pengamat di surga tertinggi, yang tahu. (Hanya dia yang tahu) atau mungkin juga ia tidak tahu.”

Ini dapat dikaitkan dengan yang diuraikan dalam Upanishad. Dalam Upanishad  dilukiskan Prajapati melakukan penciptaan setelah melakukan tapabrata dan yoga yang keras. Di sini dikemukakan bahwa yang mendorong penciptaan adalah kekuatan yang disebut Kama (kehendak). Kama merupakan daya hidup yang berada di balik keadaan samsara yang dialami makhluq hidup. Dalam Atharva Veda, kama dinyatakan sebagai anak pertama dari penciptaan.

 Keempat, penciptaan dilukiskan sebagai tindakan pengurbanan diri dari Yang Maha Ada dan Yang Maha Awal. Tindakan itu dilakukan agar Yang Satu melahirkan kepelbagaian atau yang aneka ragam. Yang Maha Ada disebut Purusha. Dia adalah Ada yang maha tinggi, pribadi pasif dan inti jiwa manusia (atman). Dalam Purusha Sukta (Nyanyian Untuk Purusha), purusha dilukiskan sebagai raksasa pertama  yang merupakan model segala upacara kurban dan tujuan pengurbanan.

Doktrin tentang purusha diduga muncul dari upacara kurban manusia yang pernah dilakukan bangsa Arya, tetapi kemudian dihapuskan. Keterangan mengenai ini dapat dilihat dalam Rig Veda:

”Ketika para dewa melaksanakan upacara kurban dengan mempersembahkan Purusha sebagai kurbannya,  musim semi adalah mentega yang meleleh, musim panas adalah bahan bakarnya, musim gugur adalah sesajinya. Sang Kurban, Purusha, yang dilahirkan  pada awal mula ini, mereka sirami air di atas jerami, sungguh dialah yang dikurbankan oleh para dewa, para sadhya dan para resi”.

Dari kurban awal inilah konon segala sesuatu diciptakan. Dunia tidak lain adalah tubuh Manusia Pertama yang dipotong-potong,

Sebagai model kurban, Purusha identik dengan alam semesta, sekaligus melampaui alam semesta. Tuhan adalah satu, segala sesuatu dan meliputi segala sesuatu. Melalui keterangan ini tampak kencenderungan monisme pantheistis yang dimaksud.

Kelima, Purusha Sukta  memadukan dua unsur ajaran, yang kelak dikembangkan menjadi pemikiran utama dalam kitab Brahmana dan Upanishad. Dua unsur tersebut ialah: (a) Penciptaan merupakan hasil dari pengurbanan diri Purusha; (b) Alam Semesta sebagai jagat besar (macrocosmos) memiliki padanan dalam jagat kecil (microcosmos), yaitu manusia. Artnya, antara dunia dan manusia terdapat persamaan dalam keberadaan.

Keenam, dalam Rig Veda dan terutama dalam Atharva Veda, untuk menunjukkan pentingnya upacara kurban maka proses  terciptanya dunia selalu diidentikkan dengan jalannya pengurbanan. Dengan demikian peranan pemimpin upacara kurban, yaitu Brahmana,  sangat penting. Upacara kurban dipandang sebagai tindakan suci dan setiap tindakan suci identik dengan keseluruhan yang terdapat di alam raya. Dalam kitab Purusha Sukta diuraikan bahwa segala sesuatu yang terdapat di alam semesta, termasuk jiwa, pikiran dan materi identik dengan bagian dalam diri binatang suci yang dikurbankan. Dari perkembangan ini muncul pemakaian istilah Brahman, yang menjadi konsep kunci dalam falsafah Veda.

Kata brahman, brahma dan brahmana sering diperdebatkan asal usulnya. Ada yang menghubungkan dengan kata brhat (besar, luas), Pendapat ini dianggap tidak sesuai dengan arti utama perkataan tersebut, yaitu ’sabda suci’ atau ’rumusan suci’. Yang lain mengatakan bahwa kata Brahma atau Brahman berasal dari kata brhman (ucapan suci) dan brahmn (dia yang memperoleh kuasa dari ucapan suci).

Brahman bisa berupa dunia dan bisa juga berupa manusia. Karena itu nama Brahma kemudian dikenakan kepada Dewa Pencipta, karena Dialah pemilik tertinggi ucapan suci dan sekaligus memperoleh kuasa untuk menciptakan segala sesuatu, melalui pengurbanan tentu saja. Kata brahmana juga dikenakan kepada kasta tertinggi dalam masyarakat Hindu, yaitu para pemimpin yang berwenang atas ucapan suci dan memimpin upacara keagamaan. Kata brahmana juga dikenakan pada teks-teks suci tentang upacara kurban dalam kitab Veda. Brahman juga diartikan sebagai kekuatan suci yang dimiliki Tuhan dan terdapat dalam jiwa manusia.

Ketujuh, sejak masa akhir Veda ini maka istilah Brahman dan Atman menjadi konsep kunci dalam falsafah Veda, melengkapi konsep Purusha. Atman sering diartikan sebai jiwa individual, sedang brahman diartikan sebagai jiwa alam semesta. Kadang kedua kata tersebut saling dipertukarkan. Kadang juga kata Atman dipakai untuk menyebut jiwa segala sesuatu.

Kata Brahman, Atman dan Purusha sering pula digunakan untuk  menyebut dua hal yang sama, yaitu ’Hakikat jiwa manusia’. Keberadaan ketiganya  di luar waktu, karena itu ia kekal dan merupakan sumber segala perubahan. Ini misalnya dikemukakan dalam Chandogya Upanishad 3:14: ”Kedirianku ini, yang ada dalam hati, adalah Brahman. Kalau aku bertolak dari sini, aku malah memasukinya.”

Munculnya konsep Brahman sebagai Pencipta, dan konsep atman dan Purusha, merupakan hal yang baru dari perkembangan idea-dea ketuhanan. Bahkan dikatakan sebagai penemuan besar yang dijumpai dalam Upanishad. Begitu pula penyamaan Atman dan Brahman, yaitu penyamaan jiwa individual (atman) dengan asas jagat raya (Brahman). Dalam Chandogya Upanishad  3:14 juga dikatakan, ”Orang harus memuja Brahman sebagai Yang Haqq…Orang harus memuja Sang Diri (atman) yang memuat budi (buddhi), yang tubuhnya adalah nafas, yang wujudnya adalah cahaya, yang kediriannya adalah ruang angkasa, yang merubah wujudnya sesuai dengan kehendak, yang pikirannya cepat, yang pemahamannya benar…”

Upanishad lebih jauh menggambarkan Brahman sebagai makanan, dan nafas sebagai alam semesta. Ini kedengaran aneh di telinga orang modern, tetapi  bukannya tanpa alasan.   Dalam Taittiriya Upanishad misalnya dinyatakan bahwa unsur dasar kehidupan ialah makanan dan makanan merupakan materi hidup. Dalam Kaushitaki Upanishad disebutkan bahwa nafaslah yang merupakan unsur kehidupan. Dari kenyataan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa bagi penulis Upanishad materi merupakan unsur asas pertama dari kehidupan dan karenanya identik dengan Brahman; sedangkan roh merupakan unsur asas kedua.

Kalau diringkas demikianlah logikanya: (a) Brahman adalah makanan sebab makhluq-makhluq fana dilahirkan dari makanan.  Makanan merupakan materi hidup dan asas kehidupan itu sendiri; (b) Kehidupan menampakkan diri dalam nafas, dan nafas tergantung pada makanan. Karena itu makhluq bernafas tergantung pada makanan; (c) Kehidupan kemudian tergantung pada manas (pemikiran diskursif), vijnana (kesadaran batin) dan buddhi (akal yang dapat membeda-bedakan sesuatu); (d). Pada manas tergantung ananda (kebahagiaan); (e) Kebahagiaan adalah jalan pencerahan rohani.

Ketujuh, hubungan atman dengan dunia kebendaan, bersifat sementara. Seperti atman, hidup manusia tak mengenal awal dan awal, selalu berputar dalam roda samsara atau perputaran tanpa henti yang menimbulkan penderitaan. Karena merupakan perputaran tanpa awal dan tanpa akhir, maka kehidupan merupakan beban yang menakutkan dan inilah yang menjadi sumber derita

Ada konsep lain sebagai pasangan samsara, yaitu karma, yang diartikan sebagai perbuatan atau akibat dari perbuatan. Karma merupakan salah satu sumber utama penderitaan. Karma adalah perbuatan masa lalu yang menentukan kehidupan masa depan.

