SEMESTA LUKISAN KALIGRAFI

 Oleh Prof. Dr. Abdul Hadi W. M.

 (PMIAI-ICAS- Universitas Paramadina)

             Roger Garaudy, filosof dan ahli estetika menulis dengan penuh apresiatif tentang seni kaligrafi Islam,Rangkaian kaligrafi Islam bagaikan nyanyian seseorang yang melakukan lompatan dari alam rupa yang terbatas ke arah Zat yang tak terhingga. Tulisan Kufi di Masjid Isfahan, Iran, yang digambarkan seolah-olah di atas keheningan atau dalam wujud relief, menjadikan teks ayat  suci seakan-akan tak tampak. Ia mirip dengan jejak yang ditinggalkan oleh sebuah gerak yang datang dari keheningan. Melalui jejak tersebut, penglihatan dan tubuh kita dapat hanyut dan menyatu dengan alam transendental, sebagaimana hanyut dan menyatunya kita dalam sebuah tarian sakral para Sufi serta ekstase kerohanian”. (Lihat  Janji-janji Islam. Terj. H. M. Rasyidi. Jakarta: Bulan Bintang, 1983).

            Kata-kata di atas hanya sebagian kecil dari ungkapan kekaguman pakar estetika Barat terhadap contoh terbaik dari karya kaligrafi Islam. Contoh yang dikemukakan pula ialah rangkaian ayat al-Qur`an yang ditulis dalam huruf Kufi Timur ornamental, yang memang merupakan cikal bakal seni kaligrafi Islam. Roger Garaudy dengan tepatnya melihat, bahwa, sebagaimana di dalam seni Islam yang lain, yang hendak diungkapkan dalam seni kaligrafi ialah bahwa  antara yang profan dan yang sakral, kenyataan inderawi dan kenyataan rohaniah, serta antara yang sosial dan yang transendental tidak ada pemisah yang tegas. Sebagaimana kehidupan jasmani dan kehidupan rohani dalam diri seseorang, kedua dimensi kehidupan tersebut menyatu serta saling mempengaruhi.

            Menurut Garaudy pula, semua ungkapan estetik Islam dilahirkan sebagai puji-pujian yang simbolik dan ekspresif. Seni Islam tidak dimaksudkan sebagai tiruan (mimesis) atas kenyataan objektif di alam inderawi. Atau sebagaimana dikatakan Titus Burckhard, seni Islam yang sejati selalu cenderung kontemplatif atau sufistik, sebab seluruh unsur estetik yang dihadirkan bermaksud membawa penikmatnya menuju Yang Hakiki, yakni Yang Satu dan Transenden (tanzih). Seni Islam jarang sekali terjerat oleh perangkap dunia fenomenal.

            Atau sebagaimana dikatakan F. Schuon, “Seni Islam itu bersifat abstrak, sekaligus puitik…(ia) memadukan kemeriahan alam tumbuh-tumbuhan dengan kekuatan abstrak dan murni dari kaca kristal.”

Lukisan Kaligrafi

            Wawasan estetik di atas cukup lama dilupakan oleh banyak seniman Muslim. Baru pada pertengahan abad ke-20 ini saja wawasan tersebut diingat kembali dan disadari relevansinya. Pertemuan pelukis-pelukis Muslim dengan aliran lukisan abstrak, yang mendapat penerimaan luas di Amerika dan Eropah setelah Perang Dunia II, merupakan awal terbukanya mata seniman Muslim terhadap relevansi wawasan estetik yang berkembang dalam tradisi seni Islam klasik.

