Sastra Sufistik Gerakan Penting dalam Kesusastraan Indonesia

Senin, 9 Juni 2008 | 21:33 WIB

JAKARTA, SENIN- Sebuah perkembangan penting dalam kesusastraanIndonesia terjadi pada dasawarsa 1970-an. Tidak hanya sekadar heboh sebagai sebuah wacana konseptual, melainkan diikuti dengan sejumlah karya yang dilandasi kesadaran dan semangat membangun gerakan estetik. Hal itu ditandai dengan lahirnya berbagai karya eksperimental, polemik, dan perdebatan mengenai konsep-konsep kesastraan, serta derasnya semangat melakukan perubahan.

Salah satu konsep yang menonjol ketika itu adalah sastra sufistik yang diusung sastrawan Abdul Hadi WM bersamaDanarto,LeonAgusta, Sutardji Calzoum Bachri, dan sejumlah sastrawan lainnya. Gerakan kembali ke akar, kembali ke sumber menjadikan sastra Islam dan sufisme sebagai sumber ilham dalam bersastra.

Demikian antara lain benang merah diskusi kebudayaan bertajuk Paradigma Abdul Hadi WM dalam KebudayaanIndonesia, di Universitas Paramadina,Jakarta, Senin (9/6). Ahli Kebudayaan Melayu dan Pengamat Sastra dari UniversitasIndonesia, Maman S Mahayana, mengatakan, Abdul Hadi WM dan sejumlah sastrawan lainnya di tahun 1970-an dalam wawasan estetiknya menggali nilai-nilai tradisi masa lalu budaya leluhur.

Menurut Abdul Hadi WM, corak pendekatan dan sikap terhadap tradisi itu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok kecenderungan, yaitu pertama, mereka yang mengambil unsur budaya tradisoional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan. Mereka melihat bahwa dalam tradisi terdapat unsur-unsur dan aspek-aspek yang relevan bagi pandangan hidup manusia mutakhir, khususnya irrasionalisme yang ternyata mendapat perhatian kaum eksistensialis dan penganut aliran sastra absurd.

Kedua, mereka yang mengklaim menumpukan perhatian hanya terhadap satu budaya daerah saja seperti Jawa, Minangkabau, Melayu Riau, Sunda, dan lain-lain. Para penulis kecenderungan ini berkarya dengan maksud memberi corak khas kedaerahan terhadap perkembangan kesusastraanIndonesia.

Ketiga, mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakatIndonesiaterbentuk berkat masuknya beberapa agama besar, seperti Hindu, Buddha, dan Islam.

Menurut Maman, mencermati karya-karya Abdul Hadi WM, ia cenderung menghubungkan diri dengan sumber-sumber agama dan bentuk-bentuk spiritualitas agama. “Munculnya kesadaran baru dan wawasan estetik baru itu menunjukkan adanya perbedaan yang tajam dengan semangat dan wawasan estetik seperti yang terdapat pada karya-karya periode sebelumnya. Abdul Hadi WM mulai menolak realisme formal, dan mulai menerima improvisasi dan antirasionalisme,” paparnya.

Dosen Tetap Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, Sukron Kamil, mengatakan, dalam pandangan Abdul Hadi WM, sastra Islam bukan sekadar dipahami sebagai sastra yang menjadikan Islam sebagai pemecah masalah. Akan tetapi lebih luas dari itu, sastra Islam adalah sastra yang mempromosikan Islam, mengangkat tokoh Islam, mengkritik realitas yang tidak sesuai dengan Islam dan tidak hanya terikat oleh bahasa Arab dan Timur.

Abdul Hadi ketika menanggapi Maman dan Sukron mengatakan, sastra sufistik itu bukan sekadar masalah spiritualitas. Penyebutan agama jangan dikaitkan dengan dogma agama, itu lembaga. Karya sastra yang Islami itu sangat kontekstual sekali dengan masalah politik, ekonomi, dan sebagainya.”Sebelum tahun 1970-an, sastra sebagai tiruan kenyataan. Itu bodoh. Sastra itu penyajian secara simbolik,” tandasnya.

Sastra, Abdul Hadi, dan Fenomena Puisi Sufistik
Bagian terakhir dari tiga tulisan

Ahmadun Yosi Herfanda
Redaktur sastra Republika

Dalam bahasa A Teeuw, karya sastra tidak pernah lahir dari ruang kosong — selalu ada teks-teks lain yang ikut mempengaruhi proses kelahiran dan ikut mewarnai karakternya. Dalam kasus sajak Abdul Hadi tersebut di atas, teks-teks yang mempengaruhinya adalah konsep-konsep tentang tasawuf.

Sederhananya, kemanunggalan (menyatunya) Abdul Hadi dengan Tuhannya adalah kemanunggalan sifat, seperti kemanunggalan api dengan panasnya. Melalui puisi itu, secara tersirat Abdul Hadi ikut meluruskan dan mengkristalkan konsep kemanunggalan mahluk dengan Tuhannya yang dalam mistik Jawa disebut manunggaling kawulo-Gusti dan dalam ilmu tasawuf disebut tasawuf union mistika atau wahdatul wujud. Pada bait terakhir, Abdul Hadi menyediakan diri menjadi nyala, cahaya, penyuluh, penerang jalan, jika lampu Tuhan (agama) padam. Ini juga dapat dibaca sebagai komitmen bersastra Abdul Hadi, seperti tersirat pada sajak-sajaknya yang lain, bahwa bersastra, menulis puisi, adalah bagian dari upaya untuk mencerahkan rohani masyarakat (pembaca).

Puitika sufistik
Sejak dasawarsa 1970-an hingga akhir 1980-an dalam kesastraan Indonesia berkembang fenomena atapun kecenderungan sastra (puitika) sufistik. Tumbuhnya kecenderungan tersebut tidak terlepas dari peran Abdul Hadi WM dalam mengembangkan puitika sufistik, baik melalui sajak-sajaknya maupun esei-eseinya, terutama yang dimuat pada rubrik Dialog Harian Berita Buana.

Jika dirunut, puitika sufistik yang dikembangkan oleh Abdul Hadi WM merupakan mata rantai dari rantai panjang tradisi sastra sufistik yang dapat dirunut sampai ke akar tradisinya di kalangan para penyair sufi Persia, seperti Ibnu Arabi, Hafiz, Jalaluddin Rumi, dan Al-Hallaj. Di Indonesia, mata rantai tradisi sastra sufi dapat dirunut dari Hamzah Fansyuri yang ‘abadi’ dengan Syair Perahu-nya, kemudian Amir Hamzah dengan sajak-sajak romantik-religiusnya, lalu ke masa 1970-an yang ditokohi oleh Abdul Hadi WM dengan sajak-sajak sufistiknya.

Ketika itu, Abdul Hadi memang menjadi redaktur rubrik satra Dialog Harian Berita Buana yang bersama Majalah Sastra Horison dan rubrik-rubrik sastra surat kabar Jakarta lainnya menjadi semacam kiblat perkembangan sastra Indonesia. Pada saat itulah Abdul Hadi WM mengembangkan pengaruhnya pada perkembangan sastraIndonesia, terutama tradisi penulisan puisi.

Cukup banyak penyair, terutama dari generasi 1980-an, seperti Ahmad Nurullah, Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Nor, Achmad Syubbanuddin Alwy, Mathori A. Elwa, dan Soni Farid Maulana, yang ikut memilih puitika sufistik sebagai landasan kreatifnya. Untuk merambah puitika sufistik, seseorang memang tidak harus menjalani tarikat sufi, atau mengikuti mazhab sufi tertentu untuk bisa melahirkan karya sufistik. Menurut Abdul Hadi, kesufian seseorang dalam bersastra justru ditentukan oleh cara berpikir, way of life, gambaran dunia yang hidup dalam batin, serta sistem nilai yang menguasai jiwa yang tertuang ke dalam karya sastra.

Karena sifatnya yang esoterik dan universal, puitika sufistik bahkan dapat melampaui batas-batas agama. Penyair-penyair non-Muslim, seperti Tagore dan Khalil Gibran, menurut Abdul Hadi WM, pun dapat melahirkan sajak-sajak sufisik. Dan, di sinilah garis kes amaan agama (universalitas agama) mendapatkan penegasan.

Puitika Timur
Bersamaan dengan berkembangnya puitika sufistik, pada dasawarsa 1970-an hingga 1980-an, kecenderungan untuk kembali ke puitika Timur juga sedang menguat. Selain tampak pada banyak karya sastra, upaya untuk menggali dan mengembangkan estetika Timur juga banyak dilakukan, sejak melalui penelitian, pengkajian, diskusi, hingga seminar da penerbitan buku. Berbagai rubrik sastra di surat kabar, majalah dan jurnal ilmiah, pun banyak mempublikasikan tulisan seputar pentingnya untuk menggali dan mengembangkan estetika Timur, sebagai budaya tandingan (counter culture), ataupun estetika tandingan (counter aesthetic), terhadap estetika dan budaya Barat yang cukup dominan dalam sastra Indonesia.

Selain Abdul Hadi WM yang mengembangkan serta memasyarakatkan puitika sufistik, dalam menumbuhkan estetika Timur itu, turut berperan pula Kuntowijoyo dengan konsep sastra profetik dan sastra transendennya, Emha Ainun Nadjib dengan konsep estetika kaffah-nya, Danarto dengan cerpen-cerpen Islam kejawennya, Darmanto Jatman dan Linus Suryadi AG dengan estetika Jawanya, serta Wisran Hadi dengan estetika Minangnya. Dapat disebut juga Taufiq Ismail, yang tetap produktif dengan sajak-sajak sosial-religiusnya.

Paradigma
Di tengah kecenderungan estetika Timur yang menguat dalam sastraIndonesia kontemporer sejak 1970-an, puitika sufistik menjadi mainstream yang cukup dominan dengan cukup banyak pengaruh dan pengikut. Di sinilah tampak sosok penting Abdul Hadi WM, bukan sekadar popularitas kepenyairannya, tapi juga paradigma yang dibawa dan dikembangkannya, yakni paradigma sastra sufistik.

Sastra adalah nafas kebudayaan. Dan, Abdul Hadi WM telah ikut menafasi kebudayaanIndonesiadengan puitika sufistik, dan prinsip-prinsip seni yang Islami, untuk ikut mendorong masyarakat ke arah pencerahan sosial dan spiritual. Upayanya itu, bagaimanapun, telah menjadi penyeimbang bagi pengaruh budaya Barat yang hedonis dan sekuler. Karena itu, Abdul Hadi WM, beserta karya-karya dan pemikirannya, adalah paradigma tersendiri dalam kebudayaanIndonesia.