Beberapa Konsep Kunci

            Sebagai tambahan akan dijelaskan beberapa konsep kunci atau istilah-istilah penting dalam falsafah India. Konsep-konsep kunci itu antara lain ialah samsara, moksha, dharma, Purusha, prakrti dan lain-lain.

1. Samsara adalah perpanjangan hidup tanpa akhir. Dalam Maitri Upanishad, hidup itu sendiri disebut sebagai kejahatan. Untuk itu yang dicari manusia ialah pembebasan (moksha) dari samsara, melalui karma yang baik. Memang kehidupan itu mesti dicintai dan dipertahankan, walaupun ia merupakan kejahatan. Tetapi ia dicintai dan dipertahankan agar keberadaannya ditundukkan oleh kemampuan dan tujuan yang lebih tinggi. Caranya dengan menggunakan akal budi dan mawas diri.

Akal harus dilebur dan diangkat sehingga mencapai taraf pandangan murni dan dengan demikian menyaksikan Yang Satu – Diri yang nyata dan Ada yang benar. Ini dirumuskan dalam rangkaian kata: SAD-CIT-ANANDA atau ADA, KESADARAN & KEBAHAGIAAN.

Rumus Sad-Cit-Ananda disebut hubungan segi tiga yang mengatasi hubungan segi tiga KAMA, ARTHA & DHARMA (Nafsu/Kenikmatan, Kekayaan dan  Upaya Mencari Kebenaran).

Manusia hidup di dunia ini diikat oleh dharma. Moksha dapat membebaskan manusia dari ikatan dengan dharma dan adharma (kebenaran dan ketidakbenaran). Masalah ini dibicarakan dalam kitab Bhagavad Gita.

            Tujuan moksha: Arti kata moksha secara harfiah ialah pembebasan, kelepasan, kebebasan dan pelepasan. Tindakan moksha digambarkan seperti ular yang dibebaskan (vimukta) dari kulitnya. Juga dilukiskan sebagai ’anak panah atman yang dilepaskan dari busurnya’. ”Anak panah atman’ ialah kata-kata OM. Ia dilepaskan menuju sasarannya, yaitu Brahman (Mundaka Upanishad II, 2:4).

Tetapi dalam ajaran Advaita (monisme) Vedanta dan Samkhya Yoga, moksha diartikan sebagai pemencilan jiwa secara menyeluruh dari keberadaan, masuk sepenuhnya kedalam dirinya sendiri, kembali ke keabadian sebagai yang mutlak dalam dirinya.

2. Doktrin Purusha terdapat terutama dalam Upanishad. Doktrin ini dijadikan sumber pemikiran falsafah ketuhanan dalam beberapa madhab pemikiran India pasca Veda, khususnya dalam aliran Samkhya (Kebijakan akhir). Dalam Samkhya membagi keberadaan dalam 25 kategori.  Dari 25 kategori itu 24 di antaranya merupakan perkembangan prakrti (artinya ’alam’, ’yang terkena hukum perubahan dan pergantian’). Kategori ke-25 adalah purusha, pribadi yang tak bisa hansur oleh perubahan, kekal, tak terkenan perubahan dan kesementaraan.

Istilah purusha  digunakan dalam falsafah Samkhya, tetapi maknanya agak berbeda   dengan istilah yang sama yang digunakan dalam Rig  Veda dan Upanishad.

24 kategori itu ialah: (a) Alam; (b) Mahat, yang agung, disebut juga buddhi, yang mengatur informasi yang diterima dari indera. Buddhi (budi) disebut juga sebagai common sense, akal sehat; (c) Lima organ indera – 5 kategori; (d) Lima organ motoris atau penggerak tubuh: alat bicara, tangan, kaki, alat pelepasan dan alat perkembangan tubuh – semuanya 5 kategori; (e) Lima unsur halus sebagai padanan panca indera, yaitu obyek penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan pencecapan; (f) Lima unsur halus yang berasal dari lima unsur halus, yaitu ‘ruang’ yang berasal dari penglihatan, ‘api’ dari penglihatan, ‘udara’ dari perabaan, ‘air’ dari pencecapan dan ‘tanah’ dari penciuman – semuanya 5 kategori. Mahat muncul langsung dari alam; (g) Ahamkara, prinsip ego dari mahat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Garis besar pemikiran falsafah yang digambarkan di atas memunculkan aliran-aliran berbeda, khususnya antara faham materialis dan spiritualis, monisme (advaita) dan dualisme (dvaita).

KITAB VEDA

 

            Tradisi pemikiran falsafah di India, sebagaimana telah dikemukakan,  berakar lama dalam sejarah bangsa India dan merupakan perpaduan  antara tradisi pemikiran orang Arya dan Dravidia. Seperti di tempat lain, watak dan kecenderungan umum yang berkembang di dalamnya banyak dipengaruhi oleh sumber-sumber dan upaya menafsirkan sumber-sumber tersebut.. Sumber utama falsafah India ialah kitab Veda, Brahmana, Upanishad dan Saivagama. Ketiga kitab ini mempunyai sejarah dan cirri tersendiri, serta dianggap sebagai kitab suci penganut agama Hindu.

Veda atau Samhita

Kitab Veda merupakan kitab suci orang Hindua dan sering pula disebut Samhita, artinya tembang atau nyanyian, karena isinya sebagian besar adalah sajak-sajak atau pujian kepada dewa-dewa yang dinyanyikan dalam berbagai upacara keagamaan. Veda berasal dari kata vid, mengetahui, maksudnya diturunkan sebagai pengetahuan. Pengetahuan yang dipaparkan ialah rahasia kehidupan dan cara mencapai kebenaran tertinggi. Kitab ini mulai disusun oleh para resi sekitar tahun 1500 SM, lebih seribu tahun setelah orang Arya mendiami negeri-negeri di sekitar lembah Indus atau Hindustan. Secara bertahap kitab Veda disempurnakan susunan dan bahasanya antara tahun 1000 s/d 600 SM.

Kitab ini terdiri dari empat bagian yang masing-masing menjadi kitab tersendiri, walaupun satu dengan yang lain tidak terpisahkan:

  1. Rig Veda, berisi sajak-saak pujian kepada dewa-dewa Arya yang awal, seperti Varuna, Indra, Agni dan lain-lain.
  2. Yajur Veda, kumpulan doa-doa.
  3. Sama Veda, himpunan sajak-sajak yang dinyanyikan dalam berbagai upacara keagamaan.
  4. Atharva Veda, kumpulan mantra-mantra untuk keperluan umum dan keagamaan.

 

Yajur Veda disadur dari Rig Veda, berupa kumpulan doa yang dinyanyikan dalam

berbagai upacara kurban. Kitab ini terdiri dari dua bagian: Yajur Veda Hitam dan Yajur Veda Putih. Yang pertama lebih tua dan kurang sistematis, yang kedua lebih sistematis.

Atharva Veda berhubungan dengan keluarga mithis, yaitu Atharva yang mengemban kewajiban melaksanakan upacara pemujaan api suci, dan Angira, yang bertugas sebagai tukang sihir dan ahli jampi-jampi.

Rig Veda terdiri dari 1028 sukta (hymne) dan disusun dalam sepuluh kitab (mandala). Kitab ini ditulis oleh para resi terkemuka, di antaranya Ghosa, seorang resi perempuan. Komentar tambahan diberikan oleh Sayana pada abad ke-14 M. Rig Veda dianggap sebagai asal-usul teologi Veda.

Setiap mandala ditulis oleh maha resi dan resi yang berbeda-beda, sesuai bidangnya.

Mandala  I ditulis oleh 16 resi, di dalamnya ada 33 dewa yang menjadi tujuan pemujaan, khususnya Maruta, Agni dan Indra.

Mandala II ditulis oleh 3 resi untuk Agni dan Indra, serta dewa-dewa yang merupakan bawahan kedua mereka itu.

Mandala III  ditulis 8 resi, termasuk dua sungai Wipasya dan Syutudni yang membantu Visvamitra  dengan memberikan laluan yang mudah ketika hendak menyebrangi sungai tersebut.

Mandala IV terdiri dari 58 hymne, ditulis oleh beberapa resi seperti  Vamadeva, Masadutyu, Purumulha dan Ajamilka. Dewa-dewa yang dijadikan tujuan pemujaan selain Agni dan Indra, juga Dewa Langit dan Dewa Bumi, Varuna.

Mandala V berisi pujian untuk dewa-dewa Agni, Indra, Visvadeva, Maruta, Asyvin, Varuna, Parjanya (dewa awan) dan Prathivi (dewi bumi).

Mandala X , dalam bagian ini ada dewa-dewa baru dimunculkan seperti Dewa Surya, Vacha (dewa percakapan), Yama, Mitra dan lain-lain. Varuna pada mulanya merupakan kumpulan dewa-dewa yang berkedudukan sebagai aditya, sejajar dengan Aineshaspentas (tujuh roh halus) dalam agama Zarathustra (Zoroaster).