            Munculnya lukisan kaligrafi di beberapa negeri Islam, khususnya yang tradisi seni rupanya kaya seperti Iraq, Iran dan Mesir, merupakan tanda awal munculnya tradisi kreatif baru dalam kehidupan seni rupa di negeri-negeri tersebut. Yaitu tradisi kreatif yang mampu memadukan modernitas dan tradisi, rasionalitas dan spiritualitas. Hasilnya sangat menakjubkan dan beragam. Doktrin sebelumnya bahwa obyek-obyek estetik karya seni semestinya merupakan representasi dari atau tiruan (mimesis) atas kenyataan atau obyek-obyek inderawi, kini ditolak. Yang mulai berlaku dalam gelombang baru itu ialah bagaimana menghasikan karya seni dengan obyek estetik yang murni berasal dari jiwa, imaginasi atau intuisi seniman.

            Seni lukis kaligrafi, sebagaimana seni lukis abstrak, memenuhi cita rasa baru sejumlah seniman Muslim. Di samping itu kemunculan seni lukis kaligrafi memperlihatkan bahwa tidak selamanya seniman Muslim harus bertahan sebagai pengekor seniman Barat.

            Lukisan kaligrafi modern mula-mula muncul di Iraq dan Iran pada tahun 1950an, dan kemudian berkembang pula di negeri Islam lain. Di antara pelopor dan pendekar lukisan kaligrafi modern ialah Shakir Hasan (Iraq), Hossein Zenderoudi (Iran), Quraishi (Palestina), Kamal Boulatta (Aljazair), M. Omar dan Mehdi Qotbi (Tunisia).

            Di Indonesia lukisan kaligrafi mulai muncul pada akhir 1960an, dan kian luas mendapat sambutan pada akhir 1970an. Pelukis-pelukis yang dapat dipandang sebagai pelopor ialah Ahmad Sadali, A. D. Pirous, Amang Rahman dan Amri Yahya.  Beberapa pelukis lebih muda juga ambil bagian dan segera menonjol sebagai pelukis kaligrafi terkemuka. Di antaranya Syaiful Adnan, Hatta Hambali, Hendra Buana dan masih banyak lagi yang lain. Pada akhir 1980an, sebagaimana terlihat pada Pameran Kaligrafi Islam menyambut Musabaqah Tilawatil Qur`an (MTQ) ke-16 di Yogya, muncul pula lukisan kaligrafi tiga dimensi yang dipelopori oleh Abay Subarna.

            Mengenai latar belakang utama munculnya lukisan kaligrafi modern di Iraq dan negara Arab yang lain, Jabra Ibrahim Jabra menulis dalam bukunya A Celebration of Life (Baghdad: Dar al-Ma`mun,1988): “Lukisan kaligrafi modern Islam muncul pertama kali pada pertengahan 1950an pada saat pelukis-pelukis Arab yang terdidik secara Barat merasakan konflik Timur Barat dalam diri mereka. Konflik ini sangat mengganggu kreativitas mereka.”

            Konflik tersebut terutama sekali timbul karena, walaupun mereka mengagumi kebudayaan Barat dan tidak dapat mengelak dari pengaruhnya, namun mereka tidak ingin kebudayaan Barat menghancurkan kepribadian dan jatidiri mereka sebagai seniman Timur yang terlanjur karib dengan berbagai bentuk spiritualitas Timur. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa  lukisan kaligrafi merupakan salah satu dari hasil dari ketegangan kreatif Timur Barat. Ketegangan tersebut tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial, politik, moral dan pandangan hidup, tetapi juga di lapangan seni dan kesusastraan, khususnya ketegangan dan konflik sebagaimana dialami seniman tertentu.

            Jabra Ibrahim Jabra lebih jauh menyatakan bahwa salah satu alasan lahirnya lukisan kaligrafi modern di negeri Arab ialah hubungan ‘cinta-benci’ Timur dengan Barat yang berlangsung lama. Dunia modern, yang identik dengan kebudayaan Barat, menimbulkan goncangan hebat pada banyak seniman Asia yang terdidik secara Barat. Rasa kagum pada dinamika perkembangan seni modern di Barat dan hasil-hasilnya yang luar biasa, sering harus bentrok dengan kecintaan mereka terhadap khazanah budaya dan seni Asia yang tidak kalah kaya dan menakjubkan. Bahkan tidak jarang memberikan inspirasi yang begitu didambakan untuk melahirkan pembaharuan yang bermakna.

