Hermeneutika

Pengajar : Dr. Sayyed Kiashemshaki

 

Catatan Kuliah (11 Juli 07)

Ahmad Samantho dari Qom, Iran

Definisi Hermeneutika

 1. Makna Leksikal Hermeneutika

Makna leksikal hermenutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneua itu sendiri adalah to say, to explain, dan to translate.

Pada dasarnya kata tersebut berasal dari nama tuhan dari Delphi yang bernama Hermes, kadang disebut juga sebagai nabi yang menyampaikan pesan dari Tuhan.

  1. Makna Teknikal Hermeneutika

Ada dua kata yang sepadan dengan makna hermeneutika yaitu tafsir dan ta’wil. Terdapat enam definisi hermeneutika. Namun secara umum hermeneutika berkaitan dengan cara pemahaman seseorang terhadap sebuah teks. Berikut ini beberapa definisi hermenutika:

  • Hermeneutika berkaitan dengan semiotika (language science)

Sebagai contoh yaitu teks apa saja yang biasa kita baca seperti teks sastra, agama atau teks-teks konstitusi, atau seni seperti film, lukisan atau bahkan sebuah perilaku yang ingin menyampaikan pesan kepada yang mengetahuinya. Hermenutika tidak membahas mengenai kata secara terpisah-pisah melainkan kalimat sempurna. Sebagai contoh kata “Allah” itu sendiri tidak dikaji, hermeneutika akan mengkajinya bila kata itu terdapat dalam kalimat sempurna.

  • Hermeneutika berkaitan dengan makna bahasa (semantic).

Ada dua teori yang berbeda yang berkaitan dengan semantik. Ada teori yang mengatakan bahwa makna sebuah teks yang kandungan maknanya tergantung pada si penulis, namun ada teori lain yang berpendapat bahwa makna teks itu independent. Jika yang dimaksudkan makna teks itu berasal dari penulis, maka makna tersebut hanya satu yaitu makna yang berasal dari si penulis, akan tetapi jika makna itu independent maka makna itu banyak dan bervariasi sesuai dengan si pembacanya. Sebagai contoh ketika ada dua orang yang ingin membaca teks al-Qur’an, tentu ketika keduanya menggunakan pendekatan yang berbeda maka pemahaman yang dihasilkannyapun akan berbeda.

  • Herneneutika berkaitan dengan penulis atau pembicara.

Tema sentral yang menjadi fokus pada poin ini adalah apakah makna teks tergantung pada si penulis, ataukah pada si pembaca teks. Beberapa pemikir modern menunjukkan bahwa makna sebuah teks sangat berkaitan dengan di pembaca, bukan si penulis teks itu sendiri. Jadi pada era modern ini, si penulis telah mati.

  • Hermeneutika berkaitan dengan pembaca.
  • Hermenutika berkaitan dengan cara pengungkapan makna menggunakan bahasa oleh pembicara.
  • Hermeneutika berkaitan dengan penyingkapan makna melalui bahasa oleh pendengar atau pembaca.

Dalam hermenutika ada dua soal utama yaitu bagaiman makna yang tersembunyi bisa nampak bagi si si pembaca dan persoalan selanjutnya adalah bagaimana si pembaca sendiri bias menangkap makna yang tersembunyi dari si pembicara. Contoh, al-Qur’an dapat dipahami sebagai teks yang berasal dari Tuhan, maka ketika terjadi penurunan makna yang transcendental itu disebut “tanzil,” dan ketika al-Qur’an sudah mengalami imanensi, persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana manusia mampu menangkap makna tersembunyi di balik al-Qur’an. Proses penangkapan makna ini disebut “ta’wil.”

Jadi secara singkat hermeneutika adalah ilmu tentang proses pemahaman sebuah makna dari sebuah teks.

Persoalan-persoalan Hermeneutika

Hermeneutika berkaitan dengan makna sebuah teks, makna di sini bukan makna biasa melainkan makna terdalam dari sebuah teks. Sebagai contoh ketika seseorang membaca Kitab Masnawi karya Jalaluddin Rumi hanya sepintas lalu maka makna yang ditangkap pun hanya biasa saja. Akan tetapi ketika si pembaca mencoba membaca makna lebih dalam (makna batin)  tentu itu sangat terkait erat dengan pengalaman dan wawasan yang dimiliki oleh di pembaca sendiri.

Berikut ini beberapa persoalan yang dihadapi oleh beberapa pemikir hermeneutika:

    1. Bagaimana makna teks dipahami?
    2. Apakah sebuah teks memiliki makna tertentu dan definitif ataukah memiliki makna yang lebih dari satu?
    3. Apakah dalam memahami makna sebuah teks terdapat metode tertentu ataukah tidak?
    4. Kalau ada, apa itu metode-metode tersebut?
    5. Adakah tolak ukur untuk memilah dan memilih makna yang benar dan tidak benar dari makna sebuah teks?

Hermeneutika (12 Juli 07)

F. Ast memengaruhi Schleiermacher dalam hal pembacaan teks, ia banyak menekankan sisi struktur bahasa untuk memahami sebuah teks. Ast memiliki fokus juga terhadap teks-teks klasik. Sebagai contoh, al-Qur’an yang diturunkan di Jazirah Arab sekitar abad ke-7 dalam kultur Arab. Bagaimana orang-orang yang lahir pada masa sekarang? Apakah mereka bisa memahami teks sebagaimana teks itu turun pada awal mulanya? Ast di sini menggarisbawahi bahwa tugas hermeneutika adalah mendekatkan jarak termporal yang begitu panjang menjadi seakan-akan hadir pada saat ini. Basis penelitian Ast berfokus pada teks-teks klasik pada masa Yunani Kuno. Ini bagi Ast memunculkan persoalan, bagaimana teks-teks kuno dapat dipahami oleh orang-orang yang hidup pada masa sesudahnya, khususnya pada masa Ast hidup. Dari sini nampak bahwa Ast mulai merintis tradisi baru di dalam membaca teks-teks klasik.

Teks biasa kita gambarkan seperti benda mati. Akan tetapi kita bisa menghidupkannya. Seperti kisah Ali ra berhadapan dengan pasukan Mu’awiyyah yang membawa pedang dengan mengacung-acungkan al-Qur’an di atasnya. Ali ra berkata, “al-Qur’an itu mati, tapi akulah al-Qur’an yang hidup.”

Pada sebuah teks ada tiga dimensi, pertama, bahwa teks adalah subjek. Maksudnya adalah bahwa benar jika kita berhadapan teks-teks Plato di mana di dalamnya termuat data-data filosofis, dalam analisa Ast tidak semata-mata kumpulan filosofis melainkan sebagai sebuah subjek sejarah. Kedua, dimensi bahasa, dan ketiga yaitu dimensi spiritualitas.

Perhatikan bagan berikut:

History

Text                    Language

Spirit

Teks-teks sebagai sebuah subjek sejarah, seperti Republic karya Plato, memiliki makna umum dan khusus. Subjek umumnya adalah teks tersebut adalah teks filsafat, dan secara khusus teks tersebut adalah teks filsafat idealisme Plato.

Teks sebagai sebuah bahasa mengandung juga makna khusus dan umum. Makna umum karya-karya Plato adalah bahasa Yunani yang memiliki tatabahasa sendiri, sedangkan secara khusus karya Plato tersebut memiliki ciri khas tersendiri.

Teks sebagai spirit mengandung juga makna umum dan khusus. Makna umum menunjukkan teks yang terkait erat dengan sistem budaya dan spirit masyarakat Yunani pada saat itu, sedangkan makna khusus terkait dengan upaya Plato sendiri dalam menumbuhkan semangat berpikir kritis pada masyarakat Yunani.

Untuk lebih menjelaskan pentingnya spirit dari teks, dalam tradisi Islam akan kita dapati bahwa makna terdalam teks itu sejenis ruh dalam diri manusia. Inilah yang diisyaratkan oleh Schleiermacher, Heidegger. Namun semangat itu berhenti akibat pengaruh dari sistem berpikir fisikalisme. Ast sangat dipengaruhi oleh Hegel di dalam sistem filsafatnya. Ia menekankan spiritualitas sebagai bagian penting dari upaya hermeneutik.

Ast juga pernah menyinggung hermeneutical circle yang nampak dalam sistem triadiknya yaitu bahwa baik makna umum maupun makna khusus keduanya saling berkait kelindan. Kita dapat sampai pada pemahaman umum lewat pemahaman khusus begitupun sebaliknya. Nah, dari proses lingkaran hermeneutis ini lahirlah pemahaman yang utuh atas suatu teks.

Sebagai contoh, ketika kita membaca Republik karya Plato di sana kita dapati diskusi menarik antara Socrates dan murid-muridnya. Dalam diskusi tersebut, Socrates tidak memberikan secara utuh pengetahuan terhadap murid-muridnya, melainkan hanya menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pembuluh intelektual dari para muridnya. Di sana terjadi semacam lingkaran hermeneutis antara Socrates dengan murid-muridnya.

Proses lingkaran hermeneutik ini kita dapati juga pada hadits berikut, “barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.” Dalam bahasa lain, lewat diri sendiri, kita mengenal Tuhan, dan lewat Tuhan kita dapat mengenal diri sendiri. Bahkan ada hadits yang berbunyi, “Rabbi Zidnî FÎka Takhayyuran” (Oh Tuhan berikanlah aku keraguan terus-menerus dalam diri-Mu)

14 July 2007

Pemahaman dan Eksplanasi

Seseorang ketika menghadapi teks, ia harus meyakini bahwa pemahaman itu lebih utama daripada penjelasan. Misalnya Imam Thabatabi dalam tafsirnya al-Mizan, ia pertama kali memahami tafsirnya sendiri sebelum menyampaikannya ke orang lain (lewat penjelasan).

Pemahaman itu untuk diri sendiri, sedangkan penjelasan untuk orang lain. Pemahaman berada pada tataran mental dan perseptual, sedangkan penjelasan berada pada bahasa. Bagi Ast sendiri, pemahaman dan penjelasan menjadi subjek hermeneutika. Menurut Ast, fungsi hermeneutika, di samping berurusan dengan pemahaman juga berkaitan dengan penjelasan. Ini berbeda dengan Schleiermacher yang mengatakan bahwa pemahaman itulah sebagai subjek utama dari hermeneutika.

Schleiermacher mengambil manfaat dari pandangan Ast yaitu pemahaman dan penjelasan. Akan tetapi di sini Schleiermacher membuang sisi penjelasan dalam hermeneutika.

Teks dari sisi dimensi bahasa memiliki muatan gramatika ketika teks itu ditafsirkan secara kebahasaan. Sebagai contoh tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsari sekitar lima jilid. Tafsir ini hanya menyoroti dari sisi bahas saja tidak lebih.

Kedua, teks sebagai peninggalan sejarah. Sebagai contoh tafsir tersebut turun sekitar abad tertentu. Secara khusus teks tersebut mengungkapkan pemikiran yang dominan pada diri si penulis maupun pada lingkungan atau zaman yang ada pada saat itu. Sebagai contoh, kitab Asbab al-Nuzul membantu menyampaikan kondisi historis yang ada pada suatu masa tertentu. Seperti ayat tentang “Ghadir”, dapat dicari peristiwa penuruannya lewat Asbab al-Nuzul.

Ketiga dimensi ruh. Bahwa teks tersebut lahir dari seorang manusia. Sebuah teks mengungkapkan ciri-ciri khas manusia tertentu. Misalnya kalau kita merujuk ke al-Qur’an, maka akan kita dapati ayat-ayat yang berkaitan dengan hidayat Allah untuk manusia.

Menurut Ast dari ketiga dimensi itu yang utama adalah ruh. Dimensi bahasa dan sejarah adalah kontributor untuk pengembangan dimensi ruh.

Temporalisasi dan Ruh tanpa Waktu

Sebuah teks kemunculannya memiliki sejarah tertentu dan waktu tertentu. Tentunya teks yang berasal dari zaman tertentu ketika sampai ke zaman kita akan terjadi distansiasi. Pemecahannya, menurut Ast, dapat dirujuk pada waktu tertentu. Seperti koleksium syair Hafidz yang ditulis abad ke-8 M. Untuk memahami teks tersebut, kita bisa menghampirinya lewat sisi non-temporal dari teks tersebut. Sehingga ketika kita membaca teks-teks tersebut, kita dapat meraskan bahwa Hafidz benar-benar sedang membacakan syair-syairnya di hadapan kita.

Di dalam tradisi filsafat Islam ada dua istilah penting yaitu mafhum dan mishdaq (referensi dari konsep). Konsep memiliki banyak referensi. Sebagai contoh, ketika dikatakan “saya sedang memegang pena”, maka konsep tersebut dapat banyak digunakan untuk beragam referensi. Contoh lain ayat yang berkaitan dengan perang uhud. Ayat tersebut tidak hanya khusus pada masa itu saja, karena kita yang hidup pada masa sekarang bisa menarik ruh dari teks tersebut.

Mulai masa Gadamer yang bertahan hanya yang temporal saja, sedangkan yang non-temporal dihapus dari wacana hermeneutika.

Mengapa pada masa Ast sampai Dilthey masih mempertahankan sisi non-temporal? Jawabannya karena mereka masih mempertahankan sisi transendental dari sebuah teks.

Terdapat dua kelompok hermeneut:

  1. Hermeneutika Klasik Modern

Kelompok ini masih mempertahankan sisi temporal dan non-temporal teks.

Tokoh2nya: Ast, Schleiermacher, Dilthey

  1. Hermeneutika Filosofis Modern

Kelompok ini mempertahankan hanya sisi temporal teks.

Tokoh2nya: Heidegger, Gadamer, Derrida

Rekonstruksi Teks

Persoalan lain yang disinggung Ast yaitu persoalan rekonstruksi sebuah teks. Bila diamati pada dasarnya teks adalah manifestasi dari seorang penulis. Ketika kita membaca teks, sebenarnya kita ingin membaca pikiran si penulis secara tidak langsung. Untuk membaca pikirannya kita gunakan teks yang ada di hadapan kita. Karena kita tidak berhubungan langsung, maka mau tidak mau, kita mencipta makna dari teks, bukan menimba makna dari teks. Misalnya ketika kita membaca buku Nihayat al-Hikmah karya Allamah Thabataba’I, namun karena Allamah sudah tiada maka kita membaca teks tersebut dengan cara mencipta makna untuk kemudian kita masukkan ke dalam teks.

Persoalan rekonstruksi ini terkait erat dengan persoalan temporalitas. Meskipun ada jurang lebar antara di pembaca dan si penulis, namun karena ada sisi non-temporal maka hal tersebut dapat di atasi. Untuk Ast, adalah hal mungkin bagi si pembaca agar sampai kepada pemahaman sebagaimana si penulis memahami teksnya.

Permasalahan terakhir yang disinggung Ast adalah perihal kreasi karya seni. Menurut Ast, memahami sebuah teks sama halnya dengan memahami sebuah karya seni. Seni bertumpu pada emosi dan perasaan. Sebagai contoh lukisan, sang pelukis sebenarnya ingin melukiskan apa yang dirasakannya lewat guratan pena dan taburan warna. Bagi orang yang ingin melihatnya, ia ingin ikut larut dengan apa yang dirasakan oleh si pelukis. Contoh lain, ada sebuah riwayat dari Imam Shadiq, bahwa ketika ia membaca al-Qur’an ia merasakan seakan-akan membaca ayat sebagaimana dulu Rasulullah SAW menerimanya pertama kali.

Jadi di sini, membaca sebuah teks sama halnya dennga menyelami perasaan si penulis. Ruh kita menyatu dengan ruh si penulis. Pada saat itu tidak ada jarak antara “aku” yang membaca teks, dengan “dia” sang penulis.

F. Wolf

 

Ada satu persoalan yang disampaikan oleh Wolf yaitu yang berkaitan dengan “keserupaan” antara si penulis dan si pembaca dalam hal intelektual maupun spiritual. Seorang penafsir ketika ingin merekonstruksi makna sebuah teks, ia membutuhkan “keserupaan” dengan si penulis. Misalnya dalam ayat al-Qur’an “La Yamassuhu Illa Muthahharun”, seseorang tidak akan dapat menyentuh al-Qur’an selain memiliki kesamaan yaitu jiwa yang memiliki cahaya sebagaimana Allah sendiri adalah sumber cahaya.

(15 Jul. 07)

Tiga corak pemikiran hermeneutika:

  1. Hermeneutika teks-sentris (Schleiermacher, Dilthey)

–  Lebih cenderung ke teks dan bahasa

– Tujuan memahami si penulis atau si pemilik teks

– Sebuah teks memiliki satu makna tertentu

  1. Hermeneutika eksistensialis (filosofis) (Gadamer, Heidegger)

–          Tujuannya adalah memahami teks itu sendiri lepas dari si penulis

–          Teks memiliki banyak makna

  1. Hermeneutika teks sentris dan eksistensialis (Ricouer)

 

Schleiermacher (1768 – 1834)

Untuk memahami sistem pemikiran Schleiermacher ada lima poin yang mesti diperhatikan.

  1. Bergerak dari hermeneutika khusus ke umum

Pada masa sebelum Schleiermacher setiap tafsiran sesuai dengan jenis teks itu sendiri. Jadi masing-masing teks memiliki kaidah tersendiri untuk ditafsirkan (khusus). Tapi di tangannya hermeneutika berubah dari metode khusus menjadi umum. Jadi teks apapun dapat ditafsirkan menggunakan metode umum tersebut. Contohnya, dalam tradisi Islam terdapat ilmu ‘Ushul al-Fiqh. Dalam ilmu ini kita menemukan kaidah-kaidah umum yang menyangkut hukum, teologi, filsafat dan doa-doa. Ilmu ushul ini menyajikan kaidah umum untuk memahami teks-teks tersebut. Peran Schleiermacher mirip Wahid Bahbahani dalam ilmu Ushul al-Fiqh, hidup sekitar 200 abad yang lalu. Di mana ia mampu meng-up-grade ilmu ushul al-fiqh dari kaidah khusus menjadi kaidah umum.

Dalam sistem filsafat kritis Kant ada pertanyaan mendasar yaitu bagaimana akal manusia dapat mengetahui sesuatu? Dan kaidah-kaidah apa yang berlaku terhadap pengetahuan intelelektual manusia? Kesamaan Schleiermacher dan Kant bahwa keduanya memiliki kesamaan dari pertanyaan tersebut, namun bedanya Kant lebih umum tapi Schleiermacher lebih spesifik hanya menyangkut permasalahan teks.

  1. Emosionalitas dan Intuisi sebagai ganti dari Metafisika

Pada masa sebelumnya filsafat yang berkembang adalah filsafat Hegel. Corak pemikirannya bercirikan “rasionalistik”. Di sini, Schleiermacher meletakkan simpati sebagai medium agar dapat sampai ke si penulis. Dalam wacana filsafat agama modern, Schleiermacher dinobatkan juga sebagai filsuf yang memperkenalkan bahwa untuk membuktikan adanya Tuhan, kita harus dapat merasakannya. Berbeda dengan Hegel yang menyatakan bahwa untuk sampai ke Roh Absolut kita harus menggunakan akal kita. Pandangan ini tentu sangat dekat dengan para filsuf peripatetik. Sementara pandangan Schleiermacher sangat dekat dengan pandangan kaum Sufi yang banyak menekankan intuisi sebagai sarana mengalami kehadiran Tuhan. Pada Hegel kita berurusan dengan konsep-konsep semata, sedang Shleiermacher ingin memperkenalkan “taste” sebagai jalan mendapatkan makna sebuah teks. Pandangan ini mirip dengan “pengalaman mistik” yang diajarkan oleh kalangan irfan.

Tafsir merujuk pada ilmu ushul, sedang ta’wil merujuk ke mistisime, dan hermeneutika mencakup kedua-duanya. Maka tidak tepat jika kita nyatakan bahwa hermeneutika adalah ilmu tafsir, apalagi sebagai ilmu ‘irfan.

Contoh: Dalam Nahj al-Balagah, Imam Ali menyampaikan mengenai sifat-sifat kaum bertaqwa. Seorang bertaqwa ketika ia membacakan ayat-ayat surga, ia seakan-akan merasakan berada di surga, begitu juga ketika membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan neraka. Hamam dikisahkan meninggal dunia ketika mendengarkan kata-kata mutiara dari Imam Ali tersebut. Jadi pemahaman selain bersifat intelektual (‘ilm al-yaqin), juga bersifat intuitif (‘ain al-yaqin) bahkan “haqq al-yaqin”. Inilah model seni memahami yang diajarkan oleh Schleiermacher.

  1. Hermeneutika sebagai seni memahami, bukan seni menjelaskan

Pemahaman yang sesungguhnya yaitu pemahaman yang dapat menyelami emosi sebuah teks. Penjelasan berbanding lurus dengan konsep. Seni memahami (the art of understanding) tidak harus menjelaskan. Sebagai contoh cinta. Untuk memahami cinta diperlukan pengalaman tentang cinta, jadi yang memahami cinta adalah seorang pecinta. Kita bisa saja mendapatkan penjelasan dari para psikolog, penyair atau yang lainnya, tapi tetap saja belum tentu kita memahaminya selama kita belum pernah merasakannya. Contoh lain, Imam Khomaini pernah menyatakan bahwa seseorang yang mengerti tawhid adalah orang yang merasakannya.

Hermeneutika juga adalah seni mendengarkan.

  1. Pemahaman adalah mengalami kembali keadaan-keadaan khas seorang penulis semasa menulis teks.