Sebetulnya kepercayaan Arya di India, yang merupakan akar agama Hindu, berkembang dari tradisi Dua Tuhan seperti agama Arya di Iran atau Persia, yakni Zoroaster. Tetapi  kemudian tumbuh menjadi agama Polytheistis, dan kemudian lagi menjadi Monisme Pantheistis.

Dijelaskan bahwa Prajapati, sebagai pencipta segala sesuatu, telah menciptakan dua kekuatan besar di alam semesta, yaitu Deva (Persia: daeva) dan Asura (Persia: Ahura). Deva, artinya dia yang bersinar terang, teapi dalam agama Zoroaster menjadi dewa kegelapan. Asura, artinya kekuatan yang muncul dari kegelapan, dalam agama Zoroaster menjelma Dewa Terang, yang disebut Ahura Mazda atau Ormudz.

Cabang-cabang Veda

            Di bawah keempat Veda, ada empat kitab disebut Upaveda. Upa artinya bawah. Keempat Upaveda itu ialah: Ayur Veda, menguraikan obat-obatan dan pengobatan, beserta mantra-mantranya; Gandharva Veda, menguraikan musik, nyanyian dan tari-tarian; Dhanur Veda, menguraikan ilmu perang; Sthapatya Veda atau Syilpa Veda, menguraikan seni bangunan atau arsitektur.

Di bawah Upa Veda ada empat Vedangas, masing-masing: Syiksha, menguraikan fonetik atau tata bunyi kata; Chhanda, ilmu persajakan; Vyakarana, menguraikan tata bahasa, puncaknya ialah karya Panini; Nirukta, menguraikan perbendaharaan kata dan etimologi. Contoh terkenal ialah karya Yasha; Yyotisha, menguraikan astronomi, hari dan waktu mengadakan upara kurban; kalpa, menguraikan seluk-beluk penyelenggaraan upacar keagamaan, khususnya upacara kurban.

Kitab-kitab tersebut (Vda, Upa Veda dan Vedangas) disebut syruti (sastra suci), Syru artinya mendengar, artinya didengar  melalui proses pewahyuan atau pengilhaman oleh seorang Maharesi atau Resi yang melakukan samadhi atau meditasi. Pasangannya ialah smriti (sastra tradisional), mencakup buku-buku berisi tafsir terhadap Veda. Tafsir Veda atau smriti Veda dibedakan dalam dua kelompok: (1) Brahmana dan (2) Upanishad. Kitab Brahmana berisi uraian atau tafsir tentang upacara keagamaan; Upanishad berisi uraian falsafah ketuhanan dan agama. Jenis yang lain disebut Aranyaka, kitab yang dibaca di hutan sewaktu menyendiri.

Veda sebagai kitab banyak menguraikan masalah upacara kurban, dasar falsafah dan penyelenggaraannya. Dalam upacara kurban ada empat petugas: Brahmana, pendeta yang bertugas membacakan doa-doa; Hotri, orang yang melaksanakan upacara kurban; Richas, pendeta yang bertugas menyanyikan lagu-kagu pujaan kepada dewa yang diambil dari Sama Veda; Adhvaryu, pendeta yang membuat rumusan upacara kurban.

Setiap Veda memiliki Brahmana atau tafsir. Tafsir Rig Veda adalah Aitareya Brahmana dan Kaushitaki; Sama Veda, memiliki 8 tafsir, paling terkenal Chandogya; Yajur Veda, kitab tafsirnya untuk Yajur Veda hitam ialah Taittireya dan Yajur Veda Putih ialah Syatapatha. Atharva Veda memiliki 1 tafsir, yaitu Gopatha.

Kitab Brahmana sebagai tafsir terhadap Veda berisi penjelasan lebih rinci mengenai pokok-pokok ajaran Veda. Contoh terbaik ialah kitab tafsir yang disebut Syatapatha Brahmana (Tafsir Seratus Jalan Agama). Kitab ini menguraikan secara rinci seluk beluk penyelenggaraan atau tatacara kurban. Melalui kitab ini pembaca mengetahui dewa tertinggi yang dipuja dan merupakan tujuan upacara kurban ialah Prajapati, dewa pencipta. Sebagai pencipta Prajapati memiliki energi kreatif, yang ditunjukkan oleh-Nya dalam tindakan penciptaan. Dalam upacara energi kreatifnya ini harus diambil dengan memberikan sebelas kurban. Adapun kurban yang wajib disajikan ialah manusia, kuda, sapi, kelinci dan kambing jantan. Kurban manusia sudah lama ditinggalkan.

Dalam uraian mengenai Prajapati tampak jelas teologi yang dikembangkan bercorak monistis (serba esa). Misalnya diuraikan dalam Syatapatha Brahmana  3, IX:1 – 5.

Kini Prajapati, tuhan pencipta, telah mencipta mahluk hidup, merasa dirinya tercampak keluar. Mahluk-mahluk berpaling bersamanya; mahluk-mahluk tidak tinggal bersamanya untuk mencari kegembiraan dan makanan.

            Dia berpikir di dalam dirinya: Aku telah mengeluarkan diriku, dan obyek-obyek yang telah kucipta tidak menyertaiku; ciptaanku berpaling jauh dariku, mahluk-mahluk tidak tinggal bersamaku demi kegembiraan dan makananku.

            Prajapati berpikir di dalam dirinya: Bagaimana aku harus memperkuat diriku lagi; bagaimana mahluk-mahluk bisa kembali kepadaku; bisa tinggal bersamaku demi kegembiraan dan makananku.

            Dia berdoa dan berharap, menghasratkan mahluk-mahluk. Dia menyaksikan di depannya sesajian sebelas kurban tersedia.  Dengan sesajian itulah Prajapatui memperkuat dirinya; mahluk-mahluk kembali kepadanya, ciptaannya tinggal demi kegembiraan dan makanannya. Dengan sesajian dia menjadi benar-benar lebih baik.

 

Dalam Syatapatha Brahmana  2, I:3-16 dijelaskan bahwa baik dewa-dewa maupun asura (roh jahat) berasal dari Prajapati. Kedua kekuatan ini bertarung sama dengan lain untuk dapat menguasai langit. Asura membangun altar api yang disebut rauhina, artinya tempat untuk naik. Dengan membangun altar tinggi dia berpikir apat mencapai langit dan menguasai kerajaan langit. Salah seorang dewa, Indra, yang merupakan saingan asura, mengetahui bahwa altar tersebut sangat bagus dan dapat didaki dengan baik meuju langit. Dia berpikir, kalau tidak dihambat pasti para dewa kalah dalam pertarungan dengan para asura.  Kemudian Indra mengambil sebuah kepingan batu dari altar tersebut dan memindahkan ke tempat lain. Sesudah itu dia menjelma menjadi seorang Brahman. Ketika para asura hendak mendaki ke langit melalui altar api, Indra mendorong batu besar itu sehingga altar runtuh.  Sesudah itu dia merubah batu menjadi petir dan menjerat leher para asura.

Dalam Syatapatha Brahmana 1, II:1-8, dimunculkan Visnu sebagai dewa utama karena beberapa pertimbangan. Pertama, karena dia dianggap sebagai avatara (inkarnasi) dari Prajapati yang paling utama. Kedua, karena dalam lomba lari melawan para asura yang larinya kencang,, dia menjelma menjadi kijang sehingga dapat mengalahkan larinya para asura. Kecepatan Visnu dalam berlari dilukiskan seperti kecepatan api kurban, yang sanggup membesarkan diri dengan cepat. Dengan kecepatannya itu Visnu membuat rombongan dewa menjadi penguasa dunia.

Api kurban dalam kitab ini disamakan dengan ‘jiwa terdalam’; yang memiliki kekuatan mencapai keabadian dalam waktu cepat seperti dewa-dewa. Selanjutnya pemujaan api disamakan dengan tindakan menurunkan obyek-obyek langit ke bumi, sehingga menemukan tempat berdiam di tengah masyarakat manusia.

Spekulasi metafisika dan linguistik Hindu yang awal dapat dijumpai dalam kitab ini. Begitu doktrin samsara, muncul pertama dalam kitab ini. Doktrin ini kemungkinan besar diambil dari budaya local. Namun pengembangannya lebih lanjut dijumpai dalam Upanishad.

