Bedakan Sains Modern dengan Penafsirannya

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0405/11/humaniora/1021094.htm

Jakarta, Kompas – Pandangan filosofis terhadap ilmu lebih sering menjadi sumber konflik daripada ilmu itu sendiri. Karena itu, ulama-filsuf Murtadha Muthahhari menekankan pentingnya membedakan antara sains modern dengan panafsiran filosofis atas teori-teori ilmiah tersebut.

Saat sejumlah ulama sibuk mengadaptasi Al Quran dan hadis dengan penemuan sains modern, Muthahhari lebih memperhatikan masalah-masalah fundamental dalam sains yang dapat menimbulkan persilangan pendapat antara para ilmuwan dan ulama. Muthahhari senantiasa mencari asumsi-asumsi filosofis yang tersembunyi dalam berbagai argumen.

Sikap dan pandangan filosofis Muthahhari terhadap sains modern itu dipaparkan Mehdi Golshani, guru besar fisika pada Universitas Sharif, Teheran, Iran, dalam sebuah seminar tentang pemikiran Muthahhari di Jakarta, Sabtu (8/5). Makalah Golshani disampaikan oleh Dr Zainal Abidin Bagir dari Program Studi Agama dan Lintas Budaya Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Dalam pandangan Muthahhari, kesalahpahaman ilmuwan juga berkontribusi besar pada berkembangnya konflik tersebut,” kata Golshani.

Ia kemudian menguraikan beberapa masalah utama yang meningkatkan konflik antara ilmu dan agama, yang pernah dikupas oleh Muthahhari, yaitu argumen keteraturan, teori evolusi Darwin, masalah kehidupan, penciptaan alam semesta, dan prinsip kausalitas.

Seminar mengenang 25 tahun meninggalnya Muthahhari itu diselenggarakan oleh Islamic College for Advanced Studies (ICAS)Jakartadan Universitas Paramadina. Sebagai pembicara, Dr Haidar Bagir (Mizan), Dr Sayyed Mohsen Miri (Rektor ICAS Jakarta), Dr Mulyadi Kartanegara (Program Pascasarjana UGM), Dr Abdul Hadi WM (Universitas Paramadina), dan Dr Alef Theria Wasim (IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Murtadha Muthahhari (1920-1979) dikenal sebagai filsuf yang berhasil mempertemukan Islam tradisional dengan ilmu-ilmu modern, keterbukaan, serta gabungan antara intelektualisme dan aktivisme. Ia banyak memberi kuliah dan menulis tentang berbagai isu keagamaan dan sosial. Muthahhari terbunuh oleh kelompok gerilyawan pada 1 Mei 1979, beberapa saat setelah kemenangan revolusi Islam Iran.(LAM)