KESYAHIDAN HUSEIN  DALAM HIKAYAT MELAYU

 Abdul Hadi W. M.

            Kesyahidan Husein dikenal luas di dunia Islam. Kematiannya yang mengenaskan, tubuh bersimbah darah, tangan terpotong dan kepala terpisah dari badan, senantiasa diingat oleh banyak orang Islam. Hari wafatnya yang jatuh pada tanggal 10 Muharam pun selalu diperingati di banyak negeri,  baik yang mayoritas penduduknya Sunni maupun Syiah. Semua itu menunjukkan bahwa tragediKerbelayang terjadi hampir tiga belas abad yang lalu itu memiliki arti tersendiri bagi kaum Muslimin.

Di Indonesia kisah kesyahidan Amir Husein, demikian ia disebut dalam teks Melayu, telah dikenal sejak masa awal pesatnya perkembangan Islam pada abad 13 – 15 M.  Pada masa inilah hikayat sang syuhada mulai dikarang dalam bahasa Melayu. Dua versi paling masyhur yang dijadikan sumber penulisan versi-versi lain pada masa berikutnya ialah yang berjudul  Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah dan Hikayat Hasan Husein. Yang disebut pertama dikarang sekitar abad ke-14 atau 15  M berdasarkan sumberPersia, sedangkan yang belakangan dikarang sekitar abad ke-17 M di Aceh.

Dalam hikayat ini dijelaskan arti penting peringatan 10 Muharam, begitu juga cara pelaksanaannya. Tetapi dalam kenyataan kemudian muncul dua bentuk penyelenggaraan yang berbeda. Yang pertama, peringatan yang lebih bersahaja sebagaimana terdapat di Aceh, pulau Jawa, Madura dan Sulawersi Selatan. Di Aceh peringatan 10 Muharam disebut Hari Asan dan Usin. Di Jawa dan Madura disebut Hari Sura atau Asura. Sehari sebelum 10 Muharam tiba, orang melakukan puasa sunat. Esok harinya penduduk membuat bubur merah yang dibagi-bagikan kepada tetangga atau kerabat. Malam harinya diadakan pengajian, dan tidak jarang pula diadakan majlis pembacaan hikayat kesyahidan Sayidina atau Amir Husein. Penyelenggaraan Hari Sura atau Hari Asan Usin jelas merujuk pada keterangan yang terdapat dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah.

Yang kedua, bentuk penyelenggaraan yang lebih kompleks dan mirip dengan perayaan 10 Muharam di Iran dan India. Bentuk perayaan seperti ini dijumpai di Bengkulu dan Sumatra Barat , dan mulai diadakan sejak akhir abad ke-18 M ketika Inggris menguasai Bengkulu dan bersamanya membawa banyak orang Syiah dari India. Di sini perayaan Asyura dimeriahkan dengan arak-arakan yang meriah, seraya membawa tabut yang aneka ragam bentuknya melambangkan kesyahidan Husein dan pernikahannya yang agung dengan Syahrbanum. Arak-arakan dimeriahkan dengan musik tambur yang gemuruh. Sepuluh hari sebelum perayaan dimulai, diadakan upacara ma` ambil tanah (mengambil tanah) dan pada ketika itulah tabut-tabut mulai dibuat.

Tatacara penyelenggaran Asyura itu merujuk pada teks Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Pembuatan bubur merah misalnya disarankan pada bagian awal hikayat tersebut, yaitu ketika malaikat Jibril menyerukan agar “Pada sepuluh Muharam memberi makan bubur Asyura akan segala yang syahid pada tanah Padang Kerbela.”  Sedangkan anjuran puasa sunat dapat dirujuk pada kata-kata Jibril menjawab pertanyaan arti pentingnya puasa sunat itu dilakukan. Kata Jibril, “yang kasih akan segala isi rumah rasul Allah pada setahun sekali pada sepuluh hari bulan Muharam muwafakat puasa pada ketika Asyura serta akan segala syahid pada anahpadangKarbala syahdan memberi makan bubur Asyura.”  Arti hari Asyura juga dikemukakan pada bagian berikut ini: “,,,hari Asyura artinya menangis engkau akan isi rumah rasul Allah bermula barang siapa yang tulus ikhlas hatinya dan kasih rasanya akan segala anak cucu rasul Allah.”

Semua itu menunjukkan bukan saja populernya kisah kesyahidan Amir Husein, tetapi juga betapa kesyahidannya memiliki makna tersendiri dalam hati penganut agama Islam di Nusantara. Di antara arti penting itu ialah simpati dan solidaritas atas pengurbanan dan perjuangannya melawan penguasa atau rejim yang zalim, sebab penguasa seperti itu sebagaimana diperlihatkan Muawiyah dan putranya Yazid merupakan “Bayang-bayang setan di muka bumi.” Pertanyaan timbul: Daya tarik apa yang menyebabkan hikayat yang semula muncul dalam bahasa Melayu itu kemudian mendapat sambutan luas di kepulauan Nusantara, sehingga selama lebih tiga abad digubah dan dikarang kembali dalam versi agak berlainan dalam bahasa-bahasa Nusantara lain seperti Aceh, Gayo, Minangkabau, Palembang, Jawa, Sunda, Madura, Sasak, Banjar, Bima, Bugis, Makassar, dan lain sebagainya? Kecuali itu apa pula relevansinya sehingga hikayat ini memperoleh tempat istimewa dibanding epos-epos Islam lain seperti Hikayat Amir Hamzah atau Hikayat Iskandar Zulkarnaen?

Untuk menjawab persoalan ini kita perlu melihat berbagai aspek dari kesejarahan teks ini, termasuk latar belakang dan motif penyusunannya sebagai epos (kisah kepahlawanan), dan dalam konteks sejarah yang bagaimana hikayat ini dikarang dalam bentuknya seperti yang kita kenal. Begitu pula dalam konteks sejarah seperti apa teks hikayat disadur ke dalam sastra Melayu dan Nusantara yang lain.

 

Asal Usul Teks

Telah dikemukakan bahwa hikayat perang (epos) berkaitan dengan kesyahidan  Husein telah dikenal lama di Indonesia. Yaitu sejak abad ke13 dan 14 M ketika agama Islam mulai berkembang pesat di kepulauan Melayu. Dalam bahasa Melayu ada dua versi awal yang paling dikenal luas. Pertama versi yang berjudul Hikayat Hasan dan Husein, dan kedua versi yang berjudul Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Sementara dalam sastra Melayu, Jawa dan Madura versi kedua yang paling popular, dalam sastra Aceh versi pertamalah yang poplar. Versi Aceh ini ditulis pada akhir abad ke-17 M dengan membuang bagian yang mengisahkan perjuangan Muhammad Ali Hanafiyah. Di daerah lain, misalnya di Madura, hikayat ini digubah sedemikian rupa dengan menekankan kepada kekejaman dan kejahatan yang dilakukan Yazid bin Muawiyah sehingga judulnya dirubah menjadi Caretana Yazid Calaka (Kisah Yazid Celaka). Pemberian judul yang berbeda-beda itu tentu dilatari motif tertentu sejalan dengan konteks budaya di mana hikayat itu disalin

Teks hikayat ini dalam bentuknya yang dikenal sekarang pada mulanya muncul dalam kesusastraan Persia. Parasarjana berpendapat bahwa hikayat ini pastilah ditulis setidak-tidaknya pada akhir abad ke-12 M atau bahkan awal abad ke-13 M pada zaman pemerintahan Mahmud al-Ghaznawi. Perkiraan ini didasarkan atas kenyataan bahwa pola pengisahan dan gaya sastra yang terdapat dalam hikayat ini banyak memiliki banyak kemiripan dengan yang terdapat dalam Shah-namah, epos Persia terkenal karangan Firdawsi yang usai ditulis pada tahun 1010 M. Deskripsi dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah yang mirip dengan Shah-namah antara lain ialah deskripsi tentang peperangan (Brakel 1975).

Bukti lain ialah adanya petikan sajak Sa’di dalam hikayat ini (bagian II, hal 338-340) dan disebutnyaTabrizsebagaikotapenting diIran. Sa’di adalah penyair yang hidup antara tahun 1213 – 1292 M, jadi mengalami dua zaman pemerintahan yaitu zaman pemerintahan dinasti Ghaznawi dan zaman pemerintahan Ilkhan Mongol. Sajak Sa’di yang dikutip itu sendiri merupakan sindiran terhadap Sultan Mahmud al-Ghaznawi. Di lain halTabrizbaru menjadikotapenting diIranpada zaman pemerintahan  Sultan Ghazan (1295-1304 M) yang menjadikannya sebagai kerajaan Ilkhan Mongol di Persia. Teks Melayu juga menyebut pentingnyakotaSabzavar, padahalkotaini baru menjadikotapenting Syiah pada pertengahan abad ke-14 M.

Persoalan yang sering ditanyakan para peneliti ialah bagaimana teksPersiaini bisa sampai di kepulauan Melayu tidak lama setelah hikayat tersebut rampung penulisannya diPersia. Pertanyaan ini dengan sederhana dapat dijawab. Misalnya dengan merujuk pada catatan perjalanan Ibn Batutah yang berkunjung ke Samudra Pasai pada awal abad ke-14 M. Di ibukota kerajaan Islam pertama di Nusantara itu Ibn Batutah menyaksikan banyaknya cendekiawanPersiasering hadir menemui Sultan Pasai di istananya. Mereka sangat dihormati oleh bangsawan-bangsawan Pasai dan memainkan peranan penting dalam pendidikan. Sudah tentu selain bahasa Arab, bahasaPersiajuga diajarkan di sekolah-sekolah Islam. Melalui mereka pula kesusastraanPersiadiperkenalkan kepada kaum terpelajar Muslim.

Bukti-bukti tekstual juga menguatkan pendapat bahwa sumber-sumber Persiamemainkan peranan penting bagi bangkitnya kesusastraan Islam di Nusantara sampai periode paling akhir. Hikayat-hikayat Melayu Islam yang awal yang meliputi epos, roman, hikayat nabi-nabi dan wali-wali, serta karangan-karangan bercorak tasawuf termasuk puisi, jika bukan merupakan saduran dari hikayat-hikayat (dashtan) Persia, tidak sedikit di antaranya diilhami oleh karangan penulis-penulis Persia. Epos-epos Islam terkenal seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, Hikayat Saiful Lisan, Hikayat Syah Mardan, dan lain sebagainya digubah berdasarkan sumberPersia.

Memang pada mulanya hikayat berkenaan dengan kesyahidan Husein telah muncul dalam kesusastraan berbahasa Arab. Namun sebagai epos yang sempurna dan kompleks, serta bernilai sastra, justru muncul dalam versi berbahasa Persia. Khusus berkenaan dengan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, dasar ceritanya ialah legenda yang hidup di kalangan pengikut sekte Kaisaniya, sebuah sekte dari madzhab Syiah yang berbeda dari sekte-sekte Syiah lain seperti aliranImam Duabelas (Imamiya), Imam Tujuh (Ismailiya), Imam Lima (Zaidiya) dan lain-lain. Sekte-sekte Syiah yang lain berpendirian bahwa hanya keturunan Ali bin Thalib  dan Fatimah saja yang berhak menjabat Imam, maka sekte Kaisaniya menganggap bahwa jabatan imamah berakhir setelah wafatnya Muhammad Ali Hanafiyah. Hanafiyah adalah putra Ali yang ketiga dari istrinya yang berasal dari suku Hanaf  dan yang dinikahi Ali setelah wafatnya Fatimah. Sekte ini dikembangkan oleh Kaisan, pengasuh Hanafiyah yang sangat mengagumi kesalehan tuannya.

Agaknya di antara orang-orang Islam yang banyak pindah ke Indonesia dari Persia pada masa penaklukan tentara Mongol atas Baghdad akhir abad ke-13 M dan abad ke-14 M terdapat tidak sedikit penganut Syiah, bukan saja Syiah Imam Dua Belas tetapi juga Syiah Imam Empat dan Qaisaniyah. Sebagian dari mereka, sebagaimana dipaparkan dalam banyak sumber sejarah, bergabung dengan orang-orang Sunni madzab Syafii di Yaman, yang telah lama menjadikan negeri itu menjadi pusat kegiatan madzab Syafii. Dari tempat inilah kaum muhajirin itu melakukan kegiatan pelayaran ke India dan Indonesia untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Pelabuhan Aden di Yaman memang sangat strategis, dan telah sejak lama dijadikan pelabuhan dagang utama yang  yang menghubungkan benua Eropa dan Afrika dengan negeri-negeri di Samudra Hindia seperti India dan kepulauan Melayu.

Begitulah para sarjana berkesimpulan bahwa orang-orang Kaisani inilah yang membawa dan memperkenalkan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah di kepulauan Melayu. Latar belakang ceritanya ialah sebagai berikut: Setelah Ali bin Thalib dipilih menjadi khalifah yang menggantikan Usman bin Affan yang mati akibat pembunuhan misterius, Muawiya yang merupakan kerabat Usman dan menjabat sebagai gubernur Damaskus menentang keputusan itu. Dia merancang untuk melakukan perlawanan. Peperangan meletus di Shiffin pada tahun 657 M. Ali dan pasukannya hampir memperoleh kemenangan, tetapi Muawiyah menawarkan perdamaian untuk mencegah kekalahan tentaranya. Maka diadakanlah tahkim untuk menentukan apakah Ali atau Muawiya yang berhak memangku jabatan khalifah. Ternyata ini merupakan siasat yang dirancang rapi oleh Muawiya untuk menggulingkan Ali dan kaum Aliyun yang merupakan pesaingnya yang paling kuat. Hakim yang dipilih untuk menentukan siapa yang berhak menjadi khalifah sebagian besar memihak Muawiya.

Kaum Khawarij yang semula memihak Ali, mengutuk keputusan mengadakan tahkim. Mereka merancang akan membunuh Ali dan Muawiya. Pada tahun 659 M dua tahun setelah peristiwa itu kaum Khawarij melaksanakan niatnya membunuh kedua pemimpin itu. Muawiya lolos dari usaha pembunuhan, tetapi Ali tewas dihunus pedang pemimpin Khawarij Abdul Rahman bin Muljam ketika Ali sedang berada di Kufa. Sejak peristiwa berdarah itu Muawiya merasa lega karena tidak lagi yang akan merintangi dirinya menjadi penguasa mutlak kekhalifatan Islam. Tetapi di tempat lain kaum Aliyun mengangkat Hasan sebagai pengganti Ali. Beliau juga akhirnya mati setelah diracun.

Pada tahun 680 M Muawiya meninggal dunia. Putra Muawiya, Yazid yang bertangan besi, diangkat sebagai penggantinya. Husein putra Ali menolak mengakui Yazid. Karena itu dia selalu diintai untuk dihabisi nyawanya. Oleh karena merasa tidak aman berada di Mekkah, Husein hijrah ke Madinah. Tetapi kemudian dia memilih pindah ke Kufa, tempat di mana dia merasa lebih aman dan dapat berkumpul dengan sanak saudara serta para pengikutnya. Keinginannya  bertambah kuat setelah terdengar kabar bahwa saudara-saudara sepupunya dan para pengikutnya akan membaiat beliau sebagai khalifah. Ketika Husein mulai melakukan perjalanan dari Madinah ke Kufa, Yazid mengganti gubernur Kufa dengan tokoh yang lebih setia kepadanya Ubaidillah bin al-Ziyad. Ketika Husein sedang dalam perjalanan menuju Kufa, Ubaidillah berhasil mengintimidasi penduduk Kufa untuk menyerang Husein. Setibanya di Kerbela Husein diserang oleh pasukan Yazid dan orang-orang yang telah dihasut untuk menyingkirkannya. Sebelum gugur, bersama dengan para pengikutnya, Husein dibiarkan lemas karena haus. Pasokan air dari sungai Eufrat sengaja dipotong oleh Ubaidillah untuk menolong rombongan Husein yang sedang kehausan.

Kematian Husein segera didengar oleh adiknya, Muhammad Ali Hanafiyah. Dia adalah  putra Ali yang ketiga dari hasil perkawinan beliau dengan seorang perempuan hanif bernama. Dalam hikayat diceritakan ketika itu menjadi seorang amir di Buniara. Pada malam hari setelah wafatnya Husein, Muhammad Hanafiya bermimpi bertemu Nabi Muhammad s.a.w yang menyuruhnya menuntut bela atas kematian saudaranya Hasan dan Husein. Keesokan harinya Muhammad Hanafiya mengumpulkan semua pengikutnya kemudian melancarkan peperangan yang dahsyat melawan tentara Yazid. Dalam sebuah pertempuran yang menentukan Yazid terbunuh secara mengerikan, yaitu jatuh ke dalam danau yang penuh kobaran api. Setelah itu Muhammad Hanafiya menobatkan putra Husain, Zainal Abidin menjabat sebagai imam. Ketika itu dia mendengar kabar bahwa  tentara musuh sedang berhimpun dalam sebuah gua. Dia pun pergi ke tempat itu untuk memerangi mereka. Ketika dia masuk ke dalam gua, dia mendengar suara ghaib yang memerintahkan agar dia jangan masuk ke dalam gua. Tetapi dia tidak menghiraukan seruan itu. Dia terus saja membunuh musuh-musuhnya yang bersembunyi dalam gua. Tiba-tiba pintu gua tertutup dan dia tidak bisa keluar lagi dari dalamnya.

Episode yang mengisahkan situasi ketika Husein tiba di Kerbela sangat menarik. Inilah petikannya: “… Maka Amir Hussein berjalan daripada suatu pangkalan kepada suatu pangkalan, maka sampailah Amir Hussein kepada suatu tempat. Maka unta dan kuda Amir Hussein merebahkan dirinya, tiada mau lagi berjalan, Maka Amir Hussain menyuruh mendirikan kemah barung-barung. Adapun segala kayu pun yang ditetak akan barung-barung itu sekaliannya berdarah. Maka bertanya Amir Hussein, “Hai taulanku! Apa nama padang ini?” Maka kata segala hulubalang, “Hai junjungan kami! Inilah padang Karbala namanya!”. Maka kata Amir Husaain, “Wah inilah tempat kita mati, karena sabda Rasulullah, “Kematian cucuku Hussein pada tanah padang Karbala!” Maka kata Amir Hussein, “Qalu inna lilLahi wa inna ilayHi raji`una!” Apabila didengar Umar Sa`d Maisum warta Amir Hussein sudahlah ada di padang Karbala berbarung-arung, maka Umar Sa`d Maisum menghampiri sungai Furat, ditebatnya sungai itu, supaya Hussein jangan beroleh air. Setelah sudah ditebatnya sungai ini, maka dikirimkannya surat kepada Yasid, dalam surat itu demikian bunyinya, “Segeralah Yazid memberi bantu akan hamba, karena Amir Hussein sudah adalah di tengah padang Karbala berbarung-barung!” Maka datangnya surat itu kepada Yazid, dengan seketika itu jua disuruhkan Yazid lima puluh ribu hulubalang serta Ubaidillah bin Ziyad dan orang berjalan tujuh puluh ribu, Maka Yazid berkata, “Pergilah kamu ke tebing Sungai Furat, khawani oleh kamu supaya Hussein jangan beroleh air minum, maka kepala hussein pun segera kamu bawa kepadaku! Maka tatkala Amir Hussein berhenti pada padang tanah Karbala, sehari bulan Muharram, maka Ubaidillah bin Ziyad pun menghampiri tebing sungai Furat, dikhawaninya.

Maka segala hulubalang Amir Hussein dahagalah tersiur-siur mencari air sekalah, tiada beroleh air. Demikianlah datanglah kepada delapan hari bulan Muharram, dalam kedahagaan jua kaum Amir Hussein. Pada kesembilan harinya hari bulan Muharram, segala anak Amir Hussein pun datang kepada Amir Hussein, katanya, “Hai bapaku! Maha sangat dahagaku, air liur kami pun keringlah daripada kerungkungan kami, bermula rasa dada kami pun jerihlah. Berilah akan kami air seteguk!” Maka pada bilik Amir Hussein ada suatu kendi kulit belulang berisi air, maka kendi itu pun pesuklah dikorek tikus, air pun habislah terbuang…” (Brakel 1975)

Hikayat ini sebenarnya didasarkan atas peperangan yang dilakukan al-Mukhtar, pemimpin sekte Kaisaniya, melawan Yazid dengan tujuan menuntut bela atas kematian Amir Hussein. Dengan dibantu oleh panglima perangnya Ibrahim al-Asytur dia mengangkat Muhammad Ali Hanafiyah sebagai imam pengganti Hussein. Pada mulanya kisah ini bersifat legenda, namun kemudian dikembangkan menjadin sebuah roman sejarah (Ali Ahmad 1996).

Dari Maqtal ke Hikayat

Melalui paparan yang telah dikemukakan, dapatlah diketahui motif dan latar belakang penulisan hikayat ini. Motif ini bersifat ideologis dan kultural. Namun untuk memahaminya kita harus melihat aspek-aspek menonjol yang membedakan antara versi Melayu dan versi Persia yang merupakan sumbernya. Setidaknya ada enam hal yang penting dicatat bertalian dengan hal tersebut. Pertama, bentuk asli hikayat tentang kesyahidan Husein termasuk ke dalam genre maqtal, yaitu jenis sastra yang khusus memaparkan kesyahidan Imam Ali, Hasan dan Husein. Di dalamnya terpadu unsur elegi dan tragedi. Hikayat seperti ini di Persia biasa dibacakan dengan didramatisasikan pada perayaan 10 Muharam. Versi Melayu mengurangi unsur tragedinya dan merubahnya menjadi roman sejarah dengan unsur epik yang kuat. Versi Jawa, Sunda, dan Madura digubah dalam bentuk tembang macapat (puisi), yang dibacakan dengan lagu khas di majelis-majelis pada malam di hari Asyura.

Kedua, versi Jawa juga lebih menarik lagi. Penuturannya secara estetik disesuaikan dengan pola penuturan epik dan roman sejarah yang telah ada dalam kesusastraan Jawa. Cerita diulang-ulang, misalnya kisah pertemuan dan perpisahan pelaku, mengikuti pola pengisahan siklus Cerita Panji. Di dalam hikayat ini juga dimasukkan tokoh punakawan, pelayan tokoh utama, seperti dalam Cerita Panji, Mahabharata Jawa, dan Serat Menak (Hikayat Amir Hamzah versi Jawa). Pelaku dipisahkan secara tegas ke dalam dua kelompok yang tidak mudah didamaikan, seperti pemisahan antara Pandawa dan Kurawa dalam Mahabharata. Yazid yang celaka berserta pasukannya disamakan dengan Kurawa, sedangkan Muhammad Ali Hanafiyah dengan Pandawa. Seperti dalam Mahabharata di mana medan perang Kurusetra secara simbolik digambarkan sebagai dunia atau jiwa manusia, tempat pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan. Dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiya, peranan padang Kuru diganti padang Kerbela.

Ketiga, seperti Mahabharata hikayat ini mengandung unsur eskatologis yang kuat. Tragedi Kerbela dan tewasnya Yazid di tangan pasukan Muhammad Ali Hanafiyah, secara simbolik digambarkan sebagai peperangan akhir zaman antara pasukan Imam Mahdi dan Dajjal. Situasi menjelang tragedi Kerbela juga dilukiskan seperti situasi akhir zaman di mana kaum Muslimin dikeroyok oleh fitnah dan intrik-intrik jahat yang memicu terjadinya banyak konflik dan tindakan kekerasan. Tewasnya Yazid dan tertelannya Muhammad Ali Hanafiyah dalam gua menandakan datangnya era baru dan zaman penuh pencerahan. Dilihat dalam konteks sejarah penulisan hikayat ini di Persia, hal ini juga beralasan. Pada pertengahan abad ke-14 M penganut Syiah menyongsong era baru setelah lebih satu abad mengalami masa gelap sebagai akibat penguasaan tentara Mongol. Pada akhir abad ke-13 M bangsa Mongol beramai-ramai memeluk agama Islam bersama pemimpin mereka. Mereka berubah menjadi pelindung kebudayaan Islam. Kebebasan menganut madzab apa pun diperbolehkan, suatu kebijakan yang berbeda dengan kebijakan penguasa sebelumnya.

Keempat, teks Melayu memperlihatkan redupnya ideologi Kaisaniya. Jika sebelumnya mereka berpendapat mata rantai imamah berakhir dengan wafatnya Muhammad Ali Hanafiyah, kini pandangan seperti itu tidak bisa dipertahankan lagi di lingkungan masyarakat Melayu yang menganut paham Sunni. Muhammad Ali Hanafiyah terpaksa membaiat putra Husein, Zainal Abidin sebagai penggantinya.

Kelima, versi Melayu merupakan kompilasi sejumlah hikayat yang berbeda jenisnya seperti Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Hikayat Hasan dan Husein, dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah sendiri. Legenda dilebur dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi sejak masa awal kenabian Rasulullah sampai peperangan yang dicetuskan Muhammad Ali Hanafiyah menentang Yazid bin Muawiyah.

Keenam, teks Melayu tidak sepenuhnya pula mengikuti teks Persia dalam memaparkan kejadian-kejadian penting berkenaan dengan keluarga Nabi. Banyak dijumpai tambahan dalam teks Melayu. Juga ditemui penyimpangan atau perubahan  konteks serta makna berkenaan dengan peristiwa-peristiwa yang dituturkan.

Dari enam hal ini, dua hal terakhir yang perlu diberi catatan dan penjelasan, sebab hanya dengan cara demikian kita dapat memahami kreativitas penulis Melayu menjadikan teks Persia menjadi wacana yang sesuai dengan konteks perkembangan Islam di kepulauan Nusantara. Kekhasan teks Melayu hanya bisa diketahui melalui cara membandingkannya dengan teks Persia. Salinan teks Persia yang dijadikan sumber teks Melayu ditemukan naskah salinannya di British Museum (Ms Add 8149). Menurut Rieu (Brakel 1975) naskah itu ditulis dalam huruf Nastaliq di Murshidabad, Bengal, India pada tahun 1721 M. Jadi masih pada zaman pemerintahan Dinasti Mughal, yang hingga awal abad ke-19 M menjadikan bahasa Persia sebagai bahasa utama kaum terpelajar di Indo-Pakistan.

Naskah Bengal terdiri dari bagian. Bagian pertama memaparkan riwayat hidup Amirul Mukminin Hasan dan Husein sejak masa kelahiran hingga wafat mereka. Bagian kedua memapakarkan hikayat Muhammad Ali Hanafiya  sejak kematian Husein saudaranya sampai pembebasan putra Husein yaitu Zainal Abidin dan ditemukannya mayat Yazid dalam sebuah perigi.

Versi Melayu terdiri dari tiga bagian: Bagian pertama berupa pengantar, memaparkan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. sampai masa awal kerasulan beliau. Sebagian dari bagian ini didasarkan atas Hikayat Kejadian Nur Muhammad yang popular di Nusantara. Bagian  kedua terdiri dari tiga episode, yaitu kisah Hasan dan Husein ketika masih kanak-kanak, riwayat hidup tiga khalifah al-rasyidin yaitu Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan beserta karib kerabatnya, kemudian paparan riwayat hidup Ali bin Abi Thalib, dan terakhir kematian Hasan dan gugurnya Husein di padang Kerbela. Bagian ketiga, peperangan yang dicetuskan Muhammad Ali Hanafiyah sampai tewasnya Yazid dan raibnya Muhammad Ali Hanafiyah yang terperangkap dalam sebuah gua.

Versi Melayu juga menambahkan beberapa episode penting seperti Masa awal kerasulan Nabi Muhammad s.a.w., wafatnya Siti Khadijah, pembuangan Marwan, wafatnya Rasulullah, wafatnya Fatimah dan upacara pemakamannya yang bersahaja dan dilakukan secara diam-diam oleh Ali bin Abi Thalib. Versi Persia menceritakan legenda yang berkaitan dengan masa kecil Hasan dan Husein secara panjang lebar, serta ramalan mengenai kematian mereka. Yang sulung akan mati diracun, dan adiknya wafat berlumuran darah di Kerbela. Versi Melayu memaparkan secara ringkas legenda-legenda ini. Tetapi ke dalamnya ditambahkan kisah-kisah yang berkaitan dengan kehidupan ahli bait dan apa yang mereka alami selama mendapatkan intimidasi dari Muawiyah.

Jika kedua versi dibaca dengan seksama, menurut Brakel, tampak bahwa banyak bagian-bagian dalam versi Melayu merupakan terjemahan langsung dari sumber Persia, namun membawa makna yang berlainan. Misalnya pada bagian ketiga, terdapat kalimat dalam teks Melayu: “Maka segala hafiz pun mengaji al-Qur’an dan segala lasykar pun dzikr Allah”. Teks Persianya: “wa hamaye yaran o baradaran dar zekr o fekr dar-amadand”. (Semua saudara dan teman memasuki pekuburan seraya mengingat yang wafat dan memikirkannya). Teks Melayu bernuansa kesufian, tampak dalam memberi makna terhadap kata-kata zikir.

Pada bagian kedua teks Persia yang menyajikan perkataan Syahrbanum kepada Yazid tertulis kalimat: “Xak bar dar dahane to” (Telanlah bumi oleh mulutmu!). Dalam teks Melayu berubah makna, “Tanah itu masukkan ke dalam mulutmu!”.  Ketika Utbah melapor kepada Yazid, kata-katanya dalam teks Persia ditulis: “Man ham az bine mardanegiye isan gerixte amadim” (Kau telah bebas dari rasa takut disebabkan keberanian mereka). Teks Melayu: “Adapun kami dengan gagah berani, maka kami dapat melepas diri kami”.

Sekalipun demikian tak pelak unsur Persia masih dipertahankan dalam teks Melayu. Kata-kata Persia seperti gabayi namadin diterjemahkan menjadi kopiahnya namad merah; kata-kata si gaz gadd dast diterjemahkan menjadi tiga puluh gaz tingginya; kata-kata geysare dirubah menjadi kaisar; Umm-i Kulzum (Arab: Umm al-Kulzum) dimelayukan jadi Ummi Kulzum, dan masih banyak lagi. Bahkan kata-kata Persia seperti Zangi (Negro) tetap tidak dirubah. Perbedaan lain ialah bahwa beberapa lukisan kejadian yang terdapat dalam teks Melayu tidak ada dalam teks Persia (Brakel 1975).

Episode Husein dan pengikutnya yang kehausan setibanya di Kerbela tidak dijumpai teks Persia. Episode ini diambil oleh penulis Melayu dari epos Islam lain yang juga masyhur yaitu Hikayat Iskandar Zulkarnaen. Dalam teks Melayu kaum Aliyun atau Ahli Bait disebut juga sebagai Ahlul Sunnah, sedangkan lawan mereka ialah Khawarij dan Umayyah. Penokohan Muhammad Ali Hanafiyah mirip dengan penokohan Abu Muslim, pahlawan yang memberontak kepada khalifah Baghdat pada masa awal pemerintahan Abbasiyah. Sedangkan deskripsi tentang peperangan dalam hikayat ini banyak yang diilhami oleh deskripsi yang terdapat dalam epos Shahnamah karangan Firdawsi.