 

      Falsafah Nyaya

            Falsafah Nyaya menempati urutan pertama dalam keseluruhan sistem falsafah ortodoks India karena ia seolah-olah berperan sebagai pendahuluan atau pintu pertama memasuki keseluruhan sistem falsafah India  (Sarva Darsana Samgraha). Sistem ini lazim digandengkan dengan Vaisesika, yang muncul kemudian. Kedua sistem ini memiliki titik tolak dan ciri yang hampir sama. Sebagai sistem falsafah keduanya didasarkan pada penalaran secara analitik. Sebagai sistem falsafah yang didasarkan pada kitab Veda, Nyaya terus berkembang hingga abad ke-20. Tidak mengherankan apabila bergitu banyak wacana tertulis dilahirkan dari para filosof Nyaya.

Vaisesika yang digandengkan dengannya dianggap sebagai pelengkap dan tambahan bagi falsafah Nyaya. Penjelasan-penjelasan dalam Vaisesika Darsana seolah-olah berperan sebagai rincian yang lebih luas terhadap asas-asas falsafah yang dikembangkan oleh Nyaya Darsana. Tetapi keduanya memiliki corak serupa. Nyaya dan Vaisesika merupakan sistem falsafah merupakan penyajian secara kritis terhadap obyek-obyek pengetahuan dengan mengunakan pembuktian logis.

Dasar Ajaran Nyaya Darsana

Nyaya mengajarkan cara-cara mengembangkan logika dan penalaran untuk mencapai kebenaran. Pembicaraan tentang system falsafah ini dimulai dengan sebuah seloka, ”Drsyate twagyaya buddhya suksmaya suksma darsibhih” yang artinya, “Segala sesuatu atau jiwa diamati oleh pengamat yang cendekia dengan kecerdasan pikirannya yang tajam dan lembut”.

Arti etimologis nyaya, ialah ’kembali’, maksudnya mencari kembali kebenaran melalui argumentasi. Falsafah Nyaya bersifat intelektual dan analitis. Vatsyayana mengembangkan sistem ini berdasarkan ajaran Rsi Gautama (abad ke-4 SM) dalam bukunya Aksapada dan Dirghatapas. Buku Vatsyayana yang memuat ajaran falsafah Nyaya ialah Nyaya Bhasya (Ulasan Tentang Nyaya). Menurut pengasasnya sistem falsafah ini lahir disebabkan adanya serangkaian pembicaraan dan perdebatan sehubungan penafsiran terhadap seloka-seloka dalam Veda Sruti. Pencarian makna dari seloka-seloka tersebut diperlukan sebagai pedoman penyelenggaraan upacara yajna (kurban).

Tokoh-tokoh falsafah Nyaya setelah Rsi Gautama dan Vatsyayana ialah Sri Kantha, yang mengarang buku Nyaya Lankara;, Jayantha dengan bukunya Nyaya Manjari; Govardhana dengan bukunya Nyaya Boddhini; Vacaspathi Misra dengan bukunya Nyaya Varttika Tatparya Tika dan Udayana dengan bukunya Nijaya Kusumanjali. Pada abad ke-12 M di Bengali, India Selatan, muncul aliran Nyaya Baru (Navya Nyaya) dipelopori oleh Gangesa Misra. Namun aliran yang dikembangkan Gangesa sebenarnya merupakan perombakan terhadap Vaishesika.

Nyaya dimulai dengan ketetapan bahwa semua pengetahuan tertuju pada obyek di luar si pengamat dan bebas dari pikiran sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Sasaran utama pembahasannya ialah bagaimana menetapkan keberadaan  Paramesvara (Isvara atau Tuhan Tertinggi) sebagai pencipta alam semesta dan keberadaan. Kaedahnya ialah melalui jalan nyaya, yaitu metode penyimpulan dalam perdebatan dan adu hujah (argumentasi). Agar tidak menimbulkan keraguan, sesuatu yang dinyatakan sebagai ’kebenaran’ hasrus diperdebatkan dengan menggunakan berbagai hujah. Dari serangkaian perdebatan diharapkan lahir kesimpulan yang sukar dibantah.

Karena didasarkan atas perdebatan dan adu hujah, maka yang dibahas dalam falsafah Nyaya terutama ialah mengenai fungsi dan kedudukan pikiran atau logika dalam menetapkan kebenaran. Menurut pemikir Nyaya, pemikiran intelektual dan logika yang dijalankan dengan sungguh-sungguh serta mendalam akan mampu membawa seseorang pada kesimpulan universal bahwa alam raya dan segala isinya ini pasti ada penciptanya. Sekalipun demikian mereka berpendapat bahwa pemahamanintelektual ada batasnya. Kalau ada persoalan yang tak dapat dipecahkan dengan logika, maka seseorang wajib berpaling kepada Veda Sruti. Kaedah terakhir ini disebut Sabda Pramana (metode yang bersandar pada wahyu yang disabdakan melalui kitab suci).

Filosof Nyaya berpendapat bahwa kenyataan hakiki di alam raya ini hanya satu, yaitu Siva atau Paramatman (Jiwa Tertinggi). Paramatman adalah kesadaran maha agung dan maha tinggi, kekal abadi dan hadir di mana-mana. Ia merupakan asas pertama terjadinya alam raya dan makhluq-makhluq di dalamnya. Dalam menciptakan alam raya dan seisinya, Dia memecah substansi dasar (dvarya) berupa zarrah atau atom (parama anu) ke dalam dua, tiga dan seterusnya. Setelah dunia tercipta, Paramatman meresapi segala sesuatu yang ada dan menjadi penggerak utama dunia ciptaan.

Ke dalam jivatman (diri manusia) Yang Maha Tinggi menganugerahkan asas utama kegiatan hidupnya yang disebut adrsta, yaitu kemampuan terpendam berupa kecerdasan yang muncul dan berkembang apabila manusia mengusahakannya dengan baik dan benar. Walaupun Paramatman tidak mengubah adrsta seseorang, namun Dia memberi kemungkinan luas terhadapnya untuk berkembang. Tuhan akan memberikan pahala kepada setiap kegiatan yang didasarkan adrsta. Dalam hal ini adrsta harus dipahami sebagai kecerdasan yang didasarkan pada iman dan kesadaran bahwa kegiatannya bersumber dari perintah agama. Ringkas kata, adrsta adalah kecerdasan yang lahir karena ketaatan seseorang pada Penciptanya.

Nyaya berpendapat bahwa Tuhan adalah Jiwa Khusus, Wujud yang memiliki pribadi agung, bebas dari pengetahuan rekaan (mithya jnana), kesalahan (dosa) dan kelalaian. Sebagai Wujud Tertinggi yang memiliki pribadi, Tuhan memiliki daya yang mendorongnya turun ke dunia penciptaan. Tiga daya itu ialah (1) Jnana (ilmu); (2) Iccha (kehendak, iradat) dan (3) Prayatna (kemauan, hasrat).

Dalam upaya menerangkan Wujud Tertinggi dan hubungannya dengan alam raya, filosof Nyaya menggunakan bukti-bukti kealaman (kosmologis) dan asas kebertujuan segala sesuatu (teleologis). Alam raya ini merupakan akibat dari gerak Paramatman, yaitu Tuhan. Karena itu Tuhan disebut sebagai penyebab pertama (causa prima) terjadinya segala sesuatu. Bahwa alam dicipta dengan tujuan tertentu oleh Sang Pencipta, tampak dalam tatanan yang ada di dalamnya. Keteraturan yang ada dalam perputaran alam raya, jelas membuktikan adanya rancangan yang didasarkan atas pemikiran dan tujuan tertentu.

Penciptaan Dunia.

Mula-mula Paramatman menciptakan maya loka samastha  (alam raya buatan) dengan segala tatanan dan aturannya. Setelah alam tercipta, Paramatman meresapi segala sesuatu dari ciptaannya. Setiap pribadi yang diresapi atau mendapat pancaran sinar-Nya, lantas sanggup berperan serta dalam perputaran kehidupan di alam raya ini. Pancaran sinar-Nya dalam diri manusia disebut jivatman (jiwa ruhani). Setiap jivatman memiliki 16 kala: (1) Prana [daya hidup]; (2) sraddha [keyakinan]; (3) kham [angkasa, ether]; (4) vayu [udara]; (5) jyotir [cahaya, sinar]; (6) apah [air]; (7) prthivi [tanah]; (8) indriya [sarana pengamatan, panca indra]; (9) manas [pikirn]; (10) annam [makanan]; (11) annadvirya [kekuatan]; (12) tapa [pengendalian]; (13) mantrah (doa Veda); (14) karma [perbuatan]; (15) lokalokesu [dunia, alam planet]; (16) nama [nama bagi wujudnya].

Menurut Vatsyayana, dunia di luar manusia merupakan keberadaan yang terpisah dari pikiran, dibantu pengamatan dan pencerapan indera. Pengetahuan dapat disebut benar atau salah tergantung pada sarana yang digunakan dalam mendapat pengetahuan.

Mengenai pameya, filosof Nyaya mengemukakan dua belas kategori dari

obyek pengamatan.  Setidak-tidaknya 12 kategori dari obyek pengetahuan ini bisa diamati menggunakan metode yang dibangun menurut falafah Nyaya. Kedua belas kategori obyek pengamatan itu ialah:

  1. Atman, yaitu jiwa atau roh.
  2. Sarira, yaitu badan jasmani.
  3. Indriya, yaitu pancaindera yang terdapat manusia dan binatang.
  4. Artha, yaitu obyek-obyek dalam alam yang dapat diamati langsung oleh indera.
  5. Buddhi, yaitu akal, kecerdasan dan tingkat kepandaian manusia.
  6. Manas, yaitu pikiran, gagasan dan kesadarn seseorang.
  7. Pravitri, yaitu aktivitas atau kegiatan manusia atau binatang.
  8. Dosa, yaitu kesalahan yang dilakukan seseorang.
  9. Perpindahan, peralihan, perubahan, pertukaran.
  10. Phala, yaitu hasil dari perbuatan.
  11. Dukkha , yaitu penderitaan.
  12.  Apavarga, yaitu pembebasan.

.

Lima indera mampu pula mengindera lima sifat (guna) yaitu rupa (wujud, bentuk, warna), rasa (cecap), gandha (bau), sparsa (sentuhan, rabaan) dan sabda (suara, bunyi).  Adapun lima unsur dasar itu masing-masing memiliki guna atau sifat sebagai berikut:

  1. Tanah memiliki perwujudan (visaya) rupa, rasa, raba, bau dan suara.
  2. Air memilki visaya rupa, rasa, raba dan suara. Tetapi tidak memiliki bau.
  3. Api memiliki visaya rupa, raba dan suara. Bau dan rasa tidak ada pada api. Sedangkan sifat khusus api ialah rupa atau warna.
  4. Udara atau angin memiliki visaya raba dan suara. Sifat khususnya raba atau sentuhan.
  5. Akasa hanya memiliki visaya suara.

Ilmu Pengetahuan modern mula-mula mengira bahwa angin dan udara

Mampu menghasilkanm suara. Tetapi setelah penemuan alat transmisi melalui kabel secara perlahan disadari bahwa suara sebenarnya merupakan sifat dari akasa atau ruang. Karena itu transmisi suara bisa dilakukan tanpa bergantung pada aliran udara atau angin.

Empat dravya lain yaitu waktu (kala), ruang (dis), jiwa (atma)  dan manas keterangannya sebagai berikut:

  1. Waktu berkenaan dengan sekarang, kemarin, besok, tahun, hari dan jam.
  2. Ruang berkenaan dengan atas, bawah, samping, sana, sini, dan sebagainya.
  3. Atma menyebabkan pikiran dapat menggamarkan prinsip-prinsip kehidupan.
  4. Manas adalah hasil dari atma yang bekerja membangun pikiran dan

gagasan menggunakan akal atau buddhi.

Dalam falsafah Nyaya, atma dibagi dua menjadi jivatma (roh atau jiwa

Perorangan) dan paramatma (Jiwa tertinggi atau roh semesta). Jiwa perorangan itu banyak, sedang roh semesta itu tunggal.

Para filosof Nyaya berpendapat bahwa manusia dapat memiliki kecerdasan (adrsta) dan dapat mengembangkannya dengan baik melalui bantuan dari petunjuk ilahi. Adrsta yang bertindak di bawah petunjuk Tuhan dapat mempengaruhi nasib manusia.

Jiwa dan Pengetahuan Palsu

Menurut para filosof keberadaan jivatman itu nyata dan abadi. Ia memiliki sifat-sifat utama seperti keinginan, keengganan, kemauan, kesenangan, penderitaan, kecerdasan dan prajna (intuisi). Segala sesuatu yang diamati oleh pancaindera sebenarnya adalah pekerjaan jiwa, sedangkan pancaindera adalah sarananya belaka. Demikian juga buddhi atau akal pikiran hanyalah sarana dari jiwa. Jika seseorang dikatakan berpikir, maka yang  berpikir sebenarnya adalah jiwanya. Bila tubuh hancur, jiwa tetap ada. Tetapi jiwa individual itu banyak.

Alam semesta disebut sebagai jagat raya yang khayali (mayaloka samastha). Ia tersusun dari pengetahuan palsu (mithya jnana), kesalahan (dosa), kegiatan (pravrti), kelahiran (janma) dan penderitaan (duhkha). Pengetahuan palsu timbul sebagai akibat dari adanya dosa. Dosa bersangkut paut dengan cinta, suka dan benci yang berlebihan terhada[ sesuatu (raga-dvesa). Raga-dvesa melahirkan kegiatan yang baikdan buruk. Kegiatan menentukan bentuk-bentuk inkarnasi,, pahala dan hukuman yang akan diterima oleh seseorang. Tujuan falsafah, menurut filosof Nyaya, alah untuk menghapuskan pengetahuan palsu (mithya jnana).

Bagamana cara melepaskan diri dari pengetahuan palsu? Caranya alah dengan mengetahui 16 substansi dasar segala sesuatu (dvarya) dan 16 tangga atau tahapan pengenalnya, masing-masing sebagai berikut:

(1)         Pramana, menetapkan metode pengetahuan yang benar.

(2)         Prameya, menetapkan obyek pengetahuan yang benar.

(3)         Samsaya, mengajukan keraguan pada sesuatu yang dianggap

benar.

(4)         Dsrtanta, mengemukakan contoh yang benar

(5)         Prayojana, menetapkan tujuan pengamatan secara benar.

(6)         Tarka, menggunakan argumentasi/hujah yang benar.

(7)         Siddhanta, menegakkan ajaran dan pengetahuan.

(8)         Awayawa, menetapkan tahapan-tahapan pengetahuan

(9)         Nimaya, membuat ketentuan yang sesksama

(10)           Vada, melakukan diskusi yang mendalam

(11)           Jalpa, membantah yang tidak benar

(12)           Vitanda melakukan kritik secara cerdas

(13)           Hetva-bhasa. Mencela cacat dan kekurangan dari penalaran

(14)           Cala, memuat argumentasi

(15)           Jati, ketanpatujuan

(16)           Nigraha-sthana, mengiritik secara tuntas pengetahuan yang

diperoleh selama ini.

Pada tahjapan keempat seseorang akan terdorong melakukan perdebatan

sengit dengan menggunakan 4. 5 dan 6. Setelah tahapan ke-7 akan bisa membuat penentuan (nimaya), seterusnya memasukitahapan-tahapan berikutnya hingga akhirnuya sampai pada tahapan terakhir, yaitu kesempatan mengeritik kesimpulan yang kita peroleh dengan mengujui keseluruhan hal yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian akan diperoleh kesimpulan yang benar dan menyeluruh tentang sesuatu.

Dapat ditammbahkan di sini bahwa bagi filosof Nyaya itu, jiwa merupakan pelaku utama dari perbuatan dan kegiatan, karena itu baik buruknya perbuatan mencerminkan baik buruknya jiwa. Tanpa jiwa, mata tidak dapat melihat benda-benda dan menentukan hakekat benda-benda. Selanjutnya filosof  Nyaya berpendapat bahwa pikiran bukanlah jiwa. Ia hanya sarana bagi jiwa untuk berpikir. Kualitas pikiran ditentukan oleh sikap jiwa, baaimana jiwa melatih, membimbing dan mengarahkan pikiran.

Manusia pada umumnya tidak memahami dan mengenal hakikat dirinya serta Tuhannya. Hal ini disebabkan karena ia berpegang pada mithya jnana (pengetahuan palsu). Pengetahuan palsu membuat manusia menderita, lalai, berbuat salah (dosa). Dosa atau kesalahan melahirkan raga dvesa, yaitu perbuatan yang semata-mata didasarkan kesenangan dan kebencian pribadi. Raga dvesa memunculkan karma, perbuatan baik dan buruk.

Untuk mencapai kebahagian manusia harus melakukan apa yang disebut apawarga (kelepasan). Apawarga dicapai setelah seseorang dapat menghilangkan mithya jnana (pengetahuan palsu) dan menggunakan pengetahuan yang benar.

Salah seorang tokoh utama falsafah Nyaya ialah Vatsyayana. Menurut filosof ini, dunia di luar manusia merupakan keberadaan yang terpisah dari pikiran. Pengetahuan tentang dunia diperoleh melalui pikiran, dibantu oleh pengamatan dan pencerapan indra. Pengetahuan dapat disebut benar atau salah tergantung pada sarana yang dipergunakan dalam mendapat pengetahuan. Secara sistematis pengetahuan menyatakan empat keadaan: (1) Pramata atau si pengamat, yaitu keadaan jiwa, pikiran dan kesadarannya; (2) Prameya atau obyek yang diamati; (3) Pramiti atau hasil dari pengamatan, yang ditentukan oleh keadaan si pengamat dalam hubungannya dengan obyek yang diamati; (4) Pramana atau cara, kaedah, metode pengamatan atau model pendekatan yang digunakan.

Mengenai prameya, filosof Nyaya mengemukakan duabelas (12) kategori prameya  atau obyek pengamatan bisa ditetapkan menggunakan kaedah Nyaya, masing-masing sebagai berikut: (1) Ruh atau jiwa (atman); (2) Badan (sarira); (3) Pancaindra (indriya); (4) Obyek pengamatan indra (artha); (5) Akal atau kecerdasan (buddhi); (6) Pikiran (manas); (7) Kegiatan (pravrti); (8) Kesalahan (dosa); (9) Perpindahan, pertukaran, perubahan, peralihan; (10) Hasil perbuatan (phala); (11) Penderitaan (duhkha); (12 Pembebasan (apavarga).

Vatsyayana juga mengatakan setiap benda memiliki ciri khusus (visesha) yang membuatnya berbeda dari benda lain. Pembedaan merupakan dasar utama dari pengamatan. Karena itu kelanjutan dari sistem falsafah Nyaya disebut Vaishesika. Seperti Nyaya Darsana, Vaishesika Darsana menggunakan logika (tarka) dan pemikiran rasional (tattva) dalam mencapai kebenaran sehubungan obyek pengamatan dan hasil-hasilnya. Maka itu dapat dikatakan bahwa sebagai darsana, Nyaya ddinyatakan melalui proses logika dan penalaran diskursif.

Menurut Vatsyayana, dalam mencapai kebenaran rasional tentang sesuatu hal, diperlukan bantuan 4 atau empat kaedah pengamatan:

  1. Pengamatan langsung (pratyaksa pramana).
  2. Penyimpulan (anumana pramana).
  3. Perbandingan (upamana pramana)
  4. Penyaksian (sabda pramana).

Nyaya juga sering digambarkan sebagai sistem falsafah realisme majemuk (pluratistics realism). Mereka membagi obyek pengetahuan ke dalam kelas-kelas berperingkat yang disebut dravya (substansi; jawhar), yaitu:

  1. Tanah, bumi (prathivi)
  2. Air (ap)
  3. Api, cahaya (teja)
  4. Udara, angin (vayu)
  5. Langit, angkasa (akasa)
  6. Waktu (kala)
  7. Ruang (dik)
  8. Diri, jiwa (atman)
  9. Pikiran yang diekspresikan (manas).

Bersama berbagai sarananya dan hubungan-hubungannya satu dengan yang lain, kesemua dravya tersebut dapat keberadaan, kenyataan dan hakikat alam semesta.    


 

Vaiseshika

 

Kata-kata visesa yang dijadikan dasar bagi penamaan sitem falsafah ini berarti kekhususan atau partikularitas. Sesuai dengan namanya sistem falsafah ini memusatkan perhatian pada menonjolnya ciri-ciri khusus dari obyek-obyek pengamatan di alam semesta. Sebagai sistem kearifan yang tua dalam jajaran falsafah India, Vaisesika lebih dikenal sebagai falsafah fisika dan metafisika. Sebagai falsafah fisika, darsana ini diawali dengan pembahasan mengenai tujuh kategori benda-benda yang disebut padharta. Dari pembicaraan mengenai masalah fisika kemudian beranjak kepada masalah metafisika, dengan membincangkan masalah-masalah berkenaan dengan jiwa dan arti spiritual daripada karma dan dharma, yang dtentukan oleh tingkat pengetahuan manusia tentang dunia dan obyek-obyek yang diamatinya dalam kehidupan.

Sebagai sistem falsafah fisika, Vaisesika sebenarnya lebih merupakan perumusan terhadap padharta (kategori benda-benda). Pengetahuan tentang padharta sangat penting dasar mencapai kebenaran tertinggi, yaitu pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.  Perumusan terhadap kategori benda-benda itu didasarkan atas perbedaan atau ciri-ciri khusus menggunakan empat metode (pramana) pengetahuan, yaitu Pratyaksa Pramana, Anumana Pramana, Upamana Pramana dan Sabda Pramana. Arti dari perkataan ’vaisesika’ sendiri ialah ciri atau kekhususan yang membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain. Kekhususan yang dimaksud ialah ciri khusus padharta yang dimiliki oleh sesuatu sebagai obyek pengamatan indera dan akal.

 

Dasar-dasar Ajaran

            Pengasas sistem falsafah ini ialah Rsi Kanada alias Uluka. Berdasarkan nama pengasasnya ini maka darsana ini disebut juga dengan nama  Ulukya Darsana atau Kebijakatan Sri Uluka. Sri Uluka sendiri mengembangkan sstem falsafahnya dari kitab Rsi Kanada yang bernama Vaisesika Sutra. Peranan Sri Uluka ialah memberikan rumusan yang terperinci dan sistematis atas ajaran Rsi Kanana.

Vaisesika Sutra terdiri dari 10 bab uraian yang dimulai dengan penjelasan tentang padharta dan diakhiri dengan pembahasan mengenai dharma dan jivatman.

Kesepuluh bab kandungan kitab karangan Rsi Kanada itu ialah sebagai berikut:

Bab I membicarakan kategori-kategori atau padharta yang jumlahnya semua ada 7.

Bab II membicarakan obyek-obyek pengamatan.

Bab III membicarakan jiva  dan indera batin.

Bab IV membahas tentang jasmani dan unsur-unsur yang menyusun badan jasmani.

Bab V membicarkan karma, yaitu kegiatan atau perbuatan seseorang dalam hidupnya.

Bab VI membicarakan dharma atau kebajikan rohani sebagaimana dimaksudkan dalam kitab Veda.

Bab VII membicarakan sifat-sifat khusus (visesa) dari segala sesuatu yang ada di alam dunia ini.

Bab VIII menguraikan masalah wujud dan bentuk-bentuk pengetahuan.

Bab IX menguraikan masalah pemahaman.

Bab X membicarakan perbedaan sifat-sifat dari jivatman.

Aasas-asas perbincangan falsafah yang dikemukakan Rsi Kanada terlihat pada pernyataannya pada bagian awal dari bukunya itu. Ia menekankan bepata pentingnya dharma. Dia mengatakan misalnya:

  1. Sekarang akan dijelaskan masalah dharma.
  2. Dharma ialah sesgala sesuatu yang lahir dari perbuatan mulia dan kebajikan tertinggi.
  3. Kewenangan kitab Veda (berasal dari) kehadirannya sebagai Sabda Ilahi (yang di dalamnya memaparkan persoalan dharma).
  4. Kebaikan Tertinggi yang merupakan buah dari dharma tertentu, dihasilkan dari pengetahuan tentang essensi segala sesuatu mencakup substansi dasar kejadian (dvarya), sifat (guna), perbuatan (karma), genus (samanya), jenis (visesa) dan gabungan (abhava,yang melekat pada sesuatu), yaitu penyebab terjadinya persamaan dan perbedaan.

 

Penekanan pada dharma bertolak dari kenyataan bahwa dalam kitab Veda

masalah dharma merupakan sesuatu yang sangat penting. Ini terlihat dalam seloka dalam Veda yang berbunyi:

Yato nhyudayanihsreyasa siddhih sa darmah

Yang artinya ialah, ”Dharma memuliakan dan kebaikan tertinggi”. Yang dimaksud dengan kebaikan tertinggii ialah mokhsa, pembebasan jiwa dari lingkaran samsara  yaitu keterikatan pada benda-benda dan dunia.

Tanpa pengetahuan yang disertai kearifan tentang benda-benda, dunia dan kedudukan jiwa manusia, manusia tidak akan dapat melakukan perbuatan yang baik dan dengan demikian tidak menjalankan dharma atau kebajikan spiritual sebagaimana diajarkan oleh kitab Veda.  Esensi segala sesuatu dan kategori-kategorinya, yaitu padharta, itulah harus diketahui oleh orang yng ingin menjcapai kebajikan tertinggi. Uraian tentang padharta inilah yang kelak dirinci Sri Uluka dalam sistem falsafahnya.

Padharta atau Kategori

Apakah arti padarhta? Kata-kata ini dibentuk dari kata pada dan artha. Kata-kata pada berarti nama, sedangkan artha artinya ialah obyek pengamatan, yaitu segala sesuatu yang terjangkau pancaindera dan pikiran manusia. Secara harfah padartha berarti ”makna dari sebuah perkataan”, tetapi kemudian diberi arti sebagai ”permasalahan dari obyek-obyek yang terdapat di dalam suatu pemikiran falsafah atau darsana”. Sebuah padartha merupakan sebuah obyek yang sedang dipikirkan atau diamati (artha) dan kemudian kepadanya diberikan nama (pada). Menurut Rsi Kanada dalam Vaisesika Sutra, benda-benda yang terdiri dari substansi tunggal itu besifat kekal, sedangkan merupakan gabungan dari berbagai substansi bersifat sementara. Itulah asas pembcaraan sistem falsafah ini.

Tujuh padartha dalam falsafah Vaisesika dapat dibandingkan dengan 16 kategori yang dinyatakan dalam falsafah Nyaya. Ketujuh padarha atau kategori dasar yang membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain itu ialah sebagai berikut:

I. Dvarya, artinya substansi kekal karena bersifat tunggal. Substansi kekal ada sembilan, yaitu : tanah (prthivi), air (apah), api atau sinar (teja), udara atau angin (vayu), angkasa (akasa), waktu (kala), ruang (dis), roh (jiva) dan pikiran (manas). Lima substansi pertama (tanah, air, api, udara dan angkasa) disebut panca mahabhuta atau lima unsur kasar yang mendasari kejadian dan keberadaan obyek-obyek di alam semesta. Tanah, air, api, udara dan manas (pikiran yang diekspresikan) mengambil wujud sebagai atom-atom abadi dan apabila dvarya ini bersenyawa dengan dvarya lain maka melahirkan suatu obyek lain yang keberadaannya tdak kekal. Manas berbeda dari jiva, sebab ia tidak mampu meresapi segala sesuatu dan bersifat atom, serta dapat diketahui pada saat orang berpikir. Jiva atau roha adalah sebaliknya, ia dapat meresapi segala sesuatu, namun tidak dapat bercampur dengan substansi lain karena keberadaannya bersifat rohaniah. Begitu pula ruang, waktu dan angkasa tidak dapat bercampur dengan substansi yang lain. Sejak awal semua itu merupakan substansi tunggal yang kekal, walaupun lebih bersifat jasmani berbanding rohani.

II. Guna, sifat atau ciri dari subastansi yang ada. Semuanya berjumlah 24: (1) rupa atau  warna; (2) rasa; (3) ghanda atau bau; (4) sparsa atau sentuhan, rabaan; (5) samkhya atau jumlah, bilangan; (5) parimana atau ukuran; (7) prthaktva atau keanekaragaman; (8) samyoga atau perpaduan, hubungan, keterkaitan; (9) vibhaga atau keterpisahan; (10) paratva atau keterasingan; (11) aparatva atau kedekatan;  (12) gurutva atau    bobot; (13) dravatva atau kecairan, keenceran; (14) sneha atau kekentalan; (15) sabda atau bunyi, suara, ucapan; (16) buddh atau jnana,pemahaman atau pengetahuan; (17) sukha atau kegembiraan, kesenangan, kenikmatan; (18) duhkha atau penderitaan; (19) iccha atau kehendak; (20) dvesa  atau kebencian, keengganan; (21) prayatna atau usaha; (22) dharma atau kebajikan, manfaat; (23) adharma  atau kekurangan, cacat;(24) samskara atau sifat berbiak atau berkembang dengan sendirinya.

III. Karma atau keinginan yang terkandung dalam gerakan atau kegiatan, jumlahnya ada 5 yaitu  (1) gerakan ke atas; (2) gerakan ke bawah; (3) gerakan  membengkok; (4) gerakan mengembang; dan (5) gerakan menjauh dan mendekat. 

IV. Samanya atau sifat umum berhubungan dengan kedudukan, lebih tinggi atau lebih rendah; dan jenis kelamin.

V.    Visesa, atau kekhususan yang merupakan milik 9 dravya.

VI. Samavaya atau keterpaduan satu jenis, yaitu keterpaduan antara substansi dengansifatnya, antara jenis kelamin dan pribadi subyek; antara pemikiran dengan obyek   pemikiran; kain dengan benang, binatang satu species seperti sapi, kerbau, banteng dan lain sebagainya.

Sebenarnya hanya enam kategori yang telah disebutkan pada mulanya diasaskan oleh para filosof Vaisesika. Tetapi kemudian mereka merasa perlu menambahkan kategori ketujuh sebagai landasan pemikiran falsafahnya. Dengan penambahan kategori ketujuh maka landasan pemikiran mereka, khususnya dalam memecahkan masalah-masalah logis dari keberadaan, akan menjadi munasabah. Kategori ke-7 itu disebut  abhava.

Abhava, merupakan kategori berkenaan denganada dan tidak adanya suatu obyek, atau  lebih tepatnya mengenai keberadaan dan ketak-beradaan suatu obyek. Filosof Vaisesika membagi abhava menjadi empat sebagai berikut: t

( 1). Pragabhava, ketidakadaan sebelumnya dari suatu benda; periuk tidak

ada sebelum     dibuat tukang periuk.

(2)   Davansabhava, terhentinya keberadaan periuk setelah dipecahkan.

(3)    Atyantabhava, ketiadaan timbal balik sebelum dan sesusahnya: udara

sejak dulu sampai sekarang tidak berwarna; waktu datang dan

pergi.,sejak dulu tak kelihatan    dan tak kedengaran, begitu pula sekarang dan nanti.

(4)    Anyonyabha, ketiadaan mutlak. Periuk tidak memiliki ciri dan sifat

yang sama dengan kain.

Dalam Vaisesika Sutra Rsi Kanada mengatakan bahwa alam semesta ini terjadi disebabkan adanya suatu kekuatan tersembunyi yang memiliki kecerdasan mengarahkan suatu karma atau kegiatan/perbuatan. Kekuatan tersembunyi itu disebut adrsta. Di sini tampak bahwa sistem falsafah ini tidak membicarakan masalah Tuhan atau kekuatan transenden yang berdiri di sebalakang segala kejadian secara lansgsung. Kegiatan zarrah atau atom misalnya ditelusuri oleh para filosof Vaisesika kepada adsrta, kecerdasan tersembunyi yang menyebabkan atom melakukan gerakan tertentu. Namun demikian para pengikut aliran falsafah ini di kemudian hari merasa perlu menambahkan persoalan ketuhanan disebabkan kitab Veda mengajarkan adanya Tuhan.

Dalam perkembangannya itulah kemudian lantas diyakini bahwa Brahman, Tuhan yang Maha Tinggi, merupakan causa effisiensi atau penyebab efisien dari terjadinya alam semesta. Sedangkan zarrah berfungsi sebagai bahan material yang telah ada sebelum Brahman bertindak melakukan penciptaan. Sebelum terjadinya alam semesta dan segala isinya, zarrah-zarrah itu merupakan unsur-unsur yang berada dalam keadaan kacau, tidak dapat dibayangkan oleh siapa pun. Zarrah-zarrah itu juga tidak memiliki kekuatan dan kepandaian mengatur perjalanan alam dan tidak bisa menata dirinya sebagai kekuatan untuk menata alam. Maka Brahman atau Paramatman kemudian muncul untuk mengendalikan dan menciptakan segala sesuatu dengan mengolah zarrah-zarrah itu menjadi sesuatu yang mimilik tatanan yang pasti.

Jadi yang membuat adsrta itu bekerja bukanlah dirinya sendiri, melainkan Barhman. Lima unsur kasar atau panca mahabhuta yang telah ada itu sebenarnya juga merupakan akibat dari kegiatan Brahman. Sebaga penyebab efisien segala sesuatu, Brahman merupakan keberadaan yang mendahului keberadaan yang lain. Keberadaan-Nya ditandai dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya tentang segala sesuatu. Dengan demikian Brahman dapat disebut sebagai Dzat Maha Tinggi dan Maha Tahu.

Seperti halnya dalam falsafah Nyaya, dalam falsafah Vaisesika terdapat keyakinan bahwa zarrah-zarrah itu tidaklah terhitung jumlahnya dan bersifat abadi. Dan secara abadi pula, dengan mengulang-ulang dirinya, zarrah-zarrah itu saling berkumpul dan berpadu berkat Brahman melakukan kegiatan untuk mencampurkannya. Setelah berpadu zarrah-zarrah itu bercerai berai dan mengalami kehancuran. Proses itu berlangsung terus menerus dan merubakan akibat dari bekerjanya adrsta yang digerakkan oleh Brahman. Zarrah atau atom merupakan ’kecerdasan abadi tanpa penyebab’, atau dengan perkataan lain terjadi dengan sendirinya. Setiap zarrah, begitu pula bagian-bagian paling kecl daripada zarrah, tidak dapat diubah dan tidak pula terlihat, sehingga tidak dapat diamati langsung melalui indera biasa. Masing-masing pula memiliki kekhususan atau visesa. Dengan demikian visesa merupakan inti yang kekal dari zarrah-zarrah yang ada di alam semesta.

Tampak bahwa asas pemikiran Vaisesika Darsana bercorak dualistik. Mereka memandang bahwa asas kejadian ialah zarrah-zarrah yang telah ada di alam semesta, namun keadaannya masih kacau balau. Brahman muncul sebagai asas kerohanian dengan menggerakkan adrsta, kekuatan potensial yang tersembunyi di belakang zarrah-zarrah  itu. Demikian unsur rohani atau purusha dari kejadian diartikan sebagai Brahman yang menggerakkan adrsta dan unsur prakrti-nya ialah zarah-zarrah yang banyak, yang dapat dibagi menjadi sejumlah kategori sesuai substansi kekalnya.

Walaupun para filosof Vaisesika  berpendapay bahwa roh dan jasmani, ide dan materi dapat saling berpadu membentuk realitas baru dari obyek-obyek, namun keduanya merupakan dzat yang sepenuhnya berbeda. Pada waktu obyek-obyek mengalami kehancuran, masing-masing kembali kepada dzatnya yang asal. Unsur-unsur bendawi kembali menjadi zarrah-zarrah dengan dvarya dan sifatnya masing-masing.. Ambil contoh ketika seseorang mengalami proses kematian. Badan mengalami proses penyusutan dan penghancuran, lambat laun mengecil dan akhirnya menjadi kian halus. Ini berbeda dengan saat-saa kletika manusia tumbuh dari setitik air mani, yang lambat laun kian membesar dan kasar. Setelah datang masa kematian beruang menyusut dan menjadi halus. Sementara unsur-unsur jasadi kembali kepada dzatnya yang semula, roh tetap abadi dan tidak mengalami penguarangan atau penyusutan sedikit pun.

Pokok-pokok Pandangan

Dalam uraian ini dapat dikemukakan beberapa pokok pandangan para filosof Vaisesika, khususnya sebagaimana diajarkan Rsi Kanada dan Sri Uluka, yang dipandang sebagai pengasas awal dan utama sistem falsafah ini, sebagai berikut:

  1. Kelahiran manusia dan usianya, beserta tempatnya lahir, keadaan

yang dialami dan lingkungan keluarganya, telah ditetapkan oleh adrsta masing-masing. Jadi adrsta berperan sebagai ketentuan atau semacam takdir. Adapun atman (roh perorangan) yang menempati badan seseorang bersifat kekal dan berbeda dari atman orang lain. Roh orang yang satu terpisah dan terasing dari roh orang yang lain. Adalah atman yang memberikan kemampuan batin kepada manusia dalam hidupnya sehingga ia mampu pula memberi tanggapan kepada kehendak, pengetahuan, keinginan, kebencian, kesenangan dan derita yang muncul dalam dirinya. Apabila badan jasmani dibatasi oleh ruang dan waktu, maka badan rohani yang disebut atman itu tidak dibatasi ruang dan waktu.

  1. Karena sifat roh yang demikian itu maka bersama-sama pikiran, roh

tidak dapat menjadi obyek pengamatan indera. Ia hanya dapat menjadi obyek pengamatan pikiran, melalui isyarat-isyarat yang dihasilkan dari pikiran sendiri.

  1. Perpaduan dan kerjasama antara atman dan badan jasmani, antara

sarana batin dan pancaindera, dapat terjadi disebabkan kegiatan dharma dan adharma, yaitu kebajikan dan kenistaan.

  1.  Kesenangan dan penderitaan (dukkha) merupakan hasil atau akibat

adanya hubungan antara roh, pikiran, pancaindera dan obyek-obyek pengamatan. Jika roh/jiwa dan pikiran tidak memerintahkan indera agar terpaut pada obyek-obyek yang menyebabkan munculnya kesenangan dan penderitaan, maka tidak akan ada kesenangan dan penderitaan. Dari kesenangan yang diperoleh melalui kenikmatan (kama) atas suatu obyek, maka muncullah keinginan untuk memperoleh obyek itu. Keinginan memperoleh obyek disebut raga, artinya keterikatan. Dari suatu penderitaan, misalnya disebabkan sengatan lebah, hardikan seorang polisi, maka akan muncul rasa benci terhadap penderitaan dan sumber penderitaan. Ini juga disebut raga.

  1. Disebabkan kuatnya pengaruh dari pengalaman-pengalaman  tertentu

yang mendatangkan kesenangan atau penderitaan, seseorang akan menjadi terikat pada obyek-obyek tertentu. Seorang pencinta yang gagal memperoleh cinta dari seorang wanita, akan selalui melihat bayangan orang dicintainya itu pada setiap obyek yang indah. Orang yang pernah dipatuk seekor ular akan merasakan bahwa di mana-mana ada ular.  Dengan demikian ingatan itu dibentuk oleh pengalaman dan sangat berpengaruh pada pandangan manusia terhadap sesuatu.

  1. Keterikatan pada sesuatu, terutama keinginan  (raga), kebencian (dvesa)

dan kebingungan (moha) merupakan dosa (kesalahan). Hal ini dikarenakan semya perkara itu dapat membuat seseorang terikat  pada dunia.

  1. Pengetahuan palsu (mythia jnana) timbul sebagai akibat dari kesalahan

atau dosa. Untuk menyingkirkan pengetahuan palsu diperlukan kekuatan pengetahuan intuitif tentang Sang Diri (jivatman). Pengetahuan tentang diri hakki ini diperoleh melalui renungan yang dalam (samadhi), pemeriksaan diri (introspeksi) dan meditasi (dhyana). Karena alasan inilah falsafah Samkhya dipasangkan dengan Yoga Darsana yang mengajarkan sistem meditasi dan disiplin diri secara praktis, sedangkan Samkhya sendiri tidak menguraikannya secara rinci.

  1. Karena alam dunia mendatangkan banyak dosa dibanding kebajikan,

dan juga karena pesonanya menimbulkan pengetahuan palsu, maka alam dunia ini disebut maya (khayali).

  1. Alam semesta dicipta berdasarkan dua sebab musabab, yaitu: (a)

Nimitta,  penyebab efisiensi atau penyebab yang secara efisien menyebabkan terjadinya dunia. Nimitta juga disbut sebagai instrumental dan bersifat kerohanian; (b) Upadana, yaitu penyebab jasmani. Penyebab instrumental (nimitta karana) ialah Isvara (Tuhan) dan penyebab jasmaninya ialah zarrah=-zarrah yang kacau balau dan tidak terhitung banyaknya yang disebut prakrti. Apabila kita umpamakan dengan kendi, maka nimitta karana-nya ialah pembuat kendi dan upadana-nya ialah tanah liat.

  1. Pengetahuan atau jnana yang benar disebut prama, pengetahuan yang

salah disebut bhrama. Falsafah Samkhya juga menggolongan pengetahuan menjadi dua macam : pengetahuan yang meragukan (samsaya jnana) dan pengetahuan yang pasti (niscaya jnana). Pengetahuan yang benar diperoleh melalui pembuktian yang benar dan mendatangkan kebaikan (pramanya grha jnana). Pengetahuan yang salah menimbulkan keburukan dan merupakan mythia jnana.

Samkhya adalah sistem falsafah yang mengakui keberadaan Brahman atau Isvara, yaitu Dzat Yang Maha Tinggi. Dalam Vaisesika Sutra bab V dinyatakan misalnya: ”

”Ditanyakan apa bukti dari adanya Brahman? Dijawab: Buktinya dinyatakan dalam kitab suci dan disimpulkan melalui penalaran akal. Proses penyimpulan ada emat pacam : pratyaksa pramana, anumana pramana, upamana pramana dan sabda pramana. Keberadaan substansi dasar yang empat (tanah, air, api dan udara) itu didahului oleh keberadaan Dzat yang mengetahui keadaan dan sifat-sifat (dari yang empat itu), karena substansi yang empat itu tidak lain hanyalah akibat yang didahului oleh Dzat yang memiliki penalaran tentang mereka. Contohnya keberadaan periuk didahului oleh adanya seorang pembuat periuk yang mengetahui empat substansi dasar yang dapat diolah menjadi sebuah periuk. Penyimpulan melalui penalaran, yang didahului dengan pengamatan langsung atau pratyaksa pramana, hanya dapat dilakukan apabila semua substansi atau unsur dasar dan kekuatan yang memadukan unsur-unsur itu diketahui.”