            Kita memaklumi bahwa seni kaligrafi memiliki tempat istimewa dalam sejarah kebudayaan Islam. Seni kaligrafi berbeda dengan seni hias tetumbuhan (arabesque) dan lukisan geometri, yang juga sangat digemari oleh seniman-seniman Muslim sebagai sarana pengucapan estetik. Dua bentuk seni yang disebutkan terakhir ini tidaklah berkaitan langsung dengan penyebaran kitab suci al-Qur`an. Kaligrafi, baik sebagai ungkapan estetik atau bukan, muncul pertama kali untuk mengabadikan ayat-ayat al-Qur`an dalam teks tertulis. Karena itu tidak mengherankan apabila kaligrafilah yang paling jelas ciri Islamnya.

            Akan tetapi berbeda dengan di masa lalu, di tangan seniman modern seni kaligrafi terutama tumbuh sebagai bentuk ekspresi yang personal. Karena itu metode atau tehnik mengolah dan menggarap kaligrafi yang dihadirkan juga berbeda, lebih berciri personal dan tidak menaati kaedah yang lazim. Walaupun demikian tujuannya sama, yaitu menyajikan semangat estetik bercorak religius dan sufistik.

Ibn `Arabi dan Kaligrafi

            Bagi seniman kaligrafi di masa lalu ayat suci atau teks itu sendiri telah cukup mampu mewujudkan keindahan estetis, yakni apabila dilandasi kemahiran khusus atau penguasaan atas teknik seni khat (tulisan indah).  Seniman Muslim modern menempuh jalan lain yang sering menimbulkan tanda tanya pencinta dan penyanjung kaligrafi tradisional. Dalam lukisan kaligrafi modern tidak jarang tulisan dipadu secara artistik dengan beberapa motif atau gambar abstrak Tujuannya, menurut Jabra Ibrahim Jabra, ialah untuk menambah suasana personal dan mencapai bentuk yang mencerminkan kebebasan kreatif si seniman.

            Ambillah contoh karya Shakir Hasan. Pelukis Iraq terkemuka ini mulai dengan mengembangkan lukisan ikonografis yang purbani (archaic) dan bercorak naif. Dengan cara demikian dia memberikan suasana mistis atau sufistik terhadap lukisannya. Huruf-huruf Arab dibebaskan dari gayanya yang baku. Hal serupa kita jumpai pada beberapa lukisan A. D. Pirous. Hanya saja lukisan A. D. Pirous lebih cerah, sedangkan lukisan Shakir Hasan cenderung kelam dan berat.

            Untuk menopang gerakan seni lukisnya Shakir Hasan mengulangi kata-kata Sufi Filosof abad ke-12 dari Andalusia, Ibn `Arabi , “Citraan paling indah ialah citraan yang tidak memiliki bentuk terbatas”. Dalam upaya membuktikan ketepatan pernyataan Ibn `Arabi tersebut, Shakir Hasan menciptakan sebuah lukisan kaligrafi dengan latar belakang sebuah tembok tua penuh lumutan dan retakan, dan huruf disatukan dengannya. Pada satu sisi karyanya mampu menampilkan misteri dan suasana transendental, dan pada sisi lain mampu menggambarkan keadaan jiwa yang diliputi penglihatan mistis.

            Dalam perkembangan lebih lanjut di Iraq muncul aliran Hurufiyyun. Pelukis-pelukis aliran ini cukup meletakkan atau mencoretkan satu kata, seperti kata Allah. Malahan tidak jarang mereka hanya melukiskan satu huruf atau deretan huruf seperti Alif Lam Mim. Melalui kekuatan coretannya lukisan kaum Hurufiyyun ini mampu membawa penikmatnya merasakan getaran keindahan alam gaib, yang sebelum ditransformasikan dalam karya seni, tersembunyi dalam penglihatan hati pelukisnya. Di tangan mereka seni berhasil menjadi semacam permainan yang menyebabkan pencerahan dan kegembiraan spiritual.

            Di Iran, Hossein Zenderoudi dikenal sebagai pelukis kaligrafi yang kuat. Keistimewaan lukisan kaligrafinya, sebagaimana dikemukakan Abdelkebir Khatibi dan Mohammed Sijelmassi dalam buku The Splendour of Islamic Calligraphy (London: Thames & Hudon Ltd. 1996), ialah kemampuannya membangun rangkaian komposisi yang anekaragam dari huruf tunggal. Kadang-kadang ia melahirkan rangkaian ganda labirin yang didasarkan atas huruf-huruf yang terdapat dalam sebuah frase, kemudian menaikkan alunan huruf tersebut ke titik jenuh dan ledak yang mengagumkan.

            Zenderoudi juga lihai, dalam melahirkan karya yang meditatif atau kontemplatif, membebaskan huruf dari bentuk aslinya, kemudian  hanya memusatkan pada gerak dan esensinya.  Dia berprinsip bahwa di belakang gerak itu ada suatu kekuatan hidup yang sangat mempengaruhi kehidupan kita, yaitu ritme. Ritme inilah yang sering ditonjolkan dalam lukisan kaligrafinya. Huruf kadang dihadirkan secara beragam, dengan cara berbeda-beda. Ada yang horisontal, vertikal, miring, terbalik atau mencuat ke atas. Melalui cara demikian dia menjadikan rangkaian huruf itu seakan-akan berlari menembus ruang.

            Patut diketahui bahwa Zenderoudi belajar kepada dan dipengaruhi oleh pelukis dan Sufi terkenal, Nur Ali Elahi (wafat 1974). Dari Nur Ali Elahi dia menggali gagasan dan wawasan estetik lukisannya.

            Pelukis Tunisia Qotbi juga mendasarkan karya kaligrafinya pada keserbamungkinan huruf tunggal dengan bunyinya. Dengan cara mendekonstruksi huruf itu dan juga pengulangan, sebagaimana dalam praktek zikir, Qotbi berusaha menstransormasikan lukisan ke dalam image. Pelukis Palestina Quraishi menggabungkan kaligrafi Arab dan Cina. Hasilnya ialah lukisan yang non-pictorial, melainkan sajian image yang ikonografis.

            Semua itu jelas sejalan dengan semangat ikonoklastis seni Islam, walaupun semangat seperti itu tidak menolak kehadiran lukisan figuratif atau semi realis dalam lingkungan kebudayaan Islam.

Abastrak Barat dan Islam

            Hendaklah dibedakan antara semangat abstrak lukisan Barat dan tradisi Islam. Di Barat lukisan abstrak lahir dari penolakan terhadap salah satu dari jenjang atau lapisan realitas, yaitu realitas kasat mata atau penampakan obyek-obyek di alam syahadah. Penolakan ini merupakan penentangan terhadap pandangan yang dominan dalam kebudayaan modern bahwa realitas kasat mata merupakan realitas paling utama.Tradisi seni lukis realis dan naturalis lahir dari pandangan semacam ini, di samping dari kepercayaan terhadap doktrin bahwa seni merupakan tiruan (mimesis) atau representasi (perupaan kembali) atas realitas.

            Kebalikan dari pelukis realis, pelukis abstrak ingin mengangkat jenjang kenyataan lain yang tersembunyi dalam jiwa (baca pikiran atau imaginasi) manusia. Sikap semacam ini bertolak dari pandangan individualistis. Dalam konteks estetika Barat, seorang pelukis abstrak ialah dia yang dalam berksenian sepenuhnya melepaskan diri dari kungkungan kebudayaan masyarakatnya.

            Latar belakang kesenangan pelukis Muslim terhadap abstraksi berbeda, malahan berlawanan. Mereka terutama terdorong untuk menjadikan realitas tertinggi kehidupan, yaitu kenyataan yang trasenden atau kehidupan spiritual, sebagai tujuan penciptaan. Kenyataan alam transenden tidak terbatas dan tidak mengenal bentuk terbatas. Namun melalui abstraksi dan imaginasi seorang pelukis dapat diungkapkan keberadaannya. Melalui bentuk-bentuk estetis tertentu seorang pelukis dapat membawa penikmatnya menghayati keberadaan realitas tertinggi beserta ciri-cirinya. Di sini dapat dikatakan bahwa pelukis Muslim berangkat dari sikap yang meyakini bahwa yang bersifat kerohanian lebih penting dari sesuatu yang bersifat material.

            Cara para pelukis Muslim merupakan pembalikan terhadap gagasan yang berlaku dalam kepercayaan realisme dan naturalisme. Bagi mereka realitas yang kasat mata hanyalah pancaran dan perwujudan dari kenyataan alam transenden. Sikap yang benar dalam berksenian, dalam pandangan mereka, bukan mimesis, bukan semata-mata bertolak dari bentuk lahir kenyataan. Berksenian yang baik ialah bertolak dari yang paling hakiki dari berkesenian itu sendiri — yaitu mengekspresikan diri, artinya diri sebagai mahluk spiritual. Esensi seni lukis ialah titik dan garis, melalui yang esensi inilah seorang pelukis mengekspresikkan dirinya.

            Sikap semacam itu terkait dengan hakekat ajaran Tauhid. Perasaan yang berkaitan dengan Tauhid adalah perasaan yang sukar diekspresikan terkecuali melalui bentuk-bentuk dan suasana estetis yang mampu membawa penikmat lukisan ke dalam perasaan akan tatanan harmonis kehidupan yang bersifat transendental dan metafisik. Pilihan utama pada kaligrafi timbul untuk melaksanakan sikap dan gagasan seperti itu. Kecuali itu pilihan pada kaligrafi dapat dilihat dari keinginan untuk memandang manusia sebagai khalifah Tuhan dan hamba-Nya di muka bumi. Martabat manusia sebagai khalifah Tuhan dan hamba-Nya di muka bumi tidak ditentukan oleh pengamatan inderanya yang tajam dan juga tidak oleh ketrampilannya memindahkan obyek-obyek di alam syahadah ke dalam kanvas. Martabat manusia ditentukan oleh kekuatan spiritual dan jiwanya, yaitu pikiran, imaginasi dan penglihatan batinnya.

            Kaligrafi bukan tiruan atau representasi dari obyek-obyek yang ada di alam syahadah. Kaligrafi sepenuhnya ciptaan pikiran dan imaginasi manusia sebagai homo intelectus. Berdasar pandangan inilah maka kaligrafi dipilih menjadi simbol utama seni Islam. Di samping itu kaligrafi berhubungan langsung dengan ikhtiar penyebaran kitab suci al-Qur`an yang diwahyukan dalam bahasa Arab.

            “Dasar kaligrafi ialah keindahan bentuk yang tak berkaitan dengan peniruan obyek apa pun, “ demikian Qureshi. “Jadi ia sepenuhnya ciptaan manusia dengan ikhtiar akal budinya.” Seorang penyair Sufi berkata:

            Aku pelukis

            Setiap saat kucipta bentuk-bentuk indah

            Namun apabila Kau datang

            Kuhancurkan dan kulebur semua yang kucipta itu

            Tanpa sisa sedikit pun

            Kuseru ratusan bayang-bayang

            Kuhembuskan roh ke dalam jisim mereka

            Namun apabila kulihat bayang-bayang-Mu

            Kulempar semua ke dalam kobaran api

 

            Sajak di atas mengandung isyarat bahwa sikap ikonoklastis seniman Muslim sepenuhnya didasarkan atas Tauhid, yaitu kesaksian akan mutlaknya Yang